Temukan Potensi Anak dengan Test Psikologi

BELAJAR
Para siswa TK Bruder Melati ini belajar dengan giat di bawah bimbingan guru. Ke depan pendidikan tak hanya mengandalkan cara-cara konvensional, test psikologi menjadi salah satu solusi agar ditemukan potensi diri maupun kekurangan yang terdapat pada anak. FOTO: Stefanus Akim/Borneo Tribune.



Oleh: Stefanus Akim

Untuk mendapatkan gambaran psikologi terhadap anak didiknya, TK Bruder Melati Pontianak akan menggelar test psikologi. Kegiatan yang terselenggara atas kerja sama pihak sekolah, Drs Sutrisno MYR dari Grahita Indonesia Kalbar dan para orang tua siswa. Kegiatan tersebut rencananya akan digelar, Rabu (7/11) di ruang kelas.

Sebelumnya, Sabtu (3/11) Kepala Sekolah, Theresia Dakan bersama Drs Sutrisno MYR mengadakan sosialisasi kepada orang tua siswa. ”Pentingnya dilakukan test psikologi untuk menemukan potensi maupun kekurangan pada anak didik. Sehingga saat proses belajar-mengajar atau di rumah guru dan orang tua dapat menerapkannya,” kata Sutrisno kepada puluhan orang tua siswa yang mendengarkan penjelasannya di Kelas 3A, lantai 2 TK Bruder Melati.

Menurut psikologi yang bernaung di bawah Grahita Indonesia Kalbar ini, anak sama seperti orang dewasa. Mereka juga memiliki beban atau penderitaan. Untuk mengetahui penderitaan apa sehingga membuat yang bersangkutan stress maka mesti dilakukan test psikologi itu tadi.

Jika stress yang merupakan penderitaan bagi anak dibiarkan, maka ini akan berpengaruh dengan prestasi anak di sekolah. Lambat laun prestasinya akan menurun.

Dengan test ini juga diharapkan kelebihan dan kekurangan anak bisa diketahui. Jika ada kekurangan, maka mesti dilakukan terapi atau stimulan secara terus menerus. Sehingga lambat laun kelemahan itu bisa diperbaiki. “Dari kelemahan-kelemahan yang awalnya kecil itu, jika kita biarkan dan tumbuh terus maka akan berakibat fatal di masa datang,” ungkap Sutrisno.

Bukan rahasia umum jika banyak orang yang secara intelektual pintar, namun emosionalnya tidak. Akibatnya, ia akan jatuh. Banyak yang memiliki bakat, namun moralnya merosot. ”Misalnya sejumlah bupati atau pejabat yang berurusan dengan hukum, mereka orang pintar namun lemah di moral atau emosional. Akibatnya jatuh juga,” Sutrisno mencontohkan.

Sementara itu Theresia Dakan, menyambut baik upaya tersebut. Pihak sekolah akan mencoba memfasilitasi sehingga bisa digelar dan bermanfaat bagi anak didik. “Apa pun yang baik untuk perkembangan anak didik dan sekolah tentu saja kita akan dukung. Harapan kita tentu saja ini akan bermanfaat bagi anak didik kita,” ujarnya.□

*Edisi Cetak Borneo Tribune 5 November 2007

Sunday, November 4, 2007 |

0 komentar:

Kategori

Total Pageviews