Dunia Berduka Atas Matinya Demokrasi di Myanmar



TERTEMBAK
Wartawan APF Kenji Nagai terbaring di jalan setelah terkena peluru yang ditembakkan polisi dan anggota militer pada pengunjuk rasa di Yangon, Myanmar, Kamis (27/9). Nagai (50), seorang fotografer Jepang, tertembak saat tentara menggunakan senjatanya untuk membubarkan massa. Nagai kemudian tewas. FOTO ANTARA-REUTERS/stringer/ox/07.

"In support of our incredibly brave friends in Burma: May all people around the world wear a red shirt on Friday, September 28. Please forward!"

KITA semua tersentak saat menyaksikan Junta Militer di Myanmar membubarkan massa dengan kekerasan. Sembilan orang dikabarkan tewas karena tembakan membabibuta tentara dan polisi, satu diantaranya wartawan Asian Press Front (APF) asal Jepang, Kenji Nagai (50), 200 orang biksu ditangkap dan masih banyak lagi yang ditahan dan dianiaya.

Bermacam bentuk aksi solidaritas diluapkan masyarakat, kelompok profesi hingga pejabat. Di Bandung misalnya wartawan menggelar unjuk rasa. Di Jakarta Departemen Luar Negeri memasang atribut berwarna merah serta mengheningkan cipta atas peristiwa biadab ini.

Sejumlah negara mengutuk dan meminta agar Myanmar menahan diri dalam menghadapi unjuk rasa dari kelompok pro demokrasi. Di Jepang juga dikabarkan terjadi protes atas peristiwa tersebut. Para Menteri Luar Negara ASEAN, Uni Eropa, Amerika dan negara-negara lainnya turut mengecam peristiwa ini.

Saya sendiri menerima SMS dari Fubertus Ipur yang mengimbau agar menggunakan atribut, syal atau ikat kepala warna merah sebagai tanda turut mengecam tindakan represif Junta Militer di Myanmar. "In support of our incredibly brave friens in Burma: May all peoplearaound the world wear a red shirt on Friday, September 28. Pleaseforward!". Ipur yang juga salah seorang tokoh NGO di Kalbar ini juga gencar mengirimkan SMS kepada beberapa teman dan aktivis serta wartawan.

Di dalam negeri, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid meminta Indonesia bersikap tegas terhadap Myanmar. Sanksi tegas patut dijatuhkan terhadap penguasa Myanmar yaitu Junta Militer yang telah melakukan tindakan represif terhadap para pendemo pro demokrasi yang terdiri dari para warga sipil dan biksu.
RI harusnya segera mendesak digelarnya sidang Luar Biasa ASEAN untuk menjatuhkan sanksi yang keras terhadap Junta Militer Myanmar.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan, apa yang terjadi di Myanmar merupakan masalah internal mereka. Tetapi RI minta supaya hal itu diselesaikan dengan sebaik-baiknya

Jika kita aktif mengakses informasi, keprihatinan juga muncul dari tokoh-tokoh dunia. Sekjen PBB Ban Ki Moon misalnya, mengimbau penguasa negara yang dulunya dikenal sebagai Burma itu untuk menahan diri.

Sekjen PBB membuat keputusan untuk mengirimkan utusan khusus, Ibrahim Gambari ke Myanmar. Sementara Menlu Myanmar, Nyan Win berjanji akan menjaga keamanan Ibrahim bahkan sebuah visa akan dikeluarkan di Singapura untuk Gambari.

Sementara itu Thailand berniat mengungsikan warga Asia tenggara dari Myanmar. Thailand telah menyiapkan empat pesawat angkut C-130 untuk mengungsikan warga negara Thai di Myanmar.

***
Pembubaran masa secara represif itu berawal dari demonstrasi damai yang dilakukan lebih dari 10 ribu pengunjuk rasa di Yangon. Demonstrasi yang dimotori para biksu itu karena kenaikan BBM yang melambung dan membuat masyarakat tak mampu membeli bahkan untuk naik bus berangkat bekerja.

Pasukan keamanan melepaskan tembakan peringatan, tongkat dan popor senjata untuk melawan pengunjuk rasa.

Kita tentu saja prihatin dengan perkembangan terakhir yang terjadi di Myanmar. Termasuk tekanan terhadap kebebasan media massa di negeri itu serta perlakuan terhadap para jurnalis.

Kita sepakat bahwa semua pihak memiliki hak untuk mengekspresikan dan menyampaikan opininya. Termasuk mempertahankan pendapat melalui media massa tanpa intervensi dari pihak manapun.

Di sisi lain penguasa Myanmar hari Jumat memperluas jam malam di daerah rusuh Yangon utara.

Singapura menyerukan agar penguasa negara itu mengekang diri dalam menghadapi pengunjukrasa dan meminta jasa penengah Perserikatan Bangsa-Bangsa. Singapura adalah salah satu pemodal asing terbesar di Myanmar

Presiden AS George W. Bush, dalam pidato di Sidang Majelis Umum, menyerukan semua negara agar "membantu rakyat Burma memperoleh kembali kebebasan mereka" dan mengumumkan sanksi baru atas para jenderal, keluarga dan pendukung mereka.

Uni Eropa menyatakan perhimpunan itu akan "memberlakukan kembali dan memperkuat" sanksi terhadap para penguasa Myanmar kalau demonstrasi tersebut dipadamkan dengan penggunaan kekuatan. Kita tahu bahwa Uni Eropa memiliki 27 anggota.

Lee Hsien Loong, Perdana Menteri Singapura akan menyurati Jenderal Senior Than Shwe di Myanmar. Ia telah melakukan pembicaraan dengan mitranya dari ASEAN.

Tewasnya Kenji Nagai barangkali bukan hal yang sangat luar biasa. Mengingat hal itu adalah bagian dari resiko terberat dari profesi seorang jurnalis di daerah konflik. Namun yang menjadi persoalan sesungguhnya adalah, dengan kejadian itu Myanmar mengunci diri terhadap informasi yang akan keluar. Myanmar berkeinginan untuk menutup mata dan telinga para jurnalis agar diliputi rasa takut dalam menjalankan profesinya. Kejadian ini adalah sebuah tragedi luar biasa di era demokrasi yang didengung-dengungkan hampir di semua belahan dunia.

***

Myanmar yang juga dikenal dengan Burma adalah sebuah negara di Asia Tenggara. Negara seluas 680 km² ini telah diperintah oleh pemerintahan militer sejak kudeta tahun 1988. Negara ini adalah negara berkembang dan memiliki populasi sekitar 43 juta jiwa. Ibu kota negara ini sebelumnya terletak di Yangon sebelum dipindahkan oleh pemerintahan junta militer ke Pyinmana pada tanggal 7 November 2005.

Junta militer biasanya merujuk ke suatu bentuk pemerintahan diktator militer, khususnya di Amerika Latin. Dalam bahasa Spanyol, junta sendiri berarti "(rapat) bersama", dan biasanya digunakan untuk berbagai kumpulan yang bersifat kolegial (hubungan kerekanan).

Junta militer biasanya dipimpin oleh seorang perwira militer yang berpangkat tinggi. Pemerintahan ini biasanya hanya dikuasai oleh satu orang perwira yang mengendalikan hampir segala-galanya. Bentuk-bentuk junta militer yang terkenal adalah pemerintahan Augusto Pinochet di Chili dan Proceso de Reorganización Nacional, diktator militer yang terkenal karena kekejamannya di Argentina dari 1976 hingga 1983. Junta Militer di Burma dipimpin Jenderal Senior Than Shwe.

Tercatat ada beberapa negara dalam kekuasaan militer hingga saat ini. diantaranya: Libya, Myanmar (Burma), Pakistan, Sudan dan Thailand.

Sementara negara-negara dengan sejarah pemerintahan militer cukup banyak termasuk Indonesia.

***

Tragedi ini mengingatkan kita akan peristiwa tahun 1997-1998 di Indonesia. Penguasa saat itu, Jenderal Soeharto juga sangat represif terhadap pengunjuk rasa. Namun akhirnya ia jatuh di tangan mahasiswa yang mendesak Soeharto melepaskan jabatannya setelah 32 tahun berkuasa.

Kita turut berduka atas matinya demokrasi di Myanmar yang ditandai dengan matinya Kenji Nagai dan delapan orang warga sipil. Syal merah, kutukan dan mengheningkan cipta serta sebait doa rasanya layak kita lakukan. Selamat jalan Kenji Nagai, sebagai sesama jurnalis saya tentu saja turut berduka atas tragedi ini. Satu prinsip yang tak boleh turut mati, bahwa kebebasan pers tak boleh ikut mati.*

[ read the rest of this entry » ]

Saturday, September 29, 2007 |

Pasang Iklan

Setelah sekian lama mempertimbangkan secara matang, saya akhirnya mengambil keputusan untuk memasang iklan di blog ini.

Awalnya saya khawatir jika dipasang iklan maka tampilannya akan jelek. Sebab ukurannya yang tak sesuai, terlalu melar atau kepanjangan atau bahkan warnanya yang saling bertabrakan. Namun setelah dibongkar pasang saya melihat cukup apik dan ada beberapa pilihan iklan yang cocok untuk dipasang.

Saya tak ingin mereka yang mengunjungi blog ini terganggu karena tampilan yang amburadul atau terlalu banyak pernak-pernik yang tak berguna serta mengganggu pandangan. Saya sengaja memilih template yang sederhana namun tetap apik dan asik untuk dilihat.

Pilihan iklan pertama yang saya pasang adalah Google AdSense. Kemudian jaringan Virtual Vending (V2).

Pilihan ini bukan tanpa alasan. Google AdSense, misalnya masih satu perusahaan dengan Blogspot sehingga keamanan terjamin. Sedangkan V2 saya lihat tidak menjanjikan yang muluk-muluk.

Sementara iklan yang lain saya masih selektif dan mempertimbangkan dengan matang. Sebab saya tak ingin blog ini menyesatkan pembaca termasuk mereka yang mengklik iklan.

Regards,

Stefanus Akim

[ read the rest of this entry » ]

Wednesday, September 26, 2007 |

Blog dan Fenomena Citizen Journalism

Oleh: Stefanus Akim

Kehadiran weblog (blog) menjadi sebuah fenomena baru dalam citizen journalism atau jurnalisme orang biasa. Kehadiran blog memberikan ruang yang besar untuk mereka berkarya. Blog telah menjadi tempat bagi jurnalisme warga untuk memublikasikan apa yang dilihat, didengar, diraba dan dirasa.

Apalagi tak ada lagi sensor dalam tulisan-tulisan, video atau gambar di blog. Apakah ini demokrasi sesungguhnya dalam dunia kepenulisan? Kehadiran blog menjadi semacam angin segar bagi citizen journalism. Ada informasi-informasi yang tak dapat atau belum kita dapatkan di media resmi baik cetak maupun elektronik dapat kita dapatkan di blog.

Informasi yang tak ‘layak’ muat di media massa bisa ditemukan di blog. Misalnya saja kisah-kisah orang biasa yang enak dibaca, namun kemungkinan ditolak karena tak sesuai dengan pangsa pasar akan dengan mudah ditemukan.

Blog telah berkembang begitu pesat. Mulai dari catatan-catatan harian, hingga tulisan serius sesuai dengan profesi masing-masing pun ada. Banyak para jurnalis, dokter, dosen, pengusaha, praktisi IT dan sebagainya yang memiliki blog. Mereka berbagi ilmu lewat media yang kini sedang trend.

Kapan citizen journalism bangkit? Banyak kalangan menilai peristiwa bom yang mengguncang London, Inggris, 7 Juli 2005 lah sebagai tonggaknya. Tragedi yang menewaskan lebih dari 50 orang itu, menginspirasikan Tim Porter untuk menuangkan unek-unek di situs pribadinya, First Draft. Ia berselancar di dunia maya sesaat setelah kejadian mencari informasi lebih lanjut setelah menjemput istrinya yang berada tak jauh dari lokasi kejadian.

Porter dengan cepat menemukan informasi terkini tentang ledakan tersebut dari sebuah situs pribadi. Di sisi lain media konvensional seperti Radio, TV atau situs dot.com bahkan belum menyiarkan berita tersebut. Apalagi koran, butuh satu hari baru dapat dibaca oleh orang banyak.

Jeff Jarvis dan Steve Yelvington lah, dua warga yang berada paling dekat dengan pusat ledakan. Keduanya mengirimkan hasil rekaman video kepanikan orang di dalam stasiun kereta api bawah tanah ke situs pribadi. Gambar tersebut hasil shootingan Adam Stacey, seorang penumpang dengan kamera handphonenya. Beberapa menit kemudian, gambar tersebut telah disiarkan televisi BBC.

Kejadian ini membuktikan semua orang bisa menjadi wartawan. Setiap orang bisa menyiarkan berita dengan cepat dan akurasi yang terukur. Blog adalah tempat paling gampang untuk menyiarkan hasil karya para citizen journalism.

Pepih Nugraha di Harian Kompas menulis, tahun 1991 saat George Holliday, warga perumahan Lake View Terrace tengah mencoba handycam barunya, matanya tertumbuk pada satu adegan. Empat polisi kulit putih Los Angeles tertangkap kamera menyiksa seorang pengendara sepeda motor kulit hitam. Polisi menganggap korban, yang kemudian diketahui bernama Rodney G King itu, memacu kendaraannya di luar ketentuan.

Di Aceh, seorang penduduk merekam terjangan tsunami dan Metro TV, menayangkannya berulangkali. Saat pesawat Lion Air tergelincir di Bandara Juanda, Surabaya, 4 Maret 2006, Kompas memuat foto utama yang dibuat seorang penumpangnya, Sidik Nurbudi. “Ia memotret penumpang lainnya yang berhamburan panik ke luar pesawat. Bandara yang dijaga ketat aparat keamanan mustahil dapat diakses warga sipil, termasuk wartawan,” tulis Pepih.

Terbongkarnya penyiksaan di STPD yang ditayangan eksklusif oleh SCTV pada Minggu 21 September 2003 juga karena hasil rekaman video yang diambil warga biasa (bukan wartawan). Kejadian ini dipicu dengan tewasnya salah seorang praja STPD, Wahyu Hidayat. Terjangan, tendangan para senior kepada para junior bisa ’dinikmati’ karena rekaman tersebut. SCTV kemudian menayangkannya berkali-kali, akibatnya pemerintah mengambil kebijakan dengan merubah pola pendidikan dan status STPDN Jatinagor menjadi IPDN. Meskipun kita tahu kejadian tersebut berulang kembali pada 3 April 2007 dengan tewasnya Cliff Muntu.

Citizen Journalism yang lebih ‘terencana’ mungkin apa yang dilakukan Radio Elshinta Jakarta. Radio yang siaran di frekuensi 90,00 FM ini memberikan kesempatan kepada warga sekitar kejadian untuk melaporkan apa yang dilihat.

Kehadiran blog sebagai penyedia situs dan beberapa diantaranya gratis bisa jadi akan menjadi ancaman bagi pengelola media massa.

Sebuah buku berjudul We the Media: Grassroots Journalism by the People for the People (2006) yang ditulis Gillmor mengingatkan, kehadiran teknologi internet memungkinkan orang membuat situs pribadi atau mailing list untuk menyiarkan berita dengan cepat.

Dalam citizen journalism, siapa pun dapat membuat, menyebarkan, bahkan menjadi narasumber, sekaligus mengonsumsi berita. Baik dalam bentuk foto, suara tulisan, maupun gambar bergerak. San Jose Mercury News, adalah salah yang mempromosikan jurnalisme warga ini dalam blog pribadinya, Bayosphere.

Kapan blog pertama kali diperkenalkan? Enda Nasution di situsnya GoblogMedia menulis blog pertama kemungkinan besar adalah halaman What’s New pada browser Mosaic yang dibuat oleh Marc Andersen pada tahun 1993. Sebab Mosaic adalah browser pertama sebelum adanya Internet Explorer bahkan sebelum Nestcape. Kemudian pada Januari 1994 Justin Hall memulai website pribadinya Justin’s Home Page yang kemudian berubah menjadi Links from the Underground yang mungkin dapat disebut sebagai Blog pertama seperti yang kita kenal sekarang.

Agustus 1999 sebuah perusahaan Silicon Valley bernama Pyra Lab meluncurkan layanan Blogger.com yang memungkinkan siapapun dapat menciptakan Blog-nya sendiri secara online dan gratis.

Mewabahnya blog menjadi kebangkitan demokrasi paling liberal di dunia maya. Bahkan ia membuat para pengambil kebijakan tak nyenyak tidur dan enak makan. Ini misalnya dialami Menteri Pariwisata Malaysia Datuk Seri Tengku Adnan Tengku Mansor. Ia mencak-mencak, karena artikel Nila Tanzil, wartawati SCTV.

Artikel berjudul “Malaysia Tourism Board, Disappointing” yang dipublikasikan di maverickid.blogspot.com tersebut mengungkapkan kinerja Dewan Pariwisata Malaysia yang menghambat kerja profesionalnya sebagai jurnalis.

Tulisan itu menceritakan bagaimana Dewan Pariwisata Malaysia mengundang 190 wartawan dari seluruh dunia untuk menyaksikan pembukaan Festival Floral 2007. Festival ini bagian program kampanye “Kunjungi Malaysia 2007.”

“Kami sama sekali tidak boleh mengambil gambar apapun. Sebagai jurnalis TV, apa artinya keberadaan kami di sana jika tidak boleh merekam gambar apapun?” tulisannya.

Artikel itu kemudian dikutip The Star, harian bahasa Inggris terkemuka di Malaysia. Hal ini lah yang membuat kuping Menteri Pariwisata Malaysia merah dan ia mencak-mencak. Ia mencela para peblog sebagai ‘pembohong’ sebagai bentuk pembelaan diri. Namun akhirnya ia meralat statemennya karena muncul protes dari sejumlah aktivis di negaranya sendiri.

Kehadiran blog menjadi surga bagi para penulis, cerpenis, novelis, fotografer dan profesi apa saja bahkan warga biasa. Orang tak perlu lagi sibuk-sibuk memikirkan akan dipublikasikan dimana karyanya. Sebab sudah ada media gratis yang sangat memudahkan dan bisa menampung apa saja.

Di Indonesia, citizen journalism diperkirakan berkembang sejak tahun 2005. Salah satu yang memeloporinya situs www.panyingkul.com yang dikelola Lily. Kemudian ada pula www.wikimu.com, www.sumbawanews.com, www.halamansatu.ne, dan www.kabarindonesia.com. Sebutan lain untuk citizen journalism adalah participatory journalism atau grassroot journalism.

Di Pontianak sendiri blog mulai berkembang. Bahkan sejak tahun 2004 pun sudah ada. Kita tunggu saja kebangkitan citizen journalism di tanah Borneo. Apakah ini juga akan berpengaruh dengan media yang sudah mapan? Tentu saja ia, jika media yang ada tidak merubah format. Berita yang disajikan membosankan, kalah cepat, asal-asalan dan tak akurat. Namun jika media merubah diri dan membuat terobosan-terobosan maka citizen journalism dengan blog sebagai salah satu medianya akan saling melengkapi dan saling mendukung. □

*Edisi Cetak Borneo Tribune 23 september 2007

[ read the rest of this entry » ]

Sunday, September 23, 2007 |

Kendi, Kandut, Kelong dan Wek Upet

TIGA bulan lalu anggota keluarga kami bertambah menjadi lima orang. Sebelumnya ada Mamak Alicia, Alicia, Gagas dan aku. Kehadiran candy (dibaca kendi) membuat hari-hari di rumah kami semakin semarak.

Bahkan kendi menjadi hiburan tersendiri bagi kami. Apa yang kami makan, ia juga turut kebagian. Hanya saja ia tak mau makan buah, makanan yang beraroma terlalu pedas serta sayur mentah.

Kendi paling suka makan daging atau nasi yang sudah diberi kuah, dicampur sayur atau lauk. Jika sudah menikmati makanannya, maka ia lupa segala-galanya.

Kami punya panggilan kesayangan untuk Kendi yang biasa diplesetkan menjadi Kandut. Ini kepanjangan dari Kendi Gendut. Gagas bahkan sudah menganggap Kendi adiknya. ”Jangan ngacaulah Kendi, abang mau belajar dulu. Sana’ dengan mamak dulu gi,” kata dia mengusir Kendi yang mulai menggosok-gosokkan kepalanya di betis Gagas.

Apapun yang dimakan Gagas, selalu dibagi dengan Kendi. Kalau biskuitnya hanya sepotong ia rela membelahnya menjadi dua bagian. Kalau ia minum susu, Kendi juga pasti dibaginya.

Alicia lain lagi ia paling sering memanggil kendi dengan Kandut. Namun giliran dikejar ia yang larinya paling laju. Mengunci kamar atau naik di meja.

Saking akrabnya, saat kedua anak kami ini akan pergi sekolah Kendi juga ikut-ikutan repot. Alicia yang rada-rada takut tapi sayang dengan Kendi sampai nangis sebab dikejar hingga keluar gang.

Tujuannya tentu saja ingin ikut. Ia bosan sendirian di rumah. Dari pagi hingga pukul 11 siang baru penghuni pada datang. Belum lagi setelah kembali sekolah Gagas dan Alicia paling-paling sebentar main dengan dia. Selanjutnya ritual rutinitas, makan siang, tidur siang, belajar, main, mandi, nonton kartun sebentar, makan malam dan belajar lagi.


”Sudahlah kalau takut besok kita kasikan jak Kendi dengan yang mau menampungnya,” usulku dengan Gagas dan Alicia sekembalinya mereka dari sekolah.

Ternyata tanggapan keduanya luar biasa.

”Aku jak dikasi dengan orang,” kata Gagas masam. Anak bungsu kami ini matanya mulai berair.

”Jangan. Ndak maok,” Alicia tak kalah sengitnya menolak.

Aku dan mamaknya hanya saling pandang dan senyum-senyum. Ucapanku hanya untuk ngetes reaksi mereka. Ternyata setelah setiap hari bergaul hubungan keakraban itu susah dipisahkan.

Soal menjaga kebersihan, Kendi juga mempunyai kebiasaan sama seperti kami. Ia juga mandi dan shampoan. Namun ia cukup satu kali sehari, jika hari hujan bahkan cukup dua hari sekali. Yang paling rajin memandikannya tentu saja istriku dan dibantu Alicia dan Gagas yang kebagian menyiram atau hanya menggosok-gosokkan busa sabun.

Awalnya, untuk memutuskan menerima Kendi tinggal di rumah kami melalui pertimbangan lama dan dari berbagai aspek. Termasuk hubungan sosial kemasyarakatan dengan para tetangga. Maklum di kompleks kami semuanya Muslim dan kami satu-satunya yang Katolik. Informasi yang aku dengar mereka tak boleh bersentuhan (dijilat) oleh anjing, apalagi jika ia sedang basah. Kami harus menghargai dan mempertimbangkan hal itu dengan matang.

Pertimbangan lain, khawatir Kendi ngamuk. Misalnya jika ia diganggu maka ia akan marah-marah dan urusannya bisa berabe. Pertimbangan positifnya Kendi bisa diminta bantu jaga-jaga rumah, sebab ia paling ingat jika tidur. Suara sedikit saja maka ia akan terjaga, beda dengan kami. ”Mungkin kalau rumah sudah dipagar jauh lebih mudah,” istriku menerawang.

Pembicaraan kami tak ada keputusan dan habis begitu-begitu saja. Namun saat aku pelatihan Jurnalisme Sastrawi di Pantau Foundation 18-29 Juni lalu, sekembalinya aku di Pontianak kulihat Kendi sudah ada di rumah.

”Kasihan, dia terlantar. Dia dua bersaudara. Ibunya tak mau lagi mengasuhnya sehingga kelaparan,” ujar istriku sebelum aku tanya mengapa mengadopsi Kendi.

Saat pertama kali datang, tubuh Kendi dekil dan bau. Dimana-mana ada kutu menempel yang dengan bebas menyedot darahnya. Tubuhnya yang mungil dan kecil makin tampak kecil dan kurus kering. Teriakannya pun sayu dan sesekali hampir seperti bunyi erangan.

Minggu pertama yang dilakukan istriku adalah menghilangkan semua kutu yang menempel di kulitnya. Memberikan asupan makanan. Pernah suatu waktu Kendi jatuh sakit, kami khawatir sekali. Untungnya saat diberi minum parasetamol sirup dan vitamin C sirup ia bugar kembali. Hingga kini ia sehat dan berat badannya terus naik.

Kekhawatiran kami jika Kendi akan menjadi persoalan sosial kemasyarakatan ternyata nyaris tak terbukti. Tetangga sebelah yang biasa kami panggil Mak Puput, sering sekali memberikan makanan untuk Kendi. Begitupun tetangga kami di depan Pak De yang sudah kami angkat jadi Pak RT serta juga menerima dengan baik. Kendi sudah dianggap sebagai bagian dari kompleks kami. Hanya ada satu keluarga yang sempat mewanti-wanti saat Kendi pertama kali pertama bergabung di rumah kami. ”Bahaya tu kalau sudah besar bisa gigit,” katanya.

Namun kini semua sepertinya sudah menerima Kendi dengan baik. Ia sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keluarga dan kompleks kami.

Kendi pernah melakukan tugasnya dengan baik. Pernah suatu malam sebelum bulan puasa, sekitar pukul 03 subuh ada orang yang berjalan di kompleks kami. Orang tersebut lari terbirit-birit setelah mendengar Kendi terbangun dan mengejar.

”Mungkin itu pencuri kak. Sebab kalau orang baik-baik ngape juga jalan malam-malam di kompeks dan pasti bukan orang sini. Kalau orang sini pastilah tak akan lari,” kata Fatimah, menantu pak RT cerita dengan istriku.

Kompleks kami termasuk yang sering disatroni maling. Dari 8 buah rumah yang sudah ada penghuninya, 6 sudah diambil HP-nya oleh pencuri. Termasuk rumah kami, HP adik iparku, Andi Ahmad juga digasak pencuri Juni lalu. Kini setelah pagar kompleks jadi ditambah Kendi yang selalu terjaga kondisinya tampaknya mulai aman.

Sebelum berangkat ke kantor dan menuliskan kisah ini, aku dan istriku memandikan Kendi. Badannya sudah mulai bau amis, sebab sering main ke tanah dan mengejar kucing milik tetangga gang sebelah.


Kami memutuskan untuk mengurung dia di rumah saja sepanjang hari. Kami ingin menjadikan dia rumahan, tidak kelayapan terus. Sementara malam hari diikat dengan rantai di teras depan atau belakang. Tak manusiawi kedengarannya. Apa lagi mengurung Kendi bahkan mengikat dengan rantai di teras rumah dengan cuaca malam yang dingin. Namun itulah dunia Kendi. Kami juga sudah menyiapkan kandang dengan alas kasur tipis bekas Gagas untuk alas tidur Kendi.

Kendi adalah anjing kecil. Anjing jenis kampung berjenis kelamin perempuan. Bulunya berwarna putih dengan belang-belang cokelat. Matanya hitam berkilat dan lidahnya merah dengan senyum manis menunjukkan sebaris gigi yang putih. Kini tubuhnya sudah mulai besar dan sehat, berat badannya terus bertambah.
Dia selalu bercanda dengan kami. Namun sempat terpikir olehku mungkin ia juga merasa rindu dengan keluarganya di kampung. Mungkin ia juga rindu dengan saudaranya, tempat ia mengisi hari-hari dan berkejar-kejaran. Namun sudahlah, kami hanya bisa memberlakukan ia sebagai bagian yang tak terpisahkan dari keluarga kami.

Kendi memiliki panggilan kesayangan Kandut. Gagas memiliki panggilan kesayangan Kelong yang diambil dari nama pendeknya Lilo (Castilo Gagas Panamuan) sedangkan Wek Upet panggilan kesayangan untuk Alicia. Wek Upet masih termasuk keluarga kami di kampung, ia nenek-nenek yang cerewet dan kenes. Alicia juga cerewet dan kenes maka ia kami panggil dengan Wek Upet.□

[ read the rest of this entry » ]

Monday, September 17, 2007 |

Membedah Masalah Dengan Ketajaman Analisis

Oleh: Stefanus Akim

KALAU Anda tekun menyimak harian Kompas (Jakarta), umumnya sebulan sekali William Chang menyumbangkan opini yang bermuatan lokal, nasional dan internasional. Ketajaman dan kesegaran mata penanya memungkinkannya berkompetisi dengan penulis-penulis nasional lain. Melalui persaingan yang ketat, tulisan-tulisannya berhasil menembus pasar nasional. Muatan ilmiah yang dibungkus dengan gaya bahasa populer dapat disimak dalam analisis-analisisnya.

Kala masih di Kelas II SMA Seminari St. Paulus Nyarumkop (1979), William sudah menurunkan gagasan ke Rubrik Bursa Ide dan Rubrik Bahasa Kita (Kompas). Sejak saat itu motivasi untuk merambah dunia tulis-menulis makin kuat. Ketika masih kuliah filsafat di Fakultas Filsafat Unika St. Thomas Medan tulisan-tulisannya sudah mengisi Mingguan Hidup, Majalah Bola dan Asia Focus (Thailand). Bakat tulis-menulis kian dipupuk hingga dia menyelesaikan pendidikannya di Sumatera Utara. Kesanggupannya untuk menulis mempercepat proses penyelesaian studi S-2 di Universitas Gregoriana (Roma) dan S-3 di Universitas Lateran (Roma).

Ternyata, semangat menulis belum kendor walaupun telah menyelesaikan program pendidikan doktoratnya. Sejak Oktober 1996, sekembali dari pendidikan di Italia, dia mulai menyumbangkan gagasan-gagasan yang cemerlang dalam harian nasional, seperti Kompas, Suara Pembaruan, Media Indonesia dan The Jakarta Post. Cukup sering dia diminta untuk menyumbangkan opini-opini segar terkait dengan masalah-masalah aktual di tanah air. Biasanya, dia memenuhi permintaan media massa, baik lokal, nasional maupun internasional.

Dampak tulisannya memang terasa. Sejumlah pemimpin nasional mulai lebih serius memikirkan masa depan nusa dan bangsa. Tumpukan masalah lokal dan nasional dibedah dengan ketajaman berpikir dan analisis. Tak heran, acapkali dia diundang sebagai pembicara lokal, nasional dan bahkan internasional. Sangat jarang terjadi bahwa seseorang dapat memasuki kawasan Abu Sayap. Namun, penulis yang satu ini pernah diundang oleh The British Council di Manila dan Jakarta untuk memberikan seminar tentang Conflict Resolution di tengah-tengah para pejuang dari kawasan Filipina Selatan.

Kiat khusus sebagai penulis terletak pada kemauan yang kuat untuk menyalurkan ilmu pengetahuan bagi mereka yang memerlukannya. Tentang menulis, dengan rendah hati William mengungkapkan bahwa dia masih perlu banyak belajar dari penulis-penulis caliber nasional dan internasional lainnya. Dia tak pernah menganggap diri hebat dalam bidang tulis-menulis, sebab prinsip dasar hidupnya adalah ingin belajar terus selama hayat masih dikandung badan. Bermodalkan jiwa belajar yang tinggi dia berusaha menimba ilmu seluas mungkin dan menyalurkan ilmu-ilmu yang berguna bagi pengembangan kepribadian. Tak heran, buku-buku tentang psikologipun masih dilahap di sela-sela waktu senggang.

Hingga kini William telah menghasilkan sekurang-kurangnya delapan buku baik dalam Bahasa Indonesia maupun Inggris. Salah satu masterpiece pemikirannya dituangkan dalam buku The Dignity of the Human Person in Pancasila and the Church’s Social Doctrine (Quezon City, Claretian Publications, 1998). Buku setebal 394 halaman itu mencerminkan kejernihan jiwanya untuk memperjuangkan nilai dasar kemanusiaan yang selama ini mulai dilalaikan dan bahkan dilupakan sejumlah orang. Tulisan-tulisannya berupa buku dan artikel sangat diwarnai oleh pandangan dan refleksi humanioranya.

Keahliannya dalam bidang etika sosial disalurkan dalam ceramah-ceramah ilmiah. Benang merah tulisan-tulisannya bernapaskan etika sosial yang memberikan perhatian kepada harkat dan martabat setiap manusia, tanpa pandang bulu, pilih kasih dan diskriminasi. Benang merah ini bisa ditemukan dalam buku perdana yang berisi himpunan tulisannya dalam Kompas dengan judul Kerikil-kerikil di Jalan Reformasi (Jakarta, Kompas 2004). Kalau kita simak baik-baik buku ini maka akan tercermin seluruh pribadinya yang menjunjung tinggi harkat dan martabat setiap insan sebagai citra Sang Pencipta yang tak dapat dilecehkan dalam bentuk apapun. Penghargaan atas harkat dan martabat manusia ini menunjukkan kepedulian rohaninya terhadap segala makhluk ciptaan Sang Khalik.

Yang jelas, dia masih aktif berpikir dan menuliskan pikirannya dalam artikel-artikel segar yang menggerakka syaraf-syaraf otak si pembaca. Profisiat atas semua sumbangan tulisan yang dapat membangun dan mengembangkan kemanusiaan di tengah-tengah jaman yang terus-menerus berubah. Mudah-mudahan, di samping memberi kuliah, Romo William Chang, OFM Cap tak pernah akan berhenti menulis dan menulis.□

*Edisi Cetak Borneo Tribune 16 September 2007

[ read the rest of this entry » ]

Sunday, September 16, 2007 |

Usia Bukan Halangan untuk Berkarya

Oleh: Stefanus Akim

DIA, Ellyas Suryani Soren. Usianya kini 63 tahun. Pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Di usianya yang tak muda lagi, ia masih rajin menulis. Beberapa artikelnya sering dimuat di media Kalimantan Barat. ”Menulis saya lakukan sejak tahun 1966,” kata Ellyas saat ditanya kapan ia mulai serius menulis.

Tahun 1966, ia mengawali kariernya sebagai wartawan di Harian Nusa Putera Edisi Kalimantan Barat. Koran tersebut dipimpin oleh Soesani Ais dan H. Bey Acoub. Ia juga menulis untuk Mingguan Alun Kapuas pimpinan almarhum H. Mawardi Rivai.

Sejak saat itu ia terus mengasah kemampuannya menulis. Bahkan Ellyas ditugaskan kantornya untuk mengikuti Penataran Penulisan Ilmiah Populer se Indonesia yang diselenggarakan oleh LIPI dan Pemda Tingkat I Kalimantan Barat pada tahun 1961. Ia juga mengikuti penataran jurnalistik serta pendidikan pelatihan kewartawanan. Bersama almarhum H. Mawardi Rivai ia menjadi anggota Yayasan Penulis 66 Kalimantan Barat.

Setidaknya sudah tujuh buah buku yang ditelurkan oleh penulis yang mendapat gelar kehormatan Dato’ Sri Budaye Astana dari Istana Amantubillah Mempawah ini. Gelar tersebut sebagai penghargaan atas karya-karya dan perhatiannya terhadap Seni dan Budaya di Mempawah.

Karya-karya tersebut antara lain: ”Legenda dan Cerita Rakyat Mempawah’ yang diterbitkan Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pontianak tahun 2002. Ia juga menulis ”Sejarah Mempawah Dalam Cuplikan Tulisan”. Kemudian “Mempawah Tempo Doeloe” dan Antologi Puisi “Lelaki Pulang Kampung” yang merupakan kumpulan puisi karyanya.

Di usianya yang tak muda lagi, Ellyas terus berkarya. Meskipun hanya menggunakan mesin ketik usang bahkan tak jarang dengan coretan-coretan tangan ia terus berkarya. Otaknya tak pernah tumpul untuk terus mempatrikan pemikiran dan pengetahuannya kepada khalayak ramai.

Dalam waktu dekat, ia bahkan akan meluncurkan buku ”Sejarah Sengkubang’. Kampung tempat ia lahir, besar dan berkarya itu telah berusia satu abad lebih yakni 104 tahun. Saat ini buku tersebut sudah disusun dan siap turun cetak yang akan dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun yang ke-104 tahun terbentuknya Desa Sengkubang.

Dia mulai menulis sejarah Desa Sengkubang tersebut tahun 1970 sejak ia menjadi sekretaris Desa. Buku itu dibuat berdasarkan referensi pengumpulan dokumentasi dari mantan para Kepala Kampung (Pak Pong) serta catatan-catatan pemuka masyarakat dan saksi-saksi hidup yang mengetahui latar belakang dan seluk beluk Desa Sengkubang. Menurut Ellyas, Kampung Sengkubang terbentuk tahun 1884 Masehi.

Laki-laki sederhana ini lahir 1 Januari 1944 di Desa Sengkubang Kecamatan Mempawah Hilir. Pendidikan SR, SMEP dan KPAA Negeri ditempuhnya di Mempawah kemudian dilanjutkan di Pontianak.

Saya mengenal pak Ellyas sejak lima tahun silam saat bertugas sebagai wartawan di Mempawah. Kami biasa ngobrol, mulai dari isu pemerintahan, sastra, politik, kemasyarakatan, sejarah hingga pengalaman pak Ellyas. Untuk ukuran usia seperti pak Ellyas, saya melihat semangat itu sangat luar biasa. Bayangkan di zaman yang sudah serba digital, ia masih menuangkan karyanya dengan mesin ketik. Bahkan tak jarang menggunakan tulis tangan pula. Sebuah semangat yang langka didapatkan saat ini.

Kemana-mana ia masih menggunakan sepeda ontel. Memang untuk ukuran Mempawah, sebuah kota kecil arah ke arah utara Kota Pontianak yang berjarak sekitar 60 KM sepeda sudah cukup sebagai sarana transportasi. Sebab penduduknya jarang dan satu dengan yang lain saling kenal. Kemudian jarak yang ditempuh juga tidak terlalu jauh.

Untuk tempat tinggal dan menikmati hari tua, Mempawah sepertinya tempat yang cocok. Jauh dari hiruk-pikuk kota, polusi rendah, tak pernah macet serta aman. Hanya saja fasilitas lain terutama pusat perbelanjaan mungkin agak jarang.

Karya Ellyas, “Mempawah Tempo Doeloe” saat ini bahkan sudah mengisi pusat dokumentasi Kerajaan-kerajaan Indonesia di Belanda. Ini setelah Ellyas diminta mengirimkan bukunya oleh Donald P Tiek, pemilik DO Pusat Dokumentasi Kerajaan Indonesia yang beralamat di Van Bleiswljks Raat 52 C 3135 AM Vloardingen Nederland. “Via telepon beliau telah memberitahu saya bahwa buku tersebut telah diterima dengan baik dan disimpan di pusat dokumentasi,” kata Ellyas, kepada saya melalui surat.

Langkah laki-laki tua kadang terseok. Sepeda ontel selalu menemaninya kemana pun ia pergi. Namun, ide-ide brilian serta catatan-catatan sejarah terus lahir dari karya tulisanya.□

*Edisi Cetak Borneo Tribune 16 September 2007

[ read the rest of this entry » ]

|

Wastawan...Wastawan...(Edisi Revisi)

Oleh: Stefanus Akim

Wastawan…wastawan...
Hali...hali latang...
Lebalan latang...
Natat...latang
Ngai Imlek pun, latang...


CITRA wartawan bagi sebagian orang masih jelek. Tukang cari sopoi (minta-minta duit), tukang cari gara-gara, tukang membesar-besarkan masalah, tukang korek-korek borok. Dan sederet kejelekan-kejelekan lain. Cap itu setidaknya masih ada di Pontianak. Meskipun sebenarnya anggapan itu tak semua benar. Sebab masih banyak jurnalis muda yang terus berusaha memperbaiki mutu jurnalisme di tanah Borneo.

Memang menjaga profesi ini sangat sulit dan penuh tantangan. Onak dan duri menghadang setiap langkah. Kadang terinjak dan telapak kaki berdarah hingga infeksi.

Selasa (4/9/07) saat rapat bersama antara pihak sekolah SD Bruder Melati dan para orang tua murid terjadi hal yang kurang mengenakkan. Ini berawal dari ‘rencana’ transparansi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) oleh sekolah yang dinahkodai oleh Drs Bernardus Anen.

Di hadapan para orang tua murid, Bernardus berujar, ia pernah sangat transparan soal dana BOS tahun 2006. Namun ternyata catatan-catatan itu sampai ke tangan ‘wartawan’. ”Ada empat wartawan yang mendatangi saya. Bahkan saya menghadapinya dengan beberapa orang guru dan komite sekolah. Mereka katakan bapak korupsi, ini buktinya antara yang diterima dengan pengeluaran tak sama,” kata Bernardus dengan raut wajah serius.

Sejauh ini sang wartawan yang kebetulan anaknya sekolah di situ menganggap itu kejadian lumrah sebab sebuah standar jurnalistik. Memang tugas wartawan adalah disiplin melakukan verifikasi terhadap data yang diterima dan melakukan konfirmasi. Saat proses pembuatan sebuah berita seorang wartawan mesti membuat cover both side. Artinya memberikan kesempatan yang sama kepada yang menuduh dan tertuduh atau dari yang memiliki data kepada yang dipersangkakan. Jika ini tak dilakukan maka si wartawan salah. Ia semata menjadi corong atau diperalat oleh salah satu pihak atau oleh yang berkepentingan, apalagi yang memperalatnya orang jahat.

Tugas wartawan sebagai anjing penjaga (watch dog). Mesti harus dilakukan, bukan hanya tugas sebagai pemberi informasi, sarana pendidikan dan hiburan. Sebab tanggung jawab wartawan kepada masyarakat bukan kepada pimpinan redaksi, bukan kepada pimpinan perusahaan dan bukan juga kepada pemilik modal apalagi kepada pemasang iklan.

Namun yang tak enak kalimat terakhir dari Bernardus. ”Kami setengah mati menjelaskan kepada dia (‘wartawan’). Namun semuanya UUD, ujung-ujungnya duit,” kata dia tersenyum dan pandangan matanya menyapu semua yang ada di ruangan itu.

Sebagai seorang wartawan tentu saja dia yang hadir di situ malu dan tersetak dengan kalimat tersebut. Apalagi ada banyak orang tua murid yang tahu pekerjaannya wartawan. Mungkin saja mereka akan pikir oh begini rupanya kerjaan wartawan. Lantas mungkin ada yang pikir jaket look army yang dia pakai saat itu hasil dari kerjaan begitu-begituan. Motor RX King yang ditungganginya juga hasil ’wawancara’ dengan narasumber bermasalah. Kemudian biaya sekolah yang cukup mahal untuk dua orang anaknya juga hasil interview dengan pengusaha hitam. Selanjutnya rumah RSS tipe 36 yang sekarang ia tempati juga hasil nyolong. Padahal mana orang tahu bahwa itu hasil keringat istrinya yang rajin menabung dan menyisihkan gajinya setiap kali gajian.

Sang wartawan coba menahan diri dan berbuat biasa-biasa saja. Meskipun hatinya sedang panas dan emosinya mulai naik.

Kata-kata Bernardus terus mengiang dan membuat kosentrasinya hilang. Sayangnya dia tak menyebutkan siapa wartawan itu. Jika disebutkannya dari mana dan wartawan mana tentu saja sang wartawan yang hadir di ruangan itu bisa mencari dan menggebuknya sampai setengah mati. Minimal muntah darah dan menanggalkan giginya hingga berantakan...Sekalian coba jurus boxer yang dulu pernah dipelajari saat kuliah.

Sang wartawan sebenarnya ingin menjawab dan menjelaskan semua biar orang yang hadir di forum itu tahu. Tapi ia sudah terlanjur emosi. Dia yakin jika dalam kondisi seperti itu maka yang akan keluar pasti tak karuan. Kata-kata yang keluar tak terkontrol. Jika ini terjadi maka akan merugikan dirinya dan juga anaknya. Lagi pula, ia tahu, bahwa Bernardus pasti tak tahu bahwa salah seorang orang tua muridnya berprofesi seorang wartwan.

Bernardus juga pasti tidak tahu, sebab hanya 100 langkah dari gedung SD itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA St Paulus FB Arif Budi yang sering sekali ke kantor redaksi Borneo Tribune. Ia memuji-muji hasil karya jusrnalistik terutama rubrik pendidikan yang sengaja disiapkan dua halaman Borneo Tribune untuk melayani kebutuhan 'dasar' masyarakat beradab saat ini. Bahkan sang Wakasek juga berencana membawa pengurus OSIS dan redaksi majalah sekolahnya (Majalah Varia) untuk menimba ilmu jurnalistik.

"Ketua yayasan kami, Bruder juga berencana menulis membuat artikel di koran pak," kata pak Arif, sehari sebelumnya saat si wartawan bertemu secara tak sengaja di lingkungan sekolah. Borneo Tribune, koran yang lahir 19 Mei 2007 lalu, tentu saja akan membuka lebar-lebar pintu itu demi kemajuan pendidikan. Apalagi di tengah miskinnya para Oemar Bakrie membuat tulisan di media massa bahkan masyarakat berpendidikan di Kalbar pun masih jauh dari budaya tulis-menulis.

Media lain di Kalbar, selain Borneo Tribune, pasti juga akan dengan senang hati menerima tulisan-tulisan itu, asalkan tentu saja sesuai standar. Kalau dilihat yang sering membuat karya tulis hanya segelintir orang. Sebut saja Y Priono Pasti dari SMA St Fransiskus Asisi, di tingkat perguruan tinggi yang cukup aktif tentu saja DR Aswandi, Dekan FKIP Untan, serta yang baru-baru ini Dra C Yanti Sudono, Kepala Sekolah Bina Mulia.

Kejadian yang sama memilukannya ternyata juga dirasakan Benedicta. Dua hari lalu ia menunggu jemputan selepas bekerja 8 jam. Untuk membuang rasa bosan, ia duduk di kursi panjang depan rumah sakit. Jam menunjukkan pukul 14.30. Tak lama muncul teman sekantornya. ”Kak suami kakak wartawan mana sih,” tanya Vivi, pengawai UBER, Koperasi Rumah Sakit Santo Antonius.

”Wartawan Borneo Tribune, dulu di Equator,” kata Benedicta singkat. Ia berpikir wajar saja jika ada yang tanya tokh rekan se-kantor.

”Banyak wartawan sering ketemu abang (suami). Kalau ada anaknya yang sakit, atau ada keperluan lain. Biasanya kalau ada kerjaan proyek juga mereka datang dan minta duit,” kata Vivi lagi tanpa tendeng aling-aling. Suami Vivi seorang kontraktor dan masih keluarga pejabat di Kalbar dan Kapuas Hulu serta.

Mungkin karena sudah gerah lama dijemput ditambah kata-kata yang pedas, tensi darah ibu dua anak ini naik.

”Itu wartawan apa lok. Suamimu tanya ndak, ada kartu persnya ndak. Sudah dikonfirmasi belum dengan kantornya. Tak semua wartawan seperti itu, mereka juga punya kode etik. Kalau semua seperti itu sudah kaya lah mereka tu.”

”Vi, mungkin di luar sana hanya perawat yang kerjaan paling suci. Sementara yang lain entahlah. Kontraktor juga seperti itu. Suamiku bilang waktu di Mempawah dia sering diajak menemui kepala dinas, atau diminta ’tolong’ buatkan berita yang membantai pejabat oleh kontraktor. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk dapatkan proyek,” kini perawat yang bertugas di ruang Lidwina, ruang khusus perawatan anak itu berceramah.

Tak lama jemputan datang. Buru-buru dinaikki sadel sepeda motor. Baru saja motor itu merangkak menggilas aspal, si perawat sudah tak sabar menceritakannya dengan suaminya. Namun suaminya hanya senyum-senyum saja. ”Biasalah pemahaman mereka kan sempit. Mereka tak tahu bagaimana sesungguhnya pekerjaan wartawan dan siapa seharusnya yang bisa disebut wartawan,” kata suaminya sambil memegang stang motor, waspada jangan sampai menabrak atau ditabrak.

Sampai di rumah cerita itu masih berlanjut dan sisa-sisa geramnya sepertinya masih belum juga hilang. Belum juga ia meletakkan pantatnya ia kembali berujar. ”Bagaimana sih kalau pekerjaan proyek tuh bang,” tanyanya.

”Yah seperti pekerjaan lain lah ada juga yang jujur dan ada pula yang tidak,”

Dijelaskan suaminya, menurut teman yang juga kontraktor, dana proyek itu tak 100 % terserap untuk pembangunan. Pekerjaan proyek yang paling banter dikerjakan hanya 40 % saja, sisanya 60 % menguap. Dari 100 % nilai proyek, 12 % untuk PPN, 10 % untuk bupati atau walikota, 10 % untuk kepala dinas, kepala bagian, kepala seksi dan pegawai-pegawai yang lain, 3 % untuk panitia lelang, 3 % untuk asosiasi. Sisanya untuk dana ’sosial’. Ini jatah untuk LSM nakal, wartawan nakal atau wastawan-wastawan, tokoh masyarakat, kepala desa, kepala kampung, RT/RW, oknum panitia anggaran DPRD, kegiatan pemuda dan lain-lain. Belum lagi kalau disubkan (dikerjakan) oleh perusahaan lain. Maka yang dapat pertama kali tinggal ongkang-ongkang kaki, sebab 10 % bahkan 15 % dari nilai proyek akan masuk di kantongnya. Sisanya baru dikerjakan dan pemborong atau kontraktor tentu saja ingin juga untung.

Maka akan terjadilah campuran pasir lebih banyak dari semen, ketebalan aspal dikurangi, aspal dicampur dengan ban bekas. Batu menggunakan jenis ’kemenyan’ bukan jenis batu kali pecahan. Atau kalau bangunan menggunakan kelas C padahal syaratnya kelas A. Kayu semestinya ukuran 8 x 8 mabang atau bengkirai cukup digantikan 7 x 7 dengan kayu rengas.

“Tapi itu kata orang dan kontraktornya sendiri yang bilang. Aku tak tahu persis sebab kan tak pernah kerja proyek,” kata si wartawan.

Dari omongan santai kedua suami-istri itu banyak hal yang diketahui. Misalnya dua tahun silam si perawat mencuri dengar, Adrianus Senen, anggota Fraksi Golkar DPRD Kalbar berujar untuk ’upah’ menulis berita wartawan cukup 50 ribu saja. Saat itu Senen sedang menunggu anaknya yang sakit.

Suaminya juga menceritakan jika temannya yang juga wartawan pernah marah-marah kepada anggota DPRD Kalbar, Setyo Gunawan namanya. Ia politisi Partai Demokrat. Pasalnya, Setyo pernah ngomong jika ia menyogok wartawan untuk mendapatkan informasi siapa-siapa rekan kerjanya dari kantor tempat dia bekerja sebelum jadi dewan aktif di parpol. Setyo sebelumnya bekerja sebagai salah satu manager di PT Duta Rendra Mulia (DRM). Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kayu lapis.

Teman si wartawan itu adalah Asriyadi Aleksander Mering. Saat itu ia mengasuh rubrik Interaktif di Harian Equator dan kebetulan tulisan tersebut kebetulan terbit di halaman yang diasuhnya. "Aku marah-marah. Kutanyakan siapa wartawannya yang bocorkan hal tersebut. Ia tak menjawab, rasa mau aku tinju jak. Pasti dia mengada-ada," geram Mering.

Orang di luar profesi ini pasti tak banyak tahu bagaimana para jurnalis berjuang mempertahankan idealisme di tengah keterpurukan ekonomi global dan gaji para 'kuli disket' yang termurah di Asia. Bandingkan misalnya sebuah tulisan panjang, berisi, dan bermutu milik salah seorang penulis terbaik di Indonesia yang dimuat di harian The Star (Kuala Lumpur) dihargai Rp30 juta. Dan tentu saja itu jangan dibandingkan dengan situasi di Kalbar, butuh dua tahun untuk dapat duit sebanyak itu.

Kisah-kisah memilukan dan mendeskreditkan wartawan sebenarnya masih banyak. Di sisi lain banyak juga kisah mulia yang tak diketahui orang banyak. Misalnya bagaimana wartawan 'menyelamatkan' APBD dengan berita-beritanya agar tepat sasaran dan tak dihambur-hamburan. Yang paling sederhana mungkin, bagaimana wartawan dikejar-lejar deadline agar besok hari masyarakat bisa membaca koran pagi-pagi sekali. Belum lagi serangkaian 'ritual' yang harus dilalui, tugas menumpuk, indtimidasi, telepon ancaman, dan sebagainya. Tapi, biarkan sajalah...Itu adalah resiko sebuah profesi.

Juru kabar di tanah Borneo tampaknya harus bekerja keras untuk menghilangkan stigma tersebut. Jika tidak maka anggapan miring itu akan terus menjadi bayang-bayang yang menakutkan. Seperti yang diucapkan Pak Akiau, seorang pengusaha etnis Cina di Sungai Pinyuh berikut ini.

”Wastawan...wastawan. hali-hali latang. Lebalan latang, natat latang, ngai Imlek pun latang.”

Arti ucapan pak Akiau, wartawan-wartawan. Setiap hari datang. Lebaran datang, natal datang, saya Imlek pun datang.

Kita tahu maksudnya apa. Apa lagi kalau bukan minta duit. Meskipun kita juga tahu tak semua melakukan itu. Biasanya WTS alias wartawan tanpa surat kabar atau wartawan kaki lima lah yang membuat profesi luhur itu tercemar. Saat ini kita sebut saja lah mereka wastawan bukan wartawan. Si wartawan yang menulis kisah ini adalah aku, yang mengisi hari-hari dengan merangkai kata-kata...Semoga kalimat-kalimat berikut tak terdengar lagi.

Wastawan...wastawan...
Hali...hali latang...
Lebalan latang...
Natat...latang
Ngai Imlek pun, latang
...*

[ read the rest of this entry » ]

Thursday, September 13, 2007 |

The New York Times

Oleh: Stefanus Akim

The New York Times, telah mengukuhkan dirinya sebagai salah satu koran terbaik di planet ini. Predikat itu diperoleh tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan, dibutuhkan waktu yang panjang, independensi-tak memihak-serta standar jurnalistik yang tinggi yang wajib dipakai oleh wartawan maupun redakturnya.

Meskipun pemimpin redaksi Times dipilih oleh orang dipilih owner (pemilik) namun, otonomi redaksional sangat terjaga. Kondisi inilah yang membuat Times sangat dihormati dan kepercayaan tumbuh. Untuk membuat rambu-rambu dalam melakukan tugas jurnalistiknya, Times membuat kode etik dan memberlakukan sangat ketat baik bagi wartawan maupun bagi redakturnya.

Ada satu hal positif yang jarang dimiliki koran lain, yaitu self regulation atau pengaturan diri sendiri. Dimana jika koran tersebut melakukan kesalahan, maka ia harus menelusuri letak kesalahan tersebut dan kemudian mengumumkannya kepada publik.

Ini bisa dilihat misalnya saat terjadi peristiwa Jayson Blair. Editor Senior tak segan-segan mengerahkan lima orang editor seniornya untuk memeriksa kembali pemberitaan yang telah ditulis Blain, dan kemudian mereka meminta maaf kepada publik. Ini semua dilakukan semata-mata semata-mata untuk menjaga integritas dan kredibilitas The New York Times.

Kasus Jayson Blair adalah salah satu yang mencoreng wajah Times. Pada April 2003, Times diguncang oleh skandal pembuatan berita palsu oleh Jayson Blair, wartawan Times, yang kebetulan seorang pemuda Afro Amerika berusia 27 tahun. Blair ketahuan telah lama menulis berita-berita bohong, dengan memawawancarai narasumber palsu, mencontek laporan dari koran-koran lokal dan kemudian menyiarkannya di koran yang punya reputasi tinggi tersebut. Praktiknya terkuak saat saat menulis kisah Jessica D. Lynch, tentara perempuan Amerika yang tertawan tentara irak saat Amerika menyerbu negara itu pada awal tahun 2003.

”Kalau kesalahan seperti ini disembunyikan, baunya akan tetap ada, dan lebih jauh dari itu integritas dan kredebilitas koran tersebut dipertanyakan. Memang memerlukan koreksi dan penelusuran kesalahan seperti ini, untuk koran baru seolah menjadi suatu kemewahan (luxury), tapi hal ini harus dilakukan. Harus menjadi kewajiban untuk menelusuri kesalahan yang telah dilakukan koran tersebut. Jangan bersikap seolah-olah bahwa media tak bisa melakukan kesalahan. Kalau hal ini yang dianut, lalu apa bedanya kita - orang pers - dengan para penguasa yang pernah bersemboyan ”The King Can Do No Wrong’?” tulis Aristides Katoppo yang memberikan kata pengantar pada buku ini. Katoppo yang mantan Pimred Sinar Harapan adalah mantan koresponden Times di Jakarta antara tahun 1958 ingga 1964.

Times lahir tahun 1851 dan langsung diambil alih oleh Adolph Ochs dan menjadi koran yang dikenal di seluruh dunia. Koran ini terus menjadi yang terdepan meskipun sudah dipegang cicit Och. Koran ini memang perusahaan milik keluarga besar Ochs-Sulzberger. Kini masuk dalam generasi keempat. Liputan Times sangat luar biasa, sebab tak hanya dikenal berpengaruh bagi para pembaca koran di Amerika, tapi juga ke seluruh dunia. Jaringan korespondennya luas, peraih Pulitzer terbanyak dari koran lainya di Amerika.

Sejak diberikan tahun 1917, Times sudah mengoleksi 90 buah penghargaan pulitzer hingga tahun 2004. ”Vitalitas mungkin menjadi kata kunci di sini untuk menunjukkan bagaimana semangat dan kepedulian para wartawan The New York Times membawa mereka mengarungi zaman, disegani prestasi jurnalistiknya, bertahan hidup dari presiden satu ke presiden lainnya, membangun sistem kerja yang baik, dan pula menanamkan nilai penting kepada para wartawannya untuk menjadi yang terbaik,” tulis Haryanto.

Di luar prestasi Pulitzer, para wartawan Times pun punya prestasi lain, yaitu sebagai penulis buku-buku yang terkenal. Berkat kemampuan para wartawan yang mendalami bidang-bidang yang ada, maka tak heran jika kemudian para wartawan tersebut berlomba-lomba menulis buku reportase mereka.

Times membuat aturan yang sangat jelas tentang kode etik, saham hingga hal pribadi awak redaksinya. Mereka memiliki standar-standar, termasuk di dalamnya penggunaan sumber rahasia dalam pemberitaan, masalah integritas, kemampuan dan reputasi. ”Keharusan bagi Times dan para stafnya untuk memelihara standar tertinggi yang mungkin ada untuk memastikan bahwa kami tidak melakukan hal-hal yang akan mengurangi kesetiaan dan kepercayaan pembaca dalam kolom-kolom pemberitaan kami,”.

Ada sembilan hal yang diatur lebih lanjut oleh Guidelines of Integrity tersebut. Yaitu masalah pengutipan dari sumber, reportase yang dilakukan oleh wartawan lain di luar Times, pemeriksaan kembali fakta, hal tentang korelasi, hal tentang penolakan atas berita yang ditulis Times, tentang sumber yang tak mau disebutkan namanya, teknik untuk menyamarkan sumber atau lokasi peristiwa, tentang penyamaran, dan etik dalam penggunaan foto atau imajinasi lainnya.

Kisah sukses Times berawal dari kisah seorang pemuda bernama Adolph S. Ochs yang lahir pada tahun 1858 dan meninggal tahun 1934. Dari awal Ochs menghindari korannya menjadi organ partai politik atau kelompok bisnis, sesuatu hal yang sangat sulit dilakukan. Mungkin saja karena berlatar belakang sebagai seorang Yahudi maka ia merasa tak dekat dengan dua kelompok politik tersebut; Demokrat dan Republik.

Setelah Adolph S. Ochs, Times secara berturut-turut dikelola oleh Arthur Hays Sulzberger. Ia merupakan menantu Ochs, suami dari anak satu-satunya Ochs, Iphigene Berta Ochs. Hays kemudian digantikan putranya Arthur Ochs Sulzberger selanjutnya ole Arthur Ochs Sulzberger Jr.

Berapa kekayaan Times? Majalah Forbes awal tahun 1990-an pernah menaksir kekayaan grup perusahaan Times sebesar $1,8 miliar. Ia memiliki 25 grup harian di seluruh negeri, ditambah 5 kantor layanan informasi, 9 stasiun televisi lokal dan 2 stasiun radio.

Ada satu kalimat Ochs yang sangat dikeramatkan oleh orang-orang Times. ”To give news impartially, without fear or favor” – menuliskan berita tanpa pandang bulu, tanpa takut atau pemihakan.

Times bukanlah koran biasa. Koran ini telah berusia lebih dari 100 tahun dan merupakan koran paling banyak meraih penghargaan Pulitzer di Amerika lebih dari koran-koran lainnya.

The Times hidup berdampingan dengan lebih 20 orang Presiden Amerika hingga saat ini, dan dalam jatuh bangun kehidupan politik di Amerika, sedikit banyak Times ikut memberikan pengaruhnya. Pentagon Papers, adalah salah satu kasus yang mengangkat reputasi dan kredibilitas koran ini. Ia memiliki segudang prestasi dan juga beberapa kisah cemarnya.

Buku yang berjudul The New York Times - Menulis Berita Tanpa Takut dan Memihak ini seperti disebutkan karangan Ignatius Haryanto. Kata pengantar oleh Aristides Katoppo, Penerbit Yayasan Obor Indonesia dicetakan pada Juli 2006 dengan XXVI + 120 hlm, serta ukuran buku 14,5 x 21 cm.

Pada kata pengantar buku ini kita tahu tulisan ini awalnya diperuntukkan Haryanto untuk tulisan di majalah Pantau awal tahun 2003. Namun setelah tulisan sepanjang 16 halaman dengan satu spasi itu selesai digarap, Pantau berhenti terbit karena kesulitan financial. Dengan bantuan teman sekantornya, Haryanto yang saat itu menjadi wartawan Tempo menambah beberapa bahan agar menjadi buku saku. Ia kemudian melengkapi referensi dengan beberapa buku dan riset internet.

Dari buku karya Haryanto ini kita dapat memetik pelajaran berharga, bahwa membangun kredibilitas sebuah media bukan perkara murah, dan jaminannya bukan sekedar modal uang besar, atau para wartawan yang dibajak dari sana sini. Menumbuhkan etos dan semangat para profesi ini jauh lebih penting dan indenpendensi juga hal penting yang tak bisa dilupakan.□

*Edisi Cetak Borneo Tribune, 9 September 2007

[ read the rest of this entry » ]

Sunday, September 9, 2007 |

Bersihkan Kota Jelang Bulan Baik

Oleh: Stefanus Akim & Yulan Mirza

MEMASUKI bulan suci Ramadan, Pemerintah Kota Pontianak telah membuat surat edaran untuk menutup sementara tempat hiburan maupun memberikan batasan waktu masa beroperasinya. Tujuannya jelas, agar kekhusyukkan ibadah dan doa selama bulan baik bagi umat Muslim ini terjaga.

“Kita sudah membuat surat keputusan yang harus dipatuhi oleh para pemilik tempat hiburan. Diantaranya soal penutupan tempat hiburan selama Ramadan. Kita minta ini dilaksanakan untuk menghormati mereka yang menjalankan ibadah puasa,” tutur Sutarmidji.

Politisi dari Partai Persatuan Pembangunan ini menuturkan, meski ada atau tidak ada SK, pemilik tempat hiburan diharapkan dapat mematuhi dan menghormati mereka yang menjalankan ibadah puasa. Jadi tidak alasan para pemilik tempat hiburan untuk tidak mematuhi peraturan itu.

Sutarmidji minta pengusaha tempat hiburan, jangan memanfaatkan hubungan baik atau hubungan dekat dengan pihak-pihak tertentu untuk mempengaruhi surat edaran Walikota tentang penertiban tempat hiburan. Misalnya, kata Sutarmidji, waktu tutup Diskotik pukul 23.00 WIB, namun karena pengusaha kenal dengan pejabat Pemkot, maka meminta bantuan agar bisa tutup lebih lama alias mendapat dispensasi.

“Ini seandainya. Jangan karena kenal dengan anggota dewan, maka minta bantuan untuk tidak mengindahkan SK Walikota dan diskotiknya bisa tutup lebih lama alias mendapat dispensasi,” tutur Sutarmidji.

Ia menegaskan, Pemkot akan menindak tegas jika pengelola tempat hiburan yang melanggar SK Walikota tersebut. Jika permasalahan hanya tentang keluhan pekerja di tempat hiburan yang tidak berpenghasilan selama Ramadan, menurut Sutarmidji, pengelola tempat hiburan harusnya sudah memperhatikan hal tersebut jauh hari sebelumnya.

“Jadi tidak alasan jika pemilik bicara seperti itu. Seharusnya, mereka sudah mempertimbangkan permasalahan ini jauh-jauh hari. Bukannya hal seperti ini sudah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Jadi pengelola tempat hiburan harus tahu cara mengantisipasinya,” ujar Sutarmidji.

Ke depannya, lanjut Sutarmidji, agar masalah pengelolaan tempat hiburan ini akan dibuat Perda tentang pengelolaan tempat hiburan sehingga tidak terus menjadi masalah dan selalu dipertanyakan.

Razia Tempat Hiburan
Sementara itu sejumlah tempat hiburan malam dan penginapan di Kota Pontianak kembali dirazia petugas gabungan yang terdiri dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Poltabes Pontianak dan POM TNI AL dan Provost TNI.

Pada razia yang digelar Rabu (5/9) sebanyak 32 orang diamankan oleh petugas gabungan. Razia dimulai pukul 21.00 hingga 23.30. Mereka yang terjaring diperiksa lebih lanjut kemudian digiring ke markas Satpol PP Kota Pontianak untuk didata. Ternyata sebagian dari mereka berprofesi sebagai pekerja seks komersial (PSK).

Di beberapa lokasi yang diduga prostitusi terselubung seperti penginapan, salon yang diduga plus, hotel kelas melati ratusan petugas gabungan itu masuk. Mereka menggunakan lima kendaraan, rombongan petugas itu langsung menyerbu tempat salon plus di Jalan Gajah Mada. Di sana sempat terjadi pertengkaran saat petugas ingin memeriksa para penghuninya. Setelah dijelaskan, mereka pun mengerti dan bersedia diperiksa kartu identitasnya.

Usai melakukan pemeriksaan di sejumlah salon plus, petugas gabungan kembali bergerak menuju ke Hotel Orient di Jalan Tanjungpura. Di sana petugas gabungan bersitegang dengan pengelola hotel. Pemilik hotel mengatakan dirinya telah membayar pajak sesuai aturan pemerintah. “Kami telah bayar pajak. Kalau seperti ini, kami merasa tidak enak dengan calon pengunjung yang menginap di hotel kami,” ujar pria tersebut.

Namun H Burdani mencoba menjelaskan dan menenangkan pemilik hotel sambil menjelaskan kedatangannya. Setelah diberikan penjelasan, akhirnya pemilik hotel mengijinkan dan petugas gabungan pun memeriksa satu-persatu kamar di hotel tersebut.

Petugas gabungan juga bergerak menuju ke seberang kota yaitu Siantan. Ada tiga tempat yang sempat disinggahi petugas gabungan itu antara lain Wisma Siantan di Pasar Puring, Hotel Pondok Jaya dan Hotel Benua Mas di Jalan 28 Oktober.

H Burdani adalah Kepala Seksi Penegakan Hukum dan Perundang-undangan Satpol PP Kota Pontianak. Ia mengatakan razia itu sebenarnya merupakan operasi rutin yang selalu
dilaksanakan satpol PP.

“Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin. Awalnya, kami ingin memerangi penyakit masyarakat (pekat) dan hal tersebut merupakan salah satu program Pemerintah Kota. Lantaran sebagian yang terjaring merupakan PSK, maka kami akan menindaknya dengan tindakan pidana ringan (tipiring),” terangnya.

Ternyata dalam razia tak hanya warga Indonesia yang terjaring, namun ada juga warga asing. Namun ia dilepaskan karena memiliki kartu identitas dan surat-menyurat yang sangat lengkap.

H Burdani menuturkan, menjelang bulan suci Ramadan, pihaknya akan terus gencar melakukan penertiban. Jika biasanya seminggu satu kali, kali ini bisa dua maupun tiga kali baik itu pagi, siang maupun malam. Sasarannya, café, hotel dan diskotek. Hal ini dimaksudkan, agar para pengelola tempat penginapan dan hiburan dapat mematuhi peraturan. Dan semua itu nantinya berdasarkan surat keputusan Walikota Pontianak diharuskan dapat dipatuhi.

Pada hari sebelumnya, Selasa (4/9) petugas gabungan juga menertibkan tempat-tempat hiburan. Tujuannya agar tercipta suasana aman dan tertib. Kegiatan ini berlangsung mulai dari pukul 08.00 hingga 12.00. razia mengamankan 26 orang terdiri tujuh laki-laki dan 19 perempuan.

Ke 26 orang itu digelandang ke markas Satpol PP Kota Pontianak. Di kawasan Pontianak Selatan petugas menyinggahi satu-persatu tempat penginapan. Di mulai dari pemeriksaan beberapa salon plus di Jalan Gajah Mada. Di sana petugas tidak berhasil menemukan pasangan satu pun. Hingga akhirnya mereka pun bergerak menuju ke Hotel Flamboyan di Jalan Pahlawan.

Petugas gabungan langsung masuk ke dalam hotel tersebut. Satu-persatu kamar di hotel itu digeledah. Hasilnya, nihil. Saat pemeriksaan satu persatu kamar itu, petugas hanya menemukan tas milik perempuan maupun sebuah alat charger handphone.

Di beberapa tempat petugas tak menemukan sambutan yang baik. Misalnya saat melakukan razia di tempat kost sejumlah pintu tempat kost yang biasanya selalu terbuka mendadak tertutup. Bahkan saat salah seorang petugas mengetuk pintu kost, pemilik kost itu tidak mau membukanya. Sepertinya mereka mengetahui adanya peristiwa razia itu.

Selanjutnya, petugas gabungan bergerak menuju ke Jalan Barito tepatnya di Losmen Barito. Di sana petugas menemukan beberapa pasangan tanpa dilengkapi surat nikah. Bahkan beberapa penghuni tidak memiliki kartu identitasnya maupun telah habis masa berlakunya. Sehingga petugas Satpol PP terpaksa mendata dan selanjutnya menggiring mereka ke dalam truk satpol PP.

Mendapatkan pasangan tanpa surat nikah itu, membuat petugas gabungan semakin gencar mencari pasangan tanpa surat nikah di tempat lain. Menyisir kawasan Pasar Tengah, petugas gabungan terhenti di salah satu tempat penginapan di tepian Sungai Kapuas. Setelah memeriksa satu persatu kamar di tempat itu, petugas tidak menemukan satu pasangan pun.

Berselang beberapa menit kemudian, petugas pun bergeser dan mengarah ke Hotel Wijaya di Pasar Kapuas Indah. Memeriksa satu persatu kamar, petugas berhasil menemukan dan mengamankan beberapa pasangan surat tanpa nikah. Yang mengejutkan lagi, petugas gabungan itu berhasil mengamankan sepasang muda-mudi yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Ternyata pasangan itu merupakan siswa SMA 4 yang usai melakukan adegan asmara di dalam kamar.

Mereka diketahui sebagai pelajar setelah petugas meminta kartu pelajar milik pasangan itu. Di dalam tas keduanya petugas juga menemukan sebuah buku pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas XII, beberapa buku tulis serta seragam olah raga tertulis SMA 4. Kedua pasangan ini kemudian digiring ke dalam truk dan selanjutnya dibawa ke kantor Satpol PP.

Dalam surat imbauannya Nomor 2 Tahun 2007, Walikota Pontianak Buchary A Rahman, menegaskan kepada seluruh masyarakat, pemilik, pengusaha yang menyediakan tempat-tempat hiburan di wilayah Kota Pontianak untuk menutup diskotek mulai tanggal 13 September hingga 14 Oktober. Khusus untuk karaoke dan café ditutup pada 13-14 September dan dapat dibuka kembali pada 14 September pukul 20.30 hingga 24.00.

“Saya meminta kepada para pedagang tidak memperjualbelikan petasan atau mercon, serta membunyikannya, karena akan mengganggu ketertiban dan ketenteraman masyarakat serta dapat membahayakan orang lain,” bunyi surat edaran yang ditandatangai Buchary A Rahman.

Ia juga meminta kepada masyarakat agar dapat menyulutkan meriam karbit, satu hari menjelang perayaan Idul Fitri dan tiga hari setelah perayaan Idul Fitri 1428 H. Bagi pemilik restoran, rumah makan, dan sejenisnya dapat memasang tabir penutup agar tidak terlihat secara langsung oleh masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa bulan suci Ramadhan 1428 H.

Serta, kepada seluruh warga masyarakat Kota Pontianak agar selalu menjaga ketertiban dan ketenteraman umum di lingkungannya masing-masing selama bulan suci Ramadan tahun 1428.

“Razia itu sebenarnya merupakan operasi rutin yang selalu dilaksanakan satpol PP. Namun menjelang bulan suci Ramadhan, kami akan terus gencar melakukan penertiban di sejumlah tempat hiburan dan penginapan Kota Pontianak,” kata H Burdani.□

*Edisi Cetak Borneo Tribune, 9 September 2007

[ read the rest of this entry » ]

|

Even Budaya di Pontianak

Oleh: Stefanus Akim

KOTA Pontianak yang multi etnis memiliki seni dan budaya yang beragam sekaligus kaya. Berbagai even digelar dengan tujuan menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Masyarakat Pontianak lebih heterogen, ini disebabkan karena menjadi daerah yang terbuka dan pusat kegiatan pemerintahan, swasta, dan sosial budaya. Pendatang dengan mudah masuk dan berusaha di Pontianak dibandingkan dengan kabupaten lain. Jika dilihat hampir sebagian besar suku bangsa yang ada di Indonesia ada.

Agar peristiwa budaya tersebut menarik kunjungan wisatawan Pemkot mengadakannya secara berkala. Sejumlah even yang tak tak asing lagi diantaranya adalah Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK). Festival ini diselenggarakan setiap dua tahun sekali dan dimulai pada tahun 1991, 1993, 1995 dan tahun 1997.

Sejumlah kabupaten/kota dan provinsi di Kalbar serta Sumatera diundang untuk mengikuti festival yang dipusatkan di Kota Pontianak. Biasanya diselenggarakan pada tanggal 21 sampai dengan tanggal 25 Maret yang dirangkai dengan kulminasi matahari. Namun tahun ini tak digelar hari ini, 5 September 2007.

Pada 22 Maret 2007 lalu juga digelar Lomba Dayung Hias dan Tradisional. Sepertinya Pemerintah Kota Pontianak mengagendakan kegiatan ini untuk digelar dua tahun sekali. Perlombaan ini unik karena sampan tradisional yang berlomba dihiasi ornamen-ornamen budaya masing- masing daerah.

Selain even dua tahunan, juga ada even tahunan. Diantaranya Gawai Dayak, Meriam Karbit, Cap Go Meh dan Festival Barongsai serta Naga, Imlek, serta Naik Dango.

Gawai Dayak diselenggarakan setiap tahun yang biasanya pada 20 Mei sampai dengan tanggal 25 Mei di Rumah Panjang Jalan Sutoyo Pontianak. Even ini di pedalaman sebagai bentuk ucapan syukur selepas panen padi. Di Pontianak selain menjaga tradisi dan budaya agar terus hidup juga untuk menumbuh kembangkan budaya suku Dayak yang masih berkembang seperti budaya, seni, penduduk asli Kalimantan Barat.

Even yang tak kalah meraihnya adalah Festival Meriam Karbit dan Keriang Bandong. Meriam Karbit biasanya diselenggarakan pada bulan Puasa (Ramadhan) menjelang Hari Raya Lebaran (Idul Fitri) dimana masyarakat yang berada di sisi Sungai Kapuas saling berhadapan dan membunyikan meriam karbit yang saling bersahutan.

Untuk masyarakat Tionghoa mereka menggelar perayaan Cap Go Meh. Yang ditampilkan dan kadang diperlombakan adalah barongsai dan naga. Biasanya digelar pada 15 hari setelah Tahun Baru masyarakat China (Tionghoa).□

[ read the rest of this entry » ]

Tuesday, September 4, 2007 |

Pameran Foto Lukas B Wijanarko

Oleh: Stefanus Akim

Pameran foto bertajuk “Presenting Pontianak” yang digelar fotografer Lukas B Wijanarko berjalan sukses. Pembukaan pameran di Hotel Gajahmada dilakukan anggota DPR-RI asal Kalimantan Barat H. Muhammad Akil Mochtar SH MH dan dihadiri sejumlah pejabat Kota Pontianak, seniman, fotografer, wartawan dan undangan.

”Berbicara mengenai kota, adalah berbicara mengenai sesuatu yang hidup. Dinamis dan terus bergerak. Kehidupan mencari ruangnya sendiri,” kata Akil yang membuka acara tersebut.

Pada pusaran waktu yang berjalan cepat dan tak beraturan. Kota adalah magnet. Kerlip lampu kota sanggup menyihir orang daerah, untuk mendatangi dan menyerahkan hidupnya pada rutinitas kota. Kota seolah menjadi penentu dari segala keberhasilan yang ingin dicapai. Kota juga menjadi simbol aktualisasi. Pencapaian dan modernitas.

”Kemajuan dan kehidupan modern kota, seolah menjadi simbol majunya suatu peradaban. Tak heran, kota pun menghadirkan berbagai budaya baru, khas masyarakat urban. Kaum urban datang dari berbagai strata, budaya, tingkat pendidikan, dan latar belakang sosial. Kota menampung berbagai karakteristik budaya dari penghuninya,” kata politisi Partai Golkar yang kemarin pagi mengenakan setelan batik cokelat dan celana hitam.

Ia mengatakan, interaksi itu mewujud dalam berbagai perilaku kehidupan masyarakat, bangunan, makanan, dan pola interaksi sosial. Dari sinilah lahir penciptaan, tata nilai, budaya dan berbagai nilai baru kehidupan masyarakat kota.

Menurut Akil, interaksi bangunan mewujud pada munculnya berbagai seni bangunan, jembatan, kantor, mall dan bangunan lainnya. Masyarakat mencipta dan berkreasi. Pada tahap ini, identitas mewujud pada bangunan yang diciptakan. Orang mencipta identitasnya, pada bentuk fisik bangunan. Namun, seiring berjalannya waktu, bangunan itulah yang akhirnya membentuk identitas masyarakat itu sendiri.

”Melalui bangunan inilah, sejarah perkembangan kota dapat ditelusuri dan dilihat. Sebagai contoh kota-kota di Eropa. Sejarah perkembangan kota bisa dilihat dari wujud bangunan yang berciri Baroc, Renaissance, modern hingga postmodern. Begitu pun dengan simbol masyarakat kota yang identik dengan kemajuan dan modernitas. Masyarakat kota merepresentasikan dirinya melalui cara berpakaian dan pergaulan,” papar dia.

Akil melihat Kota Pontianak sebagai representasi masyarakat urban di Kalbar. Tak heran, modernitas kehidupan urban, sangat mewujud pada kehidupan di jalan, mall, atau ruang publik lainnya. Areal itu, menjadi ruang kolektif dan pencitraan diri berbagai masyarakat perkotaan.

Masyarakat menjadi konsumtif. Pada perkembangannya, pembangunan di wilayah perkotaan, juga menghadirkan berbagai permasalahan spesifik. Seperti, tata ruang kota, ruang publik, krimina litas, sampah, lalu lintas, penyediaan energi, polusi, banjir, dan lainnya.

Permasalahan ini perlu cara dan strategi khusus mengatasinya. Karena itulah, kota harus punya strategi pembangunan kota berkelanjutan. Dalam arti, kota dalam tahap perkembangannya, harus mampu memenuhi ke butuhan masyarakat di masa sekarang, tanpa mengabaikan kemampuan generasi mendatang mencukupi kebutuhannya.

”Dalam hal ini, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam pembangunan konsep kota berkelanjutan. Kebijakan perencanaan pembangunan kota, harus bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Pembangunan kota juga harus punya visi, dan mempertimbangkan permasalahan kota ke depannya,” kata dia mengingatkan.

Sementara Lukas menuturkan, fotografi sebagai suatu bahasa komunikasi visual, terbukti punya pengaruh besar di masyarakat. Fotografi sanggup menjembatani berbagai lapisan masyarakat, mulai dari strata sosial paling rendah hingga paling tinggi, sekali pun.

”Dengan pameran ini saya ingin membuat darma bakti sesuai dengan bidang yang saya tekuni sekarang. Bagaimanapun juga, Kota Pontianak telah memberi berbagai kenangan, pengalaman dan proses kreatif di bidang fotografi yang saya tekuni,” kata alumnus Institut Kesenian Jakarta ini.

Lukas mengatakan, pameran ini berisi berbagai foto tentang struktur Kota Pontianak, bangunan, budaya, perilaku dan pergulatan manusianya dalam menghadapi berbagai permasalahan. Pameran menampilkan 30 frame foto.

Lukas adalah salah satu fotografer terbaik di Pontianak. Hasil jepretan dan keuletan mencari momen serta sudut pandang foto tak diragukan lagi. Lulus dari jurusan Fotografi Jurnalistik IKJ Jakarta, Lukas bergabung dengan sejumlah media cetak. Ia juga sempat melakoni sebagai fotografer freelance dan kini ia bergabung dengan harian Borneo Tribune.

Usai pembukaan pameran masih diisi serangkaian kegiatan. Diantaranya diskusi masalah perkotaan dengan pembicara Wakil Walikota Pontianak, H. Sutarmidji, SH, M.Hum dan budayawan HA Halim Ramli dengan moderator Redaktur Borneo Tribune, Tanto Yakobus, S.Sos. Rencananya pameran ini akan berlangsung secara bergilir. Mulai 1 September-4 Oktober 2007. Pameran akan digelar di Hotel Gajah Mada, Hotel Santika, Matahari Departemen Store, dan Hotel Kapuas Palace.

Pada hari pertama pameran, tiga buah foto Lukas dikoleksi pejabat. Akil mengoleksi foto dengan judul Peacefull. Foto ini menggambarkan hubungan yang harmonis antara alam dan sekitarnya dengan background Sungai Kapuas. Sutarmidji mengoleksi foto dengan judul Saksi Bisu. Foto ini bercerita tentang bangunan tempo doeloe di Jalan Tanjungpura yang menjadi saksi dari zaman yang terus bergerak. Lukas mengabadikan bangunan yang eksotik tersebut pada tengah malam saat suasana sepi. Sementara Kepala Dinas PU Kota Pontianak, Ir H Edi Rusdi Kamtono, MM mengoleksi foto yang menggambarkan masjid jami’. Foto tersebut berjudul Sang Pemula.□

[ read the rest of this entry » ]

|

Inspirasi Bagi Pembunuh

Oleh: Stefanus Akim

Dor, dor, dor. Dor!
Empat buah tembakan membelah keheningan malam. Empat buah timah panas yang keluar dari moncong revolver bersarang di tubuh seorang laki-laki berusia 40 tahun. John Lennon. Ia roboh dan bersimbah darah hanya beberapa langkah dari limosin yang baru saja mengantarnya di apartemen Dakota tempat ia tinggal selama ini. Polisi bertindak cepat, membawa mantan vokalis band The Beatles ini ke rumah sakit Roosevelt, namun ia meninggal beberapa saat kemudian. Kejadian itu terjadi di musim dingin 8 Desember 1980.

Pagi hari, beberapa jam sebelum John Lennon terbunuh Mark David Chapman meminta dia menandatangani sebuah buku, The Catcher in The Rye. Chapman sangat terinspirasi dengan novel karangan Jerome David Salinger. Bahwa dirinyalah Holden Caulfield, tokoh utama novel itu. Pria berkacamata itu bahkan pernah menapaktilasi jalanan New York yang dilalui Holden pada malam-malam dingin menjelang Natal. Chapman menembak John Lenon dan mengaku terinspirasi setelah membaca The Catcher in The Rye.

Mengapa buku ini menjadi inspirasi bagi sebagian orang psycho untuk membunuh? Jawabannya beragam. Salah satunya mungkin karena semangat ‘pemberontakan’ yang dilakukan oleh seorang remaja, Holden Caulfield. Terhadap dunia remaja menjelang dewasa. “Salah satu alasan paling besar kenapa aku angkat kaki dari Elkton Hills adalah karena ketika disana aku terjebak di tengah-tengah sederetan pecundang yang serba munafik, itu saja. Mereka ada dimana-mana. Misalnya, mereka punya seorang kepala sekolah, Pak Haas, bajingan paling munafik yang aku temui seumur hidupku.”

Holden sudah tiga kali pindah sekolah. Mulai dari Sekolah Whooton dan Elkton Hills hingga Pencey Prep di Agerstoon, Pennsylvania. ”Yang namanya pertandingan sepakbola selalu saja miskin penonton gadis. Cuma para senior yang boleh membawa pacar mereka. Ini memang sekolah payah.”

Saat terbit pertama kali di Amerika pada 16 Juli 1951 buku ini menjadi fenomena. Pejabat melarang untuk beredar. Salah satu alasannya, buku dengan genre bildungsroman atau karya untuk remaja yang beranjak dewasa ini menggunakan bahasa-bahasa kasar. Ia melihat lingkungan sosial dari kacamata seorang remaja pemberontak yang bermasalah dengan lingkungan sosial dan kepribadiannya. Ia menilai lingkungan dewasa penuh dengan kepalsuan. ”Ini memang sekolah payah, dilihat dari sisi manapun. Aku lebih suka bersekolah di tempat lain, di mana paling tidak ada segelintir gadis bisa dilihat. Mungkin mereka sekedar garuk-garuk, mengeluarkan ingus, atau bahkan cuma cekikan atau itulah, masa bodoh.”

Kini setelah 48 tahun, buku itu terbit dalam bahasa Indonesia. Adalah penerbit Banana yang menerbitkannya untuk Anda. Setelah terbitan pertama laku keras, diluncurkan terbitan kedua Juli 2007 untuk Anda yang belum sempat mengkoleksi. Buku dengan cover putih kekuning-kuningan dan sebuah bola mata berikut alis mata hitam dan riapan rambut coklat yang didesain Bondan Winarno masih menggunakan judul aslinya, The Catcher in The Rye. Yusi Avianto Pareanom, sebagaimana buku-buku terbitan Banana menjadi editor untuk buku setebal 300 halaman dengan ukuran 19 senti.

Kata-kata (maaf) kasar, kurang ajar, sumpah serapah akan mudah sekali ditemui dalam buku ini. Holden Caulfield, melakukannya secara vulgar dan terang-terangan. Tapi di sinilah letak ”bagus” dan membedakan karya ini dengan yang lain. Simak misalnya, ”Bangsat sialan, minggir kau, cepat bangun dari atas badanku.
Meskipun sudah berusia 48 tahun dan diterbitkan dengan versi Indonesia namun novel karangan seorang novelis dan penulis yang lahir di Manhattan, Now York 1 Januari 1919 ini tetap tak kalah menggigit dibandingkan versi orosinil-Inggris. Tentu saja Salinger tidak bermaksud mengilhami siapapun untuk membunuh atau berbuat kasar setelah membaca karyanya.

Memang jika ditilik, buku ini bukan satu-satunya yang menginspirasikan para psycho melakukan aksi brutal. Ada beberapa karya serupa tapi tak sama yang punya pengaruh ”dahsyat”. Sebut saja misalnya Anthony Fawcett dengan One Day At A Time. Kemudian ada Isaac Asimov dengan novel serialnya Foundation, memengaruhi Shoko Asahara ketua Aum Shinrikyo, sebuah sekte kiamat meledakkan gas sarin di stasiun bawah tanah Tokyo yang menyebabkan 12 orang tewas dan 5 ribu oarng terluka.

Di belahan dunia lain, novel The Turner Diaries memengaruhi Timothy McVeigh menjalankan dengan tepat aksi teror yang diceritakan dalam buku tersebut. Ia kemudian meledakkan gedung federal di Oklahoma, AS. Seratus enam puluh delapan orang tewas karenanya.

Ada pula Theodore John Kaczynski, PhD, mendapatkan ide dan inspirasi untuk melakukan teror ini dari sebuah novel berjudul The Secret Agent, karangan Joseph Conrad. Ia mengirimkan sejumlah bom surat dalam rentang 18 tahun. Tiga orang tewas dan 29 lainnya terluka akibat aksi ini. Sementara novel The Collector karya John Fowles yang terbit untuk pertama kalinya pada 1963 sudah menginspirasi, sedikitnya, lima pembunuhan berantai dan 40 pembantaian.

The Catcher in The Rye tidak eksplisit mengajarkan bagaimana cara-cara membunuh. Bahkan memotivasi pun tidak. Mungkin kemarahan kritik-kritik dan seorang anak muda yang merasa dirinya adalah korban dari sistem, bisa mendorong pembaca yang punya masalah kejiwaan dan mengalami nasib yang sama dengan Holden untuk melakukan hal-hal nekad. Ia pembaca yang marah, merasa tidak ada yang memahaminya, tapi sangat sayang keluarga seperti Holden.

Setelah membaca buku ini apakah Anda juga ingin membunuh? Tentu saja jawabannya terserah Anda. Sesungguhnya ada sebuah pelajaran berharga yang bisa dipetik. Bahwa buku itu mengajarkan semangat orang muda dan perjuangannya. Jika Anda orang lemah, jangan baca! Sebab ia diperuntukkan bagi mereka yang kuat dan punya daya juang.□

*Edisi Cetak Borneo Tribune, 2 September 2007

[ read the rest of this entry » ]

Saturday, September 1, 2007 |

Kategori

Total Pageviews