Pak Sirat

Ketika Orang Kecil Memaknai Perbedaan
Oleh: Stefanus Akim

Hingga 25 Juni 2007 lalu aku masih sering berkunjung ke TK Bruder Kanisius Siantan. Pak Sirat, tukang sapu sekolah. Ia orang Madura, muslim, bekerja di yayasan Katolik yang dikelola para biarawan dari Kongregrasi Broeders Van de Congregatie van de Onbevlekte Ontvangenis atau Maria Tak Bernoda (MTB).

Saban hari sejak lima tahun silam ia tenggelam dalam rutinitas, menyapu halaman menggunakan sapu rotan yang dibelah halus namun keras. Sapu model itu paling cocok untuk membersihkan daun hingga butiran pasir. Usianya sekitar 50 tahun. Meskipun tubuhnya kecil dan pendek namun terlihat kuat dan mampu mengangkat beban berat. ”Seperti ini lah setiap hari, menyapu dan menebas rumput. Membersihkan kelas dan membantu memasak air untuk guru kalau petugasnya tak datang,” katanya.

Untuk kerja kerasnya, ia mendapatkan gaji Rp 800 ribu per bulan. Uang itu digunakan untuk menghidupi istri dan anak-anaknya. Bagi dirinya yang tak mengenal bangku sekolah, pak Sirat mengaku jumlah itu cukup berarti buat memenuhi kebutuhan keluarga. Ia mulai bekerja pagi sekali sebelum jam sekolah mulai dan pulang ke rumah setelah jam sekolah usai.

Aku duduk di bangku panjang yang terbuat dari semen di depan sekolah yang juga tempat parkir kendaraan sambil memperhatikan pak Sirat bekerja. ”Sret...sret...sret”. Sapu ditangannya mondar-mandir menyapu daun-daun kering yang jatuh dari pohon Ketapang (Terminalia catappa L). Daun-daun itu mengotori halaman yang semuanya dicor semen. Setelah dikumpulkannya dalam satu tempat, sampah itu dimasukkan dalam gerobak sorong menggunakan sepotong tripleks kecil.

”Sret...sret...sret...” pak Sirat kembali mengayunkan sapunya. Kali ini yang dibersihkannya sampah di dalam selokan yang juga terbuat dari semen. Kedua telapak tangannya yang berwarna gelap tak canggung mengangkat sampah basah ke dalam gerobak sorong.

”Panas ya pak,” sapaku. Kulihat beberapa kali ia menyeka keringat dijidatnya dengan punggung lengan.

”Ie...panas,” jawabnya singkat.

Dari situlah obrolan kami dimulai. Pak Sirat tak malu-malu menceritakan masa lalunya. Bagaimana ia bertemu dan kemudian bekerja dengan Br Alexando MTB yang kemudian mengangkatnya sebagai pegawai di TK Bruder Kanisius. Br singkatan dari Bruder. Seorang bruder adalah juga biarawan Katolik, sama seprti frater atau pastor. Bedanya, bruder tidak menerima tahbisan Imamat sehingga tak berhak memimpin misa. Ia biasanya bergabung dalam sebuah organisasi yang dikenal dengan ordo atau kongregrasi.

”Dulu saya kerja nukang, itu sekolah di belakang rumah bruder,” katanya saat kutanya soal pekerjaan yang dilakoninya.

Aku tahu maksud pak Sirat. Yang dimaksud pastilah kompleks sekolah SMA St Paulus. Di lingkungan itu juga terdapat TK hingga SMP yang semuanya menggunakan nama Melati. Sebuah yayasan pendidikan yang dikelola para Bruder MTB.

Saat mulai bekerja lima tahun silam, ia ikut teman-temannya. Jumlahnya belasan orang. Jarak antara rumah dan tempat bekerjanya cukup jauh. Untuk sampai di tempat kerja harus menggunakan kapal ferry penyeberangan atau opelet (angkutan kota). Kadang kalau kehabisan ongkos ia menumpang boncengan sepeda atau sepeda motor teman.
Pak Sirat dan teman-teman membangun gedung SD berlantai tiga. Bruder Alexandro yang mengepalainya, seorang biarawan MTB dari Italia yang juga mengelola Sekolah Pertukangan St Yosep di Sungai Raya. Zaman dulu orang mengenal sekolah pertukangan dengan Ambak School. Para siswa yang umumnya dari kampung diajari pertukangan, mulai tukang kayu, besi hingga beton.

Pak Sirat kini ikut duduk di kursi beton, mungkin mencoba menghilangkan lelah setelah bekerja di bawah terik matahari. Pak Sirat terus bercerita, suaranya lembut dan ramah.

Suatu waktu, kata dia, bruder Alex meminta dia mengambil cat di kamarnya. ”Di situ banyak duit. Ada yang seribu, lima ribu, 10 ribu di simpan di atas meja,” kenang dia.

Beberapa hari kemudian ia kembali disuruh mengambil bahan bangunan. Setelah itu pak Sirat lebih sering diminta bruder masuk ke kamarnya, mengambil keperluan apa saja. Mulai cat, paku, alat tukang, kuas atau kabel.

Beberapa bulan kemudian pekerjaan itu selesai. Saat teman-temannya mencari kerja di tempat lain, pak Sirat justru diminta Alex untuk tetap tinggal membantu di lingkungan sekolah dan biara. Kerjanya apa saja yang bisa dikerjakan. Beberapa bulan kemudian ia diminta menjaga kebersihan di TK Bruder Kanisius karena sekolah itu kekurangan tenaga. Sejak saat itu hingga kini pak Sirat dengan tekun menjalani pekerjaannya.

”Saya tak tahu apa pertimbangan bruder menerima bekerja dengan dia. Mungkin saat masuk di kamarnya dia menguji saya.”

Ia punya beberapa kenangan manis selama bekerja dengan bruder Alex. ”Kalau dekat lebaran bruder piara ayam putih (ayam daging). Empat hari sebelum lebaran kami yang nukang dibagi ada yang tiga ekor ada yang empat ekor. Kami juga dikasi duit,” kenang Sirat.

Suatu ketika Alex menjual setengah harga tong air plastik untuk para pekerjanya. Tong yang berukuran 1.000 liter itu seharga sekitar 600 ribu. Mereka boleh mencicil dengan dipotong gaji. Setelah didiskon 50 persen menjadi 300 ribu. Pak Sirat tak ikut mengambil tong karena sudah memiliki banyak tempayan, tapi ia minta belikan sepeda agar lebih mudah berangkat bekerja. ”Harganya 400 ribu, saya diminta bayar 200 ribu nyicil,” kata dia tersenyum.

Suatu ketika bruder Alex sakit dan dirawat di rumah sakit Santo Antonius. Ini rumah sakit swasta terbesar di Kalimantan Barat yang dikelola Keuskupan Agung Pontianak dan kongregasi suster SFIC. SFIC kependekan dari Suster Fransiskanes Imacullate Conception yang jika diindonesiakan artinya Suster-Suster Fransiskus dari Perkandungan tak Bernoda Bunda Suci Allah. Pak Sirat menyempatkan diri mengunjunginya dan membawa buah-buahan untuk bruder Alexandro.

”Bruder senang sekali. Dia bilang pak Sirat tak usah bawa apa-apa, buah itu untuk anak dan istri saja di rumah. Pak Sirat tahu tidak disini biayanya mahal. Satu bulan gaji bapak tak cukup untuk membayar biaya satu malam. Jadi jaga kesehatan jangan sakit,”.

Saking senangnya bruder Alex tertawa sampai terbahak-bahak.

Ia juga ingat saat mengantarkan bruder Alex memberikan bantuan kepada korban puting beliung di Parit Wan Salim, Siantan. Keluarga yang kebanyakan Madura itu dibantu Rp 200 ribu per kepala keluarga.

“Orang barat itu tegas. Kalau dia marah, marah depan orang. Kalau dia minta tolong harus cepat maka dia akan senang,” ia menilai.

Kini setelah tiga bulan aku tak lagi pernah bertemu dengan pak Sirat. Namun aku membayangkan pastilah ia setia dengan pekerjaannya. Menyapu halaman, mengepel lantai hingga menebas rumput.

Saat ini justru aku lebih sering bertemu bruder Alex. Setiap pagi Supervisor Pembangunan di sekolah asuhan Yayasan Bruder itu mondar-mandir mengawasi pembanguan aula persekolahan, mengawasi pembuatan taman, mengatur parkir atau hanya bersapa sambil lalu dengan orang tua murid, guru atau para siswa. Ada keinginan untuk menanyakannya pandangannya soal pak Sirat, namun niat itu kuurungkan melihat kakinya yang tak pernah berhenti melangkah.

Pertemanan kedua orang ini sangat unik. Tak hanya sekedar atasan dan bawahan atau majikan dan buruh. Keduanya berbeda suku bangsa, ras, keyakinan dan pendidikan. Namun akrab dan saling menghargai. Bruder Alex orang Eropa, ras Kaukasoid biarawan Katolik dan berpendidikan tinggi yang diselesaikan di Eropa. Di sisi lain pak Sirat bangsa Indonesia, suku Madura, ras Mongoloid dan berpendidikan minim. Namun keduanya mengerti makna hakiki dan memaknai sebuah perbedaan. Keduanya tahu bagaimana memahami dan memberlakukan sesama manusia.□

*Edisi Cetak Borneo Tribune 24 Agustus 2007

[ read the rest of this entry » ]

Wednesday, August 22, 2007 |

Ekspedisi dan Perjumpaan

Judul Buku : Mengajari Batu Bicara
Pengarang : Annie Dillard
Editor : Yusi Avianto Pareanom (edisi terjemahan bahasa Indonesia)
Penerbit : Banana, Jakarta
Cetakan pertama : Juni 2007, 205 halaman, 12 cm
Peresensi : Stefanus Akim

Mengajari Batu Bicara, adalah satu dari 13 tulisan yang ada dalam buku ini. Buku yang diterbitkan Banana ini adalah sebuah antologi (kumpulan karangan) dari Annie Dillard. Tulisan ini dibuat berdasarkan penjelajahan fisik dan rohani yang akhirnya menemukan fakta alam dan hakikat manusia.

Pada bagian akhir buku ini disebutkan, Annie Dillard, lahir pada 1945 di Pitsburgh. Kuliah di Hollins College Virginia. Setelah tinggal lima tahun di Pasifik Barat Laut, dia kembali ke Pesisir Timur, tempat tinggalnya saat ini bersama keluarganya. Ia adalah anggota Academy of Arts and Letters dan penerima beasiswa dari John Simon Guggenheim Foundation dan National Endowment for the Art. Dillard Sudah menulis sepuluh buku, salah satunya adalah Pilgrim at Tinker Creek yang mendapatkan Hadiah Pulitzer. Karya lain, An American Childhood, The Living, dan Morning Like This.

Tulisan pertama dalam buku ini adalah Mengajari Batu Bicara, selanjutnya Ekspedisi ke Kutub, Hidup Bagai Linsang, Di Rimba Raya dan Rusa di Providence. Selanjutnya Di Bukit Jauh, Lensa, Kehidupan di Gugusan Karang: Galapagos, Di Padang senyap, Tuhan di Pintu, Fatamorgana, Pengembara dan Kartu AS dan Angka Delapan.

Ia mengakui dari 13 buah tulisan tersebut tak semuanya pernah dipublikasikan atau diterbitkan serta ada juga yang dipublikasikan untuk kalangan terbatas. Namun ia punya alasan sendiri soal itu. ”Kendati demikian, buku ini bukan kumpulan tulisan sporadis, seperti yang digunakan seorang penulis untuk melengkapi karya pokoknya; inilah karya utama saya,” tulis Dillard pada bagian depan bukunya.

Dillard sangat eksentrik dan teliti dengan deskripsi tulisannya. Bahkan kadang-kadang sangat tajam dan menukik. ”Pulau tempat tinggalku dihuni orang-orang eksentrik seperti diriku. Di sebuah gubuk reot kayu cedar di atas tebing-asal tahu saja. Kami semua hidup seperti itu-seorang laki-laki tiga puluhan hidup sendiri bersama sebongkah batu yang berusia diajarinya bicara,” tulis Dillard mengawali tulisannya tentang Mengajari Batu Bicara.

Pada bagian akhir Mengajari Batu Bicara ia menulis, senyap semata yang ada. Inilah alfa dan omega. Inilah permenungan Tuhan di atas permukaan air; inilah nada campur aduk sepuluh ribu hal, deru sayap. Kau melangkah ke arah yang tepat untuk mendoakan kesenyapan ini, dan bahkan menunjukkan doa itu kepada ”Dunia.” Perbedaan mengabur. Tinggalkan tendamu. Berdoalah sampai henti.

Karya prosa deskripsi yang menjelajah dunia fakta alam dan hakikat manusia ini mendapat banyak pujian dari orang ternama. R. Buckminster Fuller misalnya menulis, Mengajari Batu Bicara sungguh dahsyat. Seperti ikan terbang, Annie Dillard tidak sering melakukannya, tetapi begitu beraksi dia melesat tak terduga dan dengan gemilang melibas semua penulis zaman kita dengan cara sangat sederhana, akrab, dan indah khas seorang aster sejati.

Prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasannya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide.

Kirkus Review menulis, sebuah koleksi meditasi layaknya batu mulia ditata amat cermat, realistis namun cenderung kepada Misteri, dan tanpa tanding ketika memompakan gaung dunia alami.

Pada tulisan-tulisan berikutnya, Dillard terus mengikat pembaca dengan tulisan-tulisan yang renyah dan ”basah”. Dia membuat kita tak akan buru-buru menyimpan buku di rak sebelum selesai membaca.□

*Edisi Cetak Borneo Tribune 19 Agustus 2007

[ read the rest of this entry » ]

Saturday, August 18, 2007 |

“Long Jakar” Refleksi Kemerdekaan ala Borneo Tribune

Oleh: Stefanus Akim

Banyak cara untuk memperingati dan mengisi proklamasi yang usianya kini sudah 62 tahun. Borneo Tribune, koran yang terbit dengan motto idealisme, keberagaman dan kebersamaan mengusung diskusi kecil dan santai di ruang redaksi pada malam peringatan proklamasi. Diskusi yang mengundang tokoh masyarakat sekitar, sejumlah NGO, tokoh pemerintahan, akademisi, seniman, pelajar, DPRD dan kalangan pers itu diisi dengan makan lontong dan jagung bakar. Dari kata lontong dan jagung bakar itulah Nur Iskandar-Nuris-Pimred kami berseloroh dengan sesama awak Borneo Tribune acara tersebut Long Jakar.

Diskusi sederhana namun kadang juga njelimet dan serius berjalan lancar dan akrab diselingi gelak tawa para peserta yang melantai di atas tikar. Nuris menjadi moderator sekaligus ”pagar ayu” yang menyambut dan mempersilakan tamu-tamu datang. Awak Borneo Tribune mulai dari redaksi (wartawan dan redaktur), pracetak, keuangan turut hadir. Semua yang hadir dipersilakan berbicara bebas termasuk kritik pedas untuk Borneo Tribune yang dua hari lagi genap berusia 3 bulan. Berbagai isu dan wacana meluncur deras. Mulai dari penertiban illegal logging dan solusinya, makna kemerdekaan, demo penurunan bendera di kantor gubernur beberapa bulan silam, rubrikasi dan keberpihakan Borneo Tribune terhadap mereka yang termarjinalkan.

Suasana semakin istimewa dengan kehadiran Ripana Puntarasa dari Neighborhood Upgrading and Shelter Sector Project (NUSSP) Jakarta sebuah lembaga yang bertujuan membantu pemerintah dalam mengurangi atau menurunkan tingkat kemiskinan di perkotaan melalui kemitraan antara pemerintah, sektor swasta dan masyarakat. Ripana adalah Institutional Development Specialist NMC-NUSSP.

Di kalangan pers hadir Halim Ramli, wartawan tiga generasi yang pernah menjabat pimpinan redaksi di harian Pontianak Post. Meskipun sudah berumur namun laki-laki yang dikenal lewat tulisannya Mat Belatong masih terlihat bersemangat.

Di kalangan pers hadir Turiman Faturahman Nur. Ia salah seorang ahli Tata Negara di Fakultas Hukum Untan yang menyelesaikan S-2 dengan tesis tentang pembuat lambang negara Indonesia. Ternyata, menurut hasil penelusuran Turiman, yang membuat lambang negara-Garuda Pancasila-adalah Sultan Hamid II bukan M Yamin seperti yang disebut-sebut selama ini.

Hadir juga Michael Yan Sriwidodo SE MM anggota Fraksi Golkar DPRD Kalbar, Dwi Syafriyanti, SH seorang pengacara yang tergabung dalam kantor pengacara W Suwito Associates. Di kalangan NGO hadir juga Faisal Riza, alumnus Teknik Untan yang aktof di LPS-AIR dan Jari Borneo Barat. Pelaksana Kepala Taman Budaya pak Zen, dan tentu saja Ketua RT, Suprianto beserta beberapa tokoh masyarakatnya. Kalangan seniman ada Pay Jarot. Ia adalah seorang cerpenis, novelis dan penulis yang cukup produktif di Kalbar. Ada juga Pradono, sastrawan yang cukup punya nama hingga ke Serawak. Kalangan Birokrat hadir Hamdan Harun, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.

Nuris membuka diskusi dengan memperkenalkan satu per satu awak Borneo Tribune termasuk dirinya. Dilanjutkan dengan para undangan yang hadir. ”Kegiatan ini sebagai ajang untuk bersilaturahmi baik dengan masyarakat Kalbar maupun masyarakat sekitar markas kami,” kata dia.

Borneo Tribune ingin menjalin silaturahmi dengan semua kalangan. Sebagai praktisi media, momentum kemerdekaan menjadi salah satu titik untuk merencanakan media dengan matang dan demokratis. ”Kami membangun koran ini dengan motto idealism, keberagaman dan kebersamaan. Dalam menjalankan usaha dan keredaksian kami tak ingin berlaku prinsip homo homini lupus, yang kuat memakan yang lemah. Kami juga tak ingin munafik dan berharap Borneo Tribune menjadi salah satu alternatif bacaan bagi masyarakat Kalimantan Barat,” ujarnya.

Halim Ramli yang didaulat memberikan pandangannya tentang makna kemerdekaan menilai pers saat ini sudah sangat kebablasan. Koran dengan mudah memuat berita-berita kekerasan, vulgar, porno aksi dan klenik. ”Bayangkan foto yang berdarah-darah dimuat, perempuan yang memperlihatkan paha dan dada serta berita-berita hantu pun ada. Ini sudah mengarah ke klenik,” kata Halim dengan suara lantang dan berharap kehadiran Borneo Tribune bisa menjadi sebuah bacaan alternatif buat masyarakat Kalbar.

”Tugas dan fungsi pers itu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bukan sebaliknya memporakporandakan kehidupan bangsa. Coba lihat Kompas, mereka tak macam-macam biasa dan terkesan sederhana tapi langgeng,” wejang dia.

Suprianto, Ketua RT berbicara soal penertiban illegal logging yang di satu sisi membuat masyarakat kelaparan. Mantan pegawai BUMN yang kini membuat usaha sendiri kompor minyak tanah dua tungku yang irit bahan bakar menilai pemerintah tak memberikan solusi kepada masyarakat. ”Selama ini pemberitaan media lebih banyak kepada akibat bukan sebab. Kalau ada pekerjaan lain masyarakat tak mau bekerja di hutan sebab salah sedikit taruhannya nyawa. Pemerintah harus mencarikan solusi,” kata alumnus Pertanian Untan ini.

Michael Yan berbagi cerita kondisi kemerdekaan era tahun 70-an hingga 80-an dengan saat ini dan pers yang kebablasan. ”Kalau dulu kita sangat takut dengan aparat baik polisi maupun ABRI (TNI). Kalau mereka ada di jalan dan kita diluar maka orang-orang tua akan bilang masuk-masuk,” ungkap salah satu tokoh Tionghoa.

Dwi Syafriyanti menyoroti soal hukum yang tumpang-tindah dan membuat kebingungan para praktisi hukum. Ia mengaku gelisah dengan beberapa perubahan dan amandemen UUD 1945, bahkan khawatir Pancasila pun akan hilang.

Faisal Reza banyak mengupas soal tampilan dan rubrikasi Borneo Tribune. ”Saat membaca Tribune pertama kali yang saya cari adalah Skumba. Sebab ini menjadi semacam inspiransi dan mengundang tawa. Pikiran kita selama ini media membawa ketegangan, namun dengan membaca cerita-cerita lucu seperti itu jadi berpikir ada sisi lain kehidupan yang harus ditertawakan termasuk menertawakan diri kita sendiri,” ujar mantan aktivis mahasiswa.

Dikatakan, selama ini kalau membaca koran yang ditemukan pasti 5W + H. Namun jika ingin mendapatkan Why-mengapa-maka ia membaca Borneo Tribune. Kehadirannya diharapkan bisa memberikan warna lain bagi jurnalistik. Faisal mengkritisi tampilan Borneo Tribune yang berani memasang gambar besar dan tulisan sedikit namun panjang bahkan ada ruang kosong. ”Mungkin selama ini main set kita koran dengan berita yang padat, jadi belum terbiasa,” kata dia sambil tersenyum.

Hamdan Harun yang malam itu terlihat sedikit capek namun berusaha hadir prima menyoroti persoalan nasionalisme. Ia kecewa dengan demo di kantor gubernur yang sampai ingin membakar dan menurunkan bendera. ”Padahal bendera itu bukan hanya sepotong kain, namun ada makna penting bahwa puluhan ribu jiwa meninggal untuk mempertahankan kemerdekaan.

Turiman melihat persoalan bangsa saat ini bukan hanya capacity building namun juga national and character building yang harus terus dibangun. “Untuk membangun bangsa ini mulai dari sendiri,” saran dia.

Ripana mengaitkan kemerdekaan dan gagalnya pameran photography yang akan digelar oleh Lukas B Wijanarko di Ayani Mega Mall. “Sesungguhnya hari ini ada peristiwa jurnalistik untuk pameran foto yang gagal diselenggarakan. Entah karena miss management atau apa, namun saya melihat ada arogansi dibalik semua ini,” papar Ripana.

Ia melihat ada wilayah yang belum merdeka di dunia jurnalistik kita. Padahal jurnalistik adalah salah satu kunci perubahan. Media pencerdasan adalah jurnalistik. Ripana banyak menyoroti persoalan sosial dan kemasyarakatan.

Semakin malam diskusi semakin hangat. Bahkan diskusi informal dilanjutkan di bagian belakang kantor Borneo Tribune. Bermacam topik mulai dari hal sederhana hingga njelimet kembali muncul hingga pukul 01 malam.*

*Edisi Cetak Borneo Tribune 18 Agustus 2007

[ read the rest of this entry » ]

|

Hiburan Alternatif di Tengah Kota

Oleh: Stefanus Akim

Malam mulai merayap. Jalan Ayani masih saja padat, pemandangan seperti itu terjadi saban Sabtu malam dan hari libur. Di bagian luar pusat perbelanjaan paling besar di Pontianak itu terdapat poster-poster raksasa yang memajang film yang sedang tayang. Ada empat buah poster film terpajang dan kontras dengan warna cat dinding yang berwarna krim berpadu biru. The Bourne Ultimatum (Bour), Ratatouille, Noting is Impossible dan Hantu.

Sejak 2,5 tahun lalu, tepatnya Januari 2005 masyarakat Pontianak sudah bisa menikmati kembali bioskop setelah sekitar 5 tahun vakum akibat serbuan home studio melalui perangkat pemutar cakram (compact disk player). Kehadiran bioskop di Pontianak setelah grup 21Cineplex kembali membuka cabang dan menamai dirinya Ayani 21 dan beroperasi di lantai tiga gedung tersebut.

Sejak pembukaan cukup banyak yang datang menonton. Hingga sekarang pun masih saja ramai apalagi jika film-film bagus dan promosinya juga baik. Pengunjung makin ramai jika Minggu malam dan umumnya anak baru gede. ”Ini menjadi tempat berkumpulnya para ABG,” kata Mustofa, pengawas operasional Ayani 21.

”Mengapa”, tanyaku. ”Pertama mungkin hari libur yang kedua murah. Kalau mas ingin lihat datang saja. Kalau mau nonton tiketnya kita siapkan,” katanya menawarkan.

Untuk malam Senin diberlakukan tiket Rp15 ribu. Malam Selasa hingga Jumat Rp25 Ribu sedangkan malam Minggu Rp25 ribu. Meskipun bervariasi demikian namun ada saja yang nonton saat harga tiket tinggi. Mungkin karena Ayani 21 hanya satu-satunya bioskop di Pontianak. Penyebab lain penonton biasanya menyesuaikan dengan jadwal liburan atau waktu luang untuk nonton. ”Malam Minggu pun meskipun cukup mahal dari hari biasa tetap ramai juga,” kata Mustofa.

Pengunjung makin ramai saat liburan sekolah. Bisanya para pelajar atau mahasiswa dari luar kota turun ke Pontianak. Bahkan warga Pontianak yang belajar atau bekerja di Jawa saat kembali ke Pontianak juga menyempatkan diri. Hal ini mungkin disebabkan lokasinya yang strategis di jalan protokol dan pusat perbelanjaan dan terlengkap di Pontianak saat ini.

Ayani 21 memiliki 812 kursi yang dibagi dalam empat theater. Theater satu dengan 294 kursi, theater 2 dan 3 dengan 176 kursi serta theater 4 menampung 166 kursi. ”Apakah semua itu penuh”? tanyaku pada Mustofa.

”Ya namanya usaha pasang surutlah. Namun tetap ada yang nonton meskipun tak penuh terisi”.

Ia tak mau menyebutkan berapa persis keuntungan satu bulan. Sebab itu hak manajemen yang mengurusinya.

Mustofa yakin, bisnis bioskop di Pontianak akan tetap hidup minimal untuk waktu lama. Apalagi kini gairah ekonomi riil di masyarakat makin tubuh ditambah keinginan untuk mendapatkan hiburan yang sehat. ”Sudah ada semacam pelanggan fanatik yang nonton di layar lebar. Sebab bagaimanapun tetap beda antara nonton di theater dengan di rumah,” kilahnya.

Mengapa orang nonton, tentu saja banyak alasan dan masing-masing orang memilikinya. Seakan tahu keinginan penonton, Ayani 21 memberikan layanan maksimal. Diantaranya kenyamanan mulai dari tempat duduk yang terbuat dari sopa empuk, ruangan yang bersih, nyaman dan aman.

Mustofa beralasan, nonton adalah rekreasi atau hiburan yang sehat dibandingkan hiburan lain. Ia mencontohkan yang kurang sehat adalah hiburan dunia gemerlap (dugem). “Lebih baik nonton dengan mengeluarkan uang antara Rp 15 ribu hingga Rp25 ribu sudah terpuaskan. Bahkan untuk film-film tertentu kita bisa ambil makna positif dari pesan yang mau disampaikan,” kata dia.

Di Pontianak kini hanya ada bioskop grup 21Cineplex. Sementara di luar grup sudah bertumbangan sejak tahun 1980-an. Terakhir tahun 2001 masih ada yang buka namun akhirnya tutup juga terutama karena serbuan compact disk player.

Pontianak tahun 1970-an hingga 1980-an saat film lokal masih jaya bioskop-bioskop menjamur hingga ke desa-desa. Di Kecamatan Sungai Ambawang misalnya ada bioskop hingga ke Desa Lingga dan Desa Pancaroba. Di Desa Pancaroba berdiri bioskop Indah Theater.

Sementara di Pontianak ada Khatulistiwa Theater, Menara Theater dan Abadi Theater. Di Siantan ada Siantan Theater. Kemudian ada lagi Pontianak Theater dan Kapuas Theater. Pahrian Siregar, seorang aktivis NGO yang lahir dan besar di Pontianak dan kini menimba ilmu di Jakarta menulis, beberapa bioskop justru berada di sekitar pemukiman penduduk. Ia mencatat ada bioskop Lido di Sumur Bor, Bioskop Jeruju di Jeruju, Garuda Theater di Sungai Jawi, Bioskop Nusa Indah di Siantan, Jeruju Theater di Jeruju dan Kota Baru Theater di Kota Baru. “Kukenang kembali masa kecilku, karena sulit mencari hiburan, bioskop menjadi salah satu yang terfavorit,” tulis Pahrian.

Dalam weblognya Pahrian menulis hampir semua bioskop itu berguguran di era 80-an akibat masuknya Grup 21 milik Sidwikatmono yang menggunakan strategi cineplex (cinema complex). Untuk mendukung strateginya itu, kelompok usaha ini, yang pemilikinya masih berhubungan darah dengan ibu negara pada waktu itu memanfaatkan kedekatan dengan penguasa untuk memperoleh kewenangan monopoli dalam distribusi film. Pada masa itu, Kota Pontianak memiliki 4 Cineplex, diantaranya: Kapuas 21 di Kompleks Kapuas Plaza, Dinasti 21 di pertokoan di Jalan Tanjungpura dan Studio 21 di Kompleks Nusa Indah Plaza.

“Minimal kehadiran kami kembali di Pontianak bisa menjadi hiburan alternatif di tengah kota,” kata Mustofa didampingi temannya Asrul Edi.

Aku mengiyakan pendapat tersebut, setidaknya bagi mereka para penggila film kehadiran bioskop hal yang ditunggu-tunggu.

Kumasukkan satu amplop besar berisi poster film ukuran 5 senti. Poster-poster itu akan digunakan untuk bahan iklan di Borneo Tribune.
Saat aku meninggalkan ruangan Mustofa jam di hapeku menunjukkan pukul 20.50. Jalan Ayani masih tetap padat. Kurapatkan jaket saat mulai memasuki pintu theater untuk menyaksikan “The Bourne Ultimatum (Bour)”. Lima menit lagi film laga ini akan mulai diputar, aku tentu saja tak mau ketinggalan skuelnya.□

[ read the rest of this entry » ]

Wednesday, August 15, 2007 |




Merenungkan 62 Tahun Kemerdekaan
Foto: Lukas B Wijanarko Wijanarko

[ read the rest of this entry » ]

Monday, August 13, 2007 |

PPP Siap Menangkan UJ-LHK

Oleh: Stefanus Akim

Kemesraan antara Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Usman Ja’far-Laurentius Herman Kadir bukan pada saat pemilihan gubernur kali ini saja. Bahkan lima tahun silam, saat partai lain ’belum’ memperhitungkan kedua orang ini, PPP sudah yakin dan mencalonkannya. Alhasil UJ-LHK terpilih untuk memimpin Kalbar selama lima tahun, 2003-2008.

”Semua orang tahu. Sejak awal kita mendukung Usman Ja’far dan LH Kadir untuk menggunakan PPP. Bahkan sejak pemilihan gubernur dan wakilnya tahun 2002 dan dilantik tahun 2003 pun menggunakan perahu PPP. Jadi kalau pun sekarang kami kembali memberikan kepercayaan itu kepada mereka berdua adalah sangat wajar,” kata Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Kalimantan Barat, Ahmadi Usman menyoal pencalonan kembali UJ-LHK pada Pilkada kali ini.

PPP, kata Ahmadi sejak lima tahun silam sudah mengusung pasangan tersebut. Jika saat ini dipilih kembali itu wajar-wajar saja. Apa lagi jika dilihat hasil pembangunan sudah terasa. Banyak jalan yang dibangun, pembangunan pertanian dan perkebunan serta yang lain. Motto harmonis dalam etnis, tertib dalam pemerintahan, maju dalam usaha sudah dijalankan oleh pasangan ini. Soal keterwakilan penduduk Kalbar juga sudah terwakili. Lebih jauh dikatakan politisi yang kini menjabat Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pontianak ini, pencalonan pasangan UJ-LHK sudah bulat. Mulai dari pusat, daerah, kecamatan hingga tingkat ranting.

Sebelum resmi menggunakan perahu PPP, pada rapat pimpinan wilayah (rapimwil) DPW PPP Kalbar beberapa waktu lalu mengajukan dua nama ke DPP di Jakarta, yaitu Usman Jafar dan Buchary A Rahman yang ini Walikota Pontianak. Namun akhirnya Dewan Pimpinan Pusat memutuskan Usman Ja’far yang berpasangan dengan Laurentius Herman Kadir sebagai calon gubernur 2008-2013. ”DPP mengeluarkan keputusan kepada incumbent untuk kembali maju,” kata dia.

Apa yang akan dilakukan PPP untuk memenangkan pilkada kali ini? ”Semua jajaran pengurus, kader, simpatisan atau massa PPP wajib menyukseskan, mengamankan dan memenangkan pemilihan. Dan ini sudah instruksi dari pusat,” tegas Ahmadi.

Diungkapkannya, sebelumnya ada enam orang calon gubernur yang mendaftar di DPW PPP Kalbar. Keenam nama tersebut digodok di rapat pimpinan wilayah (Rapimwil). Mereka adalah Usman Ja’far, M Akil Mochtar, Oesman Sapta Odang, Adhee Rumbe, Agus Salim dan Buchary A Rahman. Dari enam tersebut, dua orang tak mengikuti rapimwil yakni Agus Salim dan Adhee Rumbe. Sehingga yang digodok dalam rapimwil empat calon.

”Ketentuan pusat harus mengajukan dua nama sebagai calon gubernur. Di tingkat kita akhirnya mengajukan nama Usman Ja’far dan Buchary A Rahman dan yang kemudian keluar rekomendasi dari DPP di Jakarta adalah nama Usman Ja’far yang berpasangan dengan LH Kadir,” tutur Ahmadi.

Ia menegaskan, pasangan ini bukan ’barang’ asing bagi PPP. Justru kemesraan itu sudah berlangsung sejak jauh hari. PPP justru berterima kasih dengan partai lain yang turut mengusung nama UJ-LHK. Bahkan kini sudah menjadi delapan partai yang mendukung pasangan UJ-LHK dan di DPRD sudah mayoritas yang mendukung.

Langkah selanjutnya yang dilakukan PPP adalah mensosialisasikan instruksi pusat secara berjenjang. Mulai dari tingkat pengurus DPW, DPC, Cabang, Ranting, pengurus simpatisan, massa dan lainnya. ”Ini tahap pertama, yaitu sukses pencalonan. Dengan delapan partai pendukung sudah bisa dipastikan bahwa UJ-LHK sukses pada tahap pencalonan. Selanjutnya bagaimana mensosialisasikan figur kita atau bagaimana strategi itu nanti,” papar Ahmadi yang berharap kesuksesan tahun 2002 silam kembali terulang pada 2007.

Dengan dukungan delapan partai politik, mulai dari Partai Golongan Karya, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Bintang Reformasi, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Merdeka, Partai Damai Sejahtera dan Partai Amanah Nasional maka UJ - LHK sudah mengantongi 35 kursi legislatif dari 55 kursi yang tersedia.

Jika direview pemilihan gubernur Kalbar Desember 2002 lalu, pasangan Usman Dja'far dan LH Kadir pasangan yang diajukan fraksi Partai Persatuan Pembangunan terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Barat (Kalbar) periode 2003-2008. Ia mendapat 32 suara dari 54 anggota DPRD Kalbar, mengalahkan Gusti Syamsumin dan SM Kaphat yang memperoleh 22 suara pada, Kamis 12 Desember 2002.

Saat itu pemilihan diikuti empat pasang calon yang dipimpin Ketua Panitia Pemilihan Silvanus Singkalang. Pada putaran pertama, Usman Dja’far-LH Kadir memperoleh 21 suara, Gusti Syamsumin-Sebastian Massardy Kaphat 19 suara (dicalonkan Fraksi Partai Golkar). Sedangkan pasangan Henri Usman-Michael Oendoen 8 suara, dan Djawari-Rudy Alamsyahrum 6 suara (Fraksi PDI Perjuangan).

Putaran kedua diikuti dua pasang calon teratas. Usman Dja'far-LH Kadir mendapat tambahan 11 suara, sementara Gusti Syamsumin-Sebastian M Kaphat hanya mendapat tiga tambahan suara.

Siapa Usman Ja’far? Ia seorang sederhana yang dilahirkan di Kabupaten Sekadau, Kalbar pada 10 September 1951 dari pasangan Djaf’ar-Zaiton. Tidak ada yang istimewa dalam keluarga yang hidup dari hasil pertanian itu. Sehari-harinya pas-pasan dan sangat sederhana. Meski begitu, keluarga ini di desanya menjadi sebuah potret keluarga bersahaja. Hampir tidak pernah merengut, meski harus kerja keras mencari nafkah. Djafar, ayah Usman, di samping sebagai petani, juga menjual kayu yang diangkut sendiri melalui sungai ke Pontianak

Ia memperistri Maya Damayanti dan dianugerahi tiga orang anak, Lisa Pasylia, Adesty Kamelia dan Robby Ramasaputra. Pendidikan SD hingga SMP ditemuhnya di Sekadau. Sedangkan SMA ditempuh di SMAN 23 Jakarta dan Akademi Pimpinan Perusahaan di Jakarta (APP).

Kalangan dunia bisnis ritel menjulukinya sesepuh. Perjalanan hidupnya memang tidak bisa lagi dilepaskan dari retail business di Indonesia. Di dunia bisnis ritel ia meniti karier dari lapis paling bawah hingga duduk di puncak pimpinan perusahaan terkemuka, Grup Alatief. Dia dipercaya memimpin 12 perusahaan, milik Abdul Latief. Karena keberhasilannya, dia pun dijuluki sebagai sesepuh bisnis eceran di Indonesia.

Kedua pasangan ini juga mewakili dua kelompok etnis besar daerah ini, yakni Melayu dan Dayak, dua agama besar, yaitu Islam dan Katolik. Meskipun tak tertulis namun sudah ada semacam kesepakatan tak tertulis bahwa yang memimpin Kalbar haruslah merepresentasikan adanya power sharing (pembagian kekuasaan) suku-suku terbesar di daerah ini. Tercatat Kalbar yang berpenduduk lebih dari 3,8 juta jiwa terdiri dari 41 persen suku Dayak, 39 persen Melayu, dan 17 persen Tionghoa.

Siapakah Laurentius Herman Kadir? Ia dilahirkan pada 28 Mei 1941, di Sungai Utik, Temeru, Kemacatan Embaloh Hulu, Kapuas Hulu. Kadir mempunyai dua saudara. Kakaknya bernama Silvester Lanik, dan adik bernama Florentius Karya. Kadir-demikian orang memanggilnya lahir dari pasangan Paulus Banda dan Maria Pikai dari suku Kantuk Melaban dan keluarganya petani kecil ladang berpindah.

Apakah kedua pasangan ini akan kembali mendulang sukses. Kita lihat saja nanti, yang pasti ini baru tahap permulaan. Masih banyak rangkaian yang harus dilalui, mulai dari kampanye hingga pemilihan. Dan lagi kini jauh berbeda dengan lima tahun silam, jika dulu dipilih DPRD kini dipilih langsung oleh rakyat.□

[ read the rest of this entry » ]

Sunday, August 12, 2007 |

Kalimantan Review Terbakar

Oleh: Stefanus Akim

Kalimantan Review sedang berduka. Kantor redaksi mereka yang beralamat di Jalan Budi Utomo, habis dilahap si jago merah Kamis 8 Agustus 2007. Tak hanya itu percetakan Mitra Kasih salah satu usaha mereka yang menggunakan mesin offset sekaligus tempat mencetak majalah juga habis terbakar.

Api juga menghanguskan kantor Institut Dayakology-dulu Institut Dayakologi Research and Development (IDRD)-yang menerbitkan KR. Tercatat 12 buah ruko satu kompleks dengan KR ikut terbakar di Jalan Budi Utomo Siantan, Kecamatan Pontianak Utara.

Diduga api tersebut berasal dari korsleting listrik dari salah satu ruko yang berada di bagian atas, plafonnya. Kendati dalam peristiwa itu tidak ada jatuh korban jiwa tetapi kerugian materiil mencapai miliar rupiah.

Sebagian pemilik ruko yang berada di tempat tersebut berusaha menyelamatkan harta benda. Sebelumnya, warga setempat berusaha memadamkan api tersebut dengan peralatan seadanya. Karena embusan angin cukup kencang ditambah dengan Kota Pontianak tidak diguyur beberapa hari terakhir ini, membuat bangunan itu mudah terbakar. Sembilan unit pemadam kebakaran berupaya memadamkan api, namun api tak berhasil dipadamkan.

Bangunan yang terbakar sebanyak dua blok, yakni A4-A5 yang terdiri dari 12 pintu. Di mana satu bloknya terdapat enam pintu. Di antara ruko tersebut terdapat kantor kontraktor, kantor redaksi Majalah Kalimantan Review (KR), Mitra Kasih, bengkel motor, warung kopi dan nasi.

Andika Lay, salah seorang pemadam kebakaran dari UPKGR, mengatakan petugas mengalami kesulitan dalam memadamkan api karena lokasi kebakaran jauh dari sumber air. Jarak sumber air dengan kebakaran kira-kira 300 meter selain itu tiupan angin yang kencang membuat api semakin berkobar sehingga sulit dikendalikan.

Ini adalah usia yang ke 16 buat KR sejak didirikan tahun 1991 lalu. Saat pertama kali didirikan sebagai direkturnya adalah John Bamba, Wakil Direktur Nico Andasputra.

KR pernah mendapat penghargaan dari ISAI Awards tahun 1999, 2000 dan 2001. Mereka juga menjadi tuan rumah FBN (Festival Budaya Nusantara), 21 - 23 Desember 1999 dan Penyelenggara EXPO dan Seminar Nasional Budaya Dayak, November 1992. Lewat EXPO itulah nama Dayak lazim dipakai. Sebelumnya beberapa literatur dan penyebutan menggunakan kata 'Daya' yang artinya hulu [sungai]. Orang Dayak dulu malu jika disebut Dayak dengan penekanan kata 'k' yang kuat. Sebutan itu semacam penghinaan atau merendahkan. Namun dengan EXPO itu berhasil membangkitkan rasa percaya diri.

KR dan ID banyak membuat buku dan penelitian tentang masyarakat Dayak. Diantaranya kearifan lokal, baik pengelolaan lingkungan, pengobatan, tradisi dan lainnya.

Sejumlah nama cukup dikenal lahir dan melahirkan KR. Diantaranya ada Albert Rupinus, F Plorus, Maria Goreti yang kini menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Kalbar, Edi Petebang yang pernah memberikan materi jurnalistik saat aku masih anggota majalah kampus di Mimbar Untan.

Kemudian ada nama Bambang Bider yang kini aktivis lingkungan di Kapuas Hulu, Thomas Tion, Margareta Tri W, Tony Kusmiran. Belakangan ada nama Dominikus Uyub dan Elias Ngiuk. Serta tentu masih banyak yang lain.

Terakhir aku dengar oplah majalah bulanan yang masih berafiliasi dengan Yayasan Pancur Kasih itu mencapai 9.000 eks. Sebagian besar tersebar di West Borneo dan di semua Borneo. Anggota Credit Union (koperasi simpan pinjam) pasti merasa kehilangan. Sebab sejak beberapa waktu terakhir KR juga memunculkan suplemen CU. Isinya bisa memotivasi anggota, sebab selain memunculkan anggota yang berhasil juga tips dan trik menabung dan berusaha agar sukses.

Meskipun semua terbakar namun beberapa kalangan yakin tak akan terlalu berpengaruh dengan KR. Dalam waktu dekat pasti akan terbit kembali. Yang mengkhawatirkan justru bukan modal atau perangkat yang terbakar, justru yang dikhawatirkan banyak data, hasil penelitian, dokumentasi, buku-buku, jurnal yang ikut terbakar.

Kami turut prihatin dan sedih dengan kejadian ini. Namun semua ini pasti ada hikmahnya. Maju terus awak KR, jangan patah semangat. Jadikan ini sebagai cambuk dan motivasi untuk terus menjadi yang terbaik.□

[ read the rest of this entry » ]

|

Buku Baru Banana

”Kim. Ini ada paket. Tampaknya isinya buku,” ujar Tanto Yakobus.
Dikeluarkannya satu bungkusan persegi panjang warna cokelat dari laci meja komputernya. Di kiri atas bungkusan setebal tiga jari yang memanjang kurang lebih sejengkal itu tertulis “Banana Jl. Kaca Jendela 2 No. 4 Rawajati, Jakarta-12750 Tlp.021-7948682”.

Aku yakin ini pasti kiriman buku dari penerbit Banana. Sebuah penerbit yang banyak menerbitkan buku-buku dengan gaya narasi. Diantaranya karya jurnalistik yang mendapatkan penghargaan Pulitzer. Sebab beberapa waktu lalu aku mengirimkan hasil resensi buku terbitan Banana.

“Sret…”

Bungkusan warna cokelat kusobek. Menyembul tiga buah buku yang didominasi warga cokelat tua. Buku pertama terpampang tulisan besar miring berwana hitam pekat “Pencuri Anggrek”. Di pojok kanan ada tulisan kecil warna putih ”Susan Orlean”
Di bawah lagi ”KISAH NYATA TENTANG KEINDAHAN DAN OBSESI”. Paling dominan terlihat kaki orang yang hanya sampai pangkal paha menggunakan celana jeans sedang naik tangga. Kaki itu dilapisi sepatu kets hitam yang gerigi-giriginya tampak jelas. Di pojok kiri paling bawah dalam lingkaran bergerigi dengan latar belakang kuning tertulis “BEST SELLER”. Di bagian dalam tertulis ukuran buku. 13 cm 368 hlm

Buku kedua didominasi warna putih kekuning-kuningan. Paling atas ada sebuah anatomi mata, alis dan sedikit rambut kecokelatan yang terurai. Bola mata itu hitam yang di tengah-tengahnya ada semacam bara api kekuning-kuningan. Sedangkan retina mata itu berwarna putih kelabu.

Di bagian tengah terdapat tulisan “The Catcher In The Rye” dengan tulisan merah. Nama pengarangnya ditulis dengan huruf hitam “J.D SALINGER”

Paling bawah tertulis ”Seratus buku terbaik sepanjang masa – Time.
Di halaman dalam juga terdapat data ukuran buku. 300 hal, 19 cm.

Buku ketiga lebih tipis dan kecil dari dua buku yang lain. Aku tergoda untuk melihat data ukurannya. 12 cm, 205 hlm.

Sampul buku ini berwarna cokelat kemerah-merahan. Di bagian bawah terdapat lukisan semacam gunung warna biru dan daun yang kehijauan. Paling mencolok gambar seseorang yang memakai baju-sejenis baju koko. Warna baju itu putih dengan bercak-bercak cokelat. Sementara tangan kedua orang itu seolah-olah memegang pita biru yang melilit tiga kali di tangan kanan hingga ke lengan.

Paling mencolok kepala orang itu terbuat dari batu. Tak ada mata. Tak ada telinga dan mulut. Hanya sebuah batu lonjong hampir persegi panjang yang berwarna putih dipadu dengan warna hitam.
Di kanan atas terdapat tertulis ”Annie Dillard”. ”Ini pasti pengarangnya,” pikirku. Di bawah tulisan itu juga terdapat tulisan yang dibuat dalam tiga baris ”Mengajari Batu Bicara”. Tulisan Batu tepat mengenai prototype kepala batu. Kemudian ada lagi tulisan ”Ekspedisi dan perjumpaan”.

Di kiri bawah-hampir di tengah-tengah buku ditulis dengan warna kuning kecil tertulis ”Annie Dillard dengan gemilang melibas semua penulis zaman kita.” R. Buckminster Fuller.

Aku tertarik dengan cover buku-buku itu. Cukup menyita perhatian. Buku pertama didesain Mamato, buku kedua Bondan Winarno dan ketiga oleh Ong Hari Wahyu.

“Ah terima kasih penerbit Banana, terima kasih pak Yusi Avianto Pareanom atas kiriman bukunya. Semoga dalam waktu dekat bisa diresensi.” □

[ read the rest of this entry » ]

Thursday, August 9, 2007 |

Keterwakilan Perempuan Minimal 30 Persen Sebagai Pengawas Pemilu

Oleh: Stefanus Akim

Agar pelaksanaan pemilihan kepala daerah berjalan sesuai dengan yang digariskan undang-undang maka dibuat lembaga pengawasan. Lembaga pengawasan tersebut ada yang dari unsur independen ada pula bentukan yang dilakukan oleh DPRD.

Adapun lembaga pengawasan peyelenggaran pemilu dilakukan oleh Bawaslu, Panwaslu Provinsi, Panwaslu Kabupaten/Kota, Panwaslu Kecamatan, Pengawas Pemilu Lapangan dan Pengawas Pemilu Luar Negeri. Bawaslu bersifat tetap dan berkedudukan di ibu kota negara. Sementara panwaslu berkedudukan sesuai dengan jenjangnya. Jika provinsi maka berkedudukan di ibu kota provinsi begitu juga selanjutnya, kabupaten beribu kota kabupaten dan selanjutnya.

Lembaga-lembaga tersebut dibuat satu bulan sebelum tahapan pertama penyelenggaraan pemilu dimulai dan berakhir paling lambat dua bulan setelah seluruh tahapan penyelenggaraan pemilu selesai. Keanggotaan Bawaslu terdiri atas kalangan profesional yang mempunyai kemampuan dalam melakukan pengawasan dan tidak menjadi anggota partai politik. Jumlah anggota untuk Bawaslu ada lima orang, panwaslu provinsi tiga orang begitu pun tingkat kabupaten hingga kecamatan.

Sementara jumlah anggota Pengawas Pemilu Lapangan di setiap desa/kelurahan sebanyak satu orang. UU No 22 tahun 2007 pasal 73 ayat (8) menegaskan komposisi keanggotaan Bawaslu, Panwaslu memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30 %.

Panwaslu di semua tingkatan mempunyai tugas dan wewenang. Tugas tersebut antara lain mengawasi tahapan penyelenggaraan pemilu di wilayah provinsi meliputi pemuktahiran data pemilih berdasarkan data kependudukan dan penetapan daftar pemilih sementara dan daftar pemilih tetap. Selanjutnya mengawasi pencalonan yang berkaitan dengan persyaratan dan tata cara pencalonan anggota DPRD, dan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Mengawasi proses penetapan calon, dan pelaksanaan kampanye.

Panwaslu juga mempunyai tugas mengawasi perlengkapan pemilu dan pendistribusiannya. Pelaksanaan penghitungan dan pemungutan suara dan penghitungan suara hasil pemilu. Juga bertugas melakukan pengawasan seluruh proses penghitungan suara di wilayah kerjanya, pelaksanaan penghitungan dan pemungutan suara ulang, pemilu lanjutan dan pemilu susulan. Lembaga ini juga mesti melakukan pemantauan terhadap proses penetapan hasil pemilu, menerima laporan dugaan pelanggaran terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan mengenai pemilu dan menyampaikan temuan dan laporan kepada KPU provinsi untuk ditindaklanjuti.

Panwaslu juga berwenang meneruskan temuan dan laporan yang bukan menjadi kewenangannya kepada instansi yang berwenang. Menyampaikan laporan kepada Banwaslu sebagai dasar untuk mengeluarkan adanya dugaan tindakan yang mengakibatkan terganggunya tahapan penyelenggaraan pemilu oleh penyelenggaraan pemilu di tingkat provinsi. Mengawasi pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi Banwaslu tentang pengenaan sanksi kepada anggota KPU, sekretaris dan pegawai sekretaris KPU yang terbukti melakukan tindakan yang mengakibatkan terganggunya tahapan penyelenggaraan pemilu yang sedang berlangsung.

Bahkan lebih jauh Panwaslu memiliki wewenang memberikan rekomendasi kepada KPU untuk menonaktifkan sementara dan/atau mengenakan sanksi administratif atas pelanggaraan. Kemudian memberikan rekomendasi kepada yang berwenang atas temuan dan laporan terhadap tindakan yang mengundang unsur tindak pidana pemilu.

Panwaslu juga memiliki kewajiban. Diantaranya tidak berlaku diskriminatif dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas pengawas pemilu pada tingkatan di bawahnya. Menerima dan menindaklanjuti laporan yang berkaitan dengan dugaan adanya pelanggaran yang dilakukan oleh KPU Provinsi yang mengakibatkan terganggunya penyelenggaraan tahpan pemilu di tingkat provinsi dan melaksanakan kewajiban lain yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan. □

*Diterbitkan Borneo Tribune 5 Agustus 2007

[ read the rest of this entry » ]

Tuesday, August 7, 2007 |

Calon Gubernur Wajib Serahkan Daftar Kekayaan

Oleh: Stefanus Akim

Untuk menjadi kepala daerah harus memenuhi syarat seperti yang diatur oleh undang-undang. Diantaranya UU No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, UU No 22 tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pemilihan Umum serta UU, PP No 6 tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan, Pengangkatan dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Termasuk Perpu No 3 tahun 2005, PP No 17 tahun 2005 dan Perma No 2 tahun 2005 termasuk aturan pelaksana yang mengaturnya.

Pada pasal 58 UU No 32 tahun 2004, secara umum disebutkan syarat seorang calon kepala daerah antara lain: Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, UUD Negara RI tahun 1945, cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 dan kepada NKRI serta pemerintah.

Pendidikan calon kepala daerah sekurang-kurangnya sekolah lanjut tingkat atas dan/atau sederajat (SMA), berusia sekurang-kurangnya 30 tahun, sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan menyeluruh dari tim dokter. Kemudian tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau lebih.

Calon kepala daerah, tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya, menyerahkan daftar kekayaan pribadi dan bersedia untuk diumumkan. Selanjutnya tidak sedang memiliki tanggungan utang secara perseorangan dan/atau secara badan hukum yang menjadi tanggungjawabnya yang merugikan keuangan negara. Tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Tidak pernah melakukan perbuatan tercela, memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau bagi yang belum mempunyai NPWP wajib mempunyai bukti pembayaran pajak.

Yang bersangkutan juga wajib menyerahkan daftar riwayat hidup lengkap yang memuat antara lain riwayat pendidikan dan pekerjaan serta keluarga kandung, suami atau istri. Belum pernah menjabat sebagai kepala daerah atau wakil kepala daerah selama dua kali masa jabatan dalam jabatan yang sama serta tidak dalam status dalam sebagai pejabat kepala daerah.

Sementara itu dalam pasal 59 UU No 32 tahun 2004 ditegaskan, peserta pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah pasangan calon yang diusulkan secara berpasangan oleh partai politik atau gabungan partai politik.

Partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat mendaftarkan pasangan calon apabila memenuhi persyaratan perolehan sekurang-kurangnya 15 % dari jumlah kursi DPRD atau 15 % dari akumulasi perolehan suara sah dalam pemilihan umum anggota DPRD di daerah yang bersangkutan. Partai politik atau gabungan partai politik wajib membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi bakal calon perseorangan yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam pasal 58 dan selanjutnya memproses bakal calon dimaksud melalui mekanisme yang demokratis dan transparan.

Dalam proses penetapan pasangan calon, partai politik atau gabungan partai politik memperhatikan pendapat dan tanggapan masyarakat. Partai politik atau gabungan partai politik pada saat mendaftarkan pasangan calon, wajib menyerahkan: Surat pencalonan yang ditandatangani oleh pimpinan partai politik atau pimpinan partai politik yang bergabung. Kesepakatan tertulis antar partai politik yang bergabung untuk mencalonkan pasangan calon. Surat pernyataan tidak akan menarik pencalonan atas pasangan yang dicalonkan yang ditandatangani oleh pimpinan partai politik atau para pimpinan partai politik yang bergabung.

Calon dan wakilnya juga wajib menyerahkan surat pernyataan kesediaan yang bersangkutan sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah secara berpasangan. Surat pernyataan tidak akan mengundurkan diri sebagai pasangan calon. Surat pernyataan kesanggupan mengundurkan diri dari jabatan apabila terpilih menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Surat pernyataan mengundurkan diri jabatan negeri bagi calon yang berasal dari pegawai negeri sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia dan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. Surat pernyataan tidak aktif dari jabatannya bagi pimpinan DPRD tempat yang bersangkutan menjadi calon di daerah yang menjadi wilayah kerjanya. Surat pemberitahuan kepada pimpinan bagi anggota DPR, DPD dan DPRD yang mencalonkan diri sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah. Kelengkapan persyaratan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 58 dan naskah visi, misi dan program dari pasangan calon secara tertulis.

Aturan serupa juga diatur dalam UU No 6 tahun 2005 tentang Pemilihan. Pengesahan, Pengangkatan dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah mulai dari pasal 36 hingga seterusnya.□

*Diterbitkan Borneo Tribune 5 Agustus 2007

[ read the rest of this entry » ]

Monday, August 6, 2007 |

Kumpulan Kisah Cinta Ganjil

Judul : Kisah-Kisah Cinta Ganjil
Pengarang : Milan Kundera, Gabriel Garcia Marquez, Alicia Munro dan Naoya Shiga
Editor : Yusi Avianto Pareanom
Penerbit : Banana Publisher; Depok 2005; 202 halaman; 17 cm
Jenis buku : Fiksi (kumpulan cerpen)
Peresensi : Stefanus Akim

Banana Publisher tampaknya sudah ‘menobatkan diri’ sebagai sebuah penerbitan yang berkosentrasi pada buku yang menampilkan tokoh yang bergerak, gelisah, dan mencari atau kisah-kisah ganjil yang menggelitik untuk dibaca. Setidaknya terlihat dari sejumlah buku yang saya lihat. Baca dan koleksi. Yusi Avianto Pareanom, seorang penulis yang menjadi editor terus mengikat pembaca untuk tak segera melepaskan buku sebelum bahan bacaan habis. Yusi berujar, “Benang merahnya: semuanya menampilkan tokoh yang bergerak, gelisah, dan mencari, apa pun itu.” tulis Laila Citra Nirmala dalam situsnya soal buku-buku yang diterbitkan Banana Publisher. Kekhasan kata-kata atau kalimat per kalimat ditampilkan apa adanya tanpa sungkan dan ragu oleh editor.

”Mintalah pada si sundal tua itu. Jangan terlalu dipikirkan, pergi dan bicaralah kepadanya. Tentu saja dia babi, tapi aku percaya bahkan dalam diri makhluk semacam itu ada nurani. Justru karena dulu dia semena-semena kepadaku, mungkin kini dia akan gembira jika kau mengizinkannya untuk menebus kesalahan di masa lalu.” Kalimat itu lugas, keluar dari mulut kakak Edward.

Buku ini merupakan kumpulan cerpen dari empat pengarang dengan latar belakang negara, maupun ideologi yang berbeda. Edward dan Tuhan; karya Milan Kundera, mengisahkan kegelisahan seorang guru akan kepercayaan yang diyakininya. Cerpen ini berlatar belakang rezim komunis pada tahun 1960-an dan diambil dari kumpulan cerpennya, Laughable Loves (Smisnelasky).

Milan Kindera, adalah seorang sastrawan kelahiran Chekoslowakia yang tinggal di Prancis sejak tahun 1975. Salah satu ciri novelnya adalah permainan bentuk, khususnya sisipan-sisipan esai-esai politik dan filosofis ke dalam cerita.

Dikisahkan, Edward mendekati Alicia dengan tujuan untuk menikmati tubuh ranum gadis itu. Edward seorang atheis sementara Alicia seorang Kristen yang fanatik. Agama di Cheko saat itu-tahun 1960an-dianggap sebagai sebuah budaya kuno dari abad pertengahan. Di sisi lain ia mengejar Alicia mati-matian, hatinya sudah terpikat dengan gadis itu. Konflik justru terjadi di sini, sebagai guru ia harus bisa menjadi tokoh yang ditiru. Termasuk soal kepercayaan. Namun disisi lain ia harus menaklukkan Alicia termasuk mengikuti ’gaya hidup’nya.

Kisah kedua disajikan oleh Alice Munro, sastrawan mumpuni dari Kanada. Cerpen ini berjudul ’Bagaimana Aku Bertemu Suamiku’. Kisah ini berlatar tahun 1920-an. Dimana saat itu para pemuda di Amerika Utara tergila-gila pada pesawat terbang.

Selanjutnya ’Pertemuan Agustus’, karya Gabriel García Márquez. Ia adalah sastrawan dari Kolombia dan memenangi hadiah Nobel untuk karya sastra tahun 1982. Banyak cerita novel dan cerpennya yang terkenal dan menggunakan gaya ’realise magis’. Ia juga menulis karya-karya jurnalistik dan fiksi realis yang kuat.

Banana Pubilsher juga menampilkan pengarang dari negeri sakura-Jepang- Shiga Naoya (1883-1971). Judulnya asing di telinga kita ’Kuniko’. Yusi menulis karya yang diterbitkan tahun 1971 ini menandai masa kematangan kepenulisannya. Tulisan ini dbuat dengan gaya flash back. Mulai bercerita soal kematian Kuniko-tokoh utama-hingga pertemuannya dengan ’aku’. Naoya mengikat pembaca dengan cerita-cerita yang tiba-tiba menghentak dan kembali datar. Ia sangat bagus mendeskripsikan kematian Kuniko. ”Wajah Kuniko sama sekali bukan wajah orang hidup. Mulutnya seperti huruf V datar terbalik, dia memandang padaku melalui sepasang mata yang sayup dan sepenuhnya tak fokus. Aku merasa Kuniko telah melakukan sesuatu yang tak dapat dikembalikan. Ketika aku berdiri dan menghampirinya, dia tiba-tiba tiba-tiba roboh ke depan dari celah pintu dan berpegang erat kepadaku”. □

Diterbitkan Borneo Tribune 5 Agustus 2007

[ read the rest of this entry » ]

Saturday, August 4, 2007 |

Kategori

Total Pageviews