Asam Pedas Mabuk Kepayang di Alun Kapuas

Berwisata kuliner ke Pontianak rasanya belum lengkap kalau belum menjajal Asap Pedas Mabuk Kepayang khas Restoran Lancang Kuning. Selain harga murah, kita juga bisa menikmati keindahan Sungai Kapuas dengan segala aktivitasnya.

Resepnya kurang lebih sama dengan asam pedas di tempat lain. Namun, untuk menambah rasa kecut, pemilik sekaligus koki, Utin Asdini Hekmin Desi menambahkan asam kandis yang didatangkan dari Sanggau. Ia juga menambahkan terung asam seperempat buah untuk satu ons ikan.Sebagai bahan dasar, dipilih ikan yang masih segar. Ikannya pun beragam sesuai selera konsumen, terdiri dari bawal, senangin, kakap dan lais.

Restoran yang beralamat di Alun-alun Kapuas atau lebih dikenal dengan Korem ini mempertahankan menu andalannya sejak pertama kali buka pada 28 September 1998. Bahkan, ketika kepemilikan beralih dari Syarif Maman Alkadrie ke Utin Asdini Hekmin Desi, pada 3 Maret 2000 menu itu tetap dipertahankan.

"Kami tak ingin konsumen yang sudah akrab dengan rasa ini merasa kehilangan," kata Mami, panggilan akrabnya yang juga adik kandung Gusti Hersan Aslirosa, Ketua DPRD Kota Pontianak.

Setiap akhir pekan, banyak pengunjung yang datang termasuk dari luar daerah. Mulai dari masyarakat menengah, pengusaha hingga pejebat. "Barusan dari perkebunan kelapa sawit di Ketapang," ungkap Mami.

Konsumen umumnya akan datang kembali jika sudah sekali saja mencoba. Maka tak heran setiap akhir pekan, terutama sehabis magrib hingga sekitar pukul 00.00 WIB masih saja ada yang datang.

Untuk satu ons asam pedas mabuk kepayang, Mami menghargainya Rp 15 ribu. Harga itu pukul rata untuk semua jenis ikan.

Mabuk kepayang artinya rindu yang tak tertahankan. Maksudnya, jika sekali saja mencoba maka akan ingat terus.

Selain asam pedas, restoran ini juga menyuguhkan menu spesial. Diantaranya, seafood, udang dogol, special cah, tumis, sate, ayam dan aneka sambal. Untuk minuman mengandalkan, lidah buaya, anek jus dan tentu saja minuman kaleng.

Bernuansa Etnik
Selain mengandalkan rasa, restoran yang tak membuka cabang di tempat lain ini juga tampil beda dengan bangunan dan asesoris bernuansa etnik.

Model bangunannya mengadopsi Perahu Lancang Kuning khas Melayu. Di dinding terpajang lukisan burung enggang, tutup lampu model perahu lancang kuning serta tirai bambu.
Atapnya masih menggunakan sirap (kayu). Begitupun dengan tiang, lantai, dan pagar. Pemilik memilih kayu ulin yang didatangkan dari Ketapang.

Suasana yang terbuka membuat udara segar lebih leluasa masuk. Sehingga tak dibutuhkan pendingin ruangan. "Kita inginnya alami," tutur Mami, sambil tersenyum.*

[ read the rest of this entry » ]

Monday, April 28, 2008 |

Hipertensi Saya Sembuh

Setelah diet ketat selama kurang lebih tiga minggu tekanan darah saya yang semula tinggi (hipertensi) kini sudah normal.

Akhir minggu lalu saat saya iseng check dengan seorang petugas kesehatan, tekanan darah saya sudah 90/120. Angka itu merupakan ukuran normal yang direkomendasikan World Health Organization (WHO) badan kesehatan PBB. Sebelumnya tekanan darah saya sempat 100/140.

Diet ketat yang saya lakukan di antaranya pantang makan daging, tak mengonsumsi makanan mengandung lemak, mengurangi kopi dan seterusnya.

Saya bersyukur sudah bisa normal. Sekarang target saya tinggal menguruskan badan biar normal dan elok dipandang. Maklum malu juga kayak karung beras. Hikhikhik...

Saya menargetkan dalam waktu 1 tahun, ukuran dan berat badan saya bisa kembali normal. Tentu saja dengan dukungan teman-teman dan keluarga.

[ read the rest of this entry » ]

Thursday, April 24, 2008 |

Mengundurkan Diri di Borneo Tribune

Selasa, 8 April 2008 lalu saya secara resmi mengundurkan diri sebagai redaktur di Harian Borneo Tribune. Kini, saya tak lagi berstatus sebagai karyawan di surat kabar yang dipimpin oleh bang Nur Iskandar tersebut.

Untuk sementara saya masih menganggur sambil menunggu pekerjaan lain. Tak ada persoalan mendasar yang menyebabkan saya mundur di Borneo Tribune. Saya hanya ingin mencoba karir di tempat lain.

Jadi, sejak pengunduran diri tersebut saya sudah tak berhak lagi mengaku sebagai wartawan di Harian Borneo Tribune.

Untuk teman-teman di Borneo Tribune yang selama ini telah membantu, membimbing dan mengajari, saya ucapkan terima kasih. Jika ada kesalahan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Maju terus…


Salam,

[ read the rest of this entry » ]

Thursday, April 10, 2008 |

Maaf Saya Pantang Makan Daging

Hasil test kolesterol yang saya lakukan di bagian medical check up RSU. Santo Antonius menunjukkan angka cukup tinggi. Di sisi lain, saya juga mulai terserang hipertensi atau tekanan darah tinggi. Wah gawat nih…

Terpaksa dalam beberapa waktu yang tak terhingga saya harus mulai mengerem diri terhadap makanan yang mengandung lemak hewani. Tentu saja daging.

Menurut salah seorang petugas kesehatan, tekanan darah saya 100/140. Sementara yang dipersyaratkan WHO, 90/120. ”Ini sudah hipertensi lho pak. Kalau dulu mungkin masih dianggap normal, tapi sekarang tidak,” celotehnya dan saya tinggal menjadi burung beo. Angguk sana, angguk sini.

”Lantas kalau hipertensi, bisa menyebabkan apa bu,” tanyaku.

”Wah lambat-laun bahaya pak. Untuk jangka panjang, banyak penyakit yang bisa muncul,” sambungnya.

Petugas tersebut mengatakan, nantinya jika tak segera diobati bisa stroke. Bisa cuci darah karena merusak fungsi ginjal dan serangan jantung. Aku bergidik juga mendengarnya. Ia menyarankan supaya segera diobati dan mengontrol makanan.

”Gile,” batinku.

“Dia memang berbakat hipertensi dan kolesterol tinggi. Keluarganya banyak yang stroke,” sambung istriku yang turut menemani selama proses pemeriksaan.

Ternyata hipertensi ada juga karena faktor keturunan. Jika kakek, nenek, atau, ibu, hipertensi, hal itu bisa turun kepada keluarganya.

Parahnya seorang teman mulai bergurau dan mengatakan, kalau sudah demikian tak sampai 50 tahun sudah pasti meninggal.

Menurut sejumlah literature yang saya baca, tingkat kolesterol total di bawah 5,2 dianggap baik, dan di atas 6,2 dianggap buruk. HDL adalah kolesterol baik. Kolesterol ini dapat diukur pada contoh darah yang diambil tanpa puasa. Semakin tinggi tingkat HDL semakin baik. Tingkatnya di atas 1,0 dianggap baik.

LDL adalah kolesterol buruk. Tingkat LDL dihitung memakai rumusan yang mencakup tingkat trigliserida. Contoh darah yang diambil setelah puasa dipakai untuk mengukur tingkat trigliserida atau untuk menghitung kolesterol LDL. Tingkat LDL di bawah 2,6 dianggap baik, sedangkan bila di atas 4,1 menunjukkan risiko tinggi terhadap penyakit jantung. Analisis terhadap hasil uji coba klinis yang baru dilakukan menemukan bahwa, untuk pasien berisiko tinggi penyakit jantung, LDL sebaiknya diturunkan di bawah 1,8.

Salah satu penyebab meningkatnya jumlahnya kolesterol karena makanan ekstern yang berasal dari lemak hewani, telur dan yang disebut sebagai makanan sampah (junkfood).

Oleh sebab itu lah mulai sekarang saya bertekad untuk sementara mengontrol makan daging. Bukan takut meninggal cepat, namun melihat sederet akibat yang akan ditimbulkan, bergidik juga dibuatnya.■

[ read the rest of this entry » ]

Tuesday, April 8, 2008 |

Kategori

Total Pageviews