Cerita Anak Melayu di Pulau Timah

Oleh: Stefanus Akim

Andrea Hirata, sebelumnya tak pernah terpikir untuk memublikasikan novelnya yang berjudul Laskar Pelangi. Namun siapa sangka, ternyata setelah diterbitkan banyak mendapatkan sambutan publik dan menginspiraskan.

Bahkan, Kick Andy, sebuah acara di Metro TV yang dipandu pimpinan redaksi Media Indonesia, Andy F. Noya menanyangkannya dua kali. Pertama pada Kamis, 4 Oktober 2007 pukul 22.05-23.00 dan hari Minggu, 7 Oktober 2007 pukul 15.05-16.00. Tim Kick Andy kemudian mengunjungi SD dan kampung di Pulau Belitong, Sumatera untuk bertemu para tokoh dalam cerita tersebut. Kick Andy berhasil mempertemukan Andrea dengan Ibu Guru Muslimah, guru SD Muhammadiyah di studio Metro TV. Buku ini memang dipersembahkan Andrea untuk ibu Muslimah yang tak kenal lelah mengajar anak-anak miskin itu. Bahkan dari sekolah itulah kelak menghantarkan Andrea sekolah hingga ke Sorbonne, Prancis.

Andrea mengaku novel itu awalnya hanya merupakan catatan kenangannya terhadap masa kecilnya di Belitong. Ia selalu teringat sahabat-sahabatnya di masa kecil, terutama Lintang. Lintang merupakan murid yang cerdas dan penuh semangat walau hidup dalam kemiskinan. Setiap hari ia harus mengayuh sepeda tua yang sering putus rantainya ke sekolah. Pulang pergi sejauh 80 km. Bahkan harus melewati sungai yang banyak buayanya. Sayangnya Lintang yang anak nelayan itu akhirnya putus sekolah, bahkan ia tak tamat SMP karena kondisi ayahnya yang miskin.

Buku ini juga menginspirasi sejumlah orang untuk bertobat dan berbuat lebih baik. Sisca mengaku terdorong untuk memperbaiki hubungannya dengan sang ayah yang selama ini rusak. Itu setelah ia membaca novel ini.

Sementara Windarti Kosasih, seorang ibu di Bandung mengungkapkan anaknya kini bertobat dan keluar dari jerat narkoba. Dalam suratnya yang dikirimkan ke Kick Andy, Windarti minta agar kisah tersebut diangkat di Kick Andy. ”Kini Niko berhasil berhenti sebagai pecandu narkoba setelah membaca buku Laskar Pelangi,” kata dia.

Buku ini bercerita tentang kisah nyata 10 anak kampung di Pulau Belitong, Sumatera. Mereka bersekolah di sebuah SD yang bangunannya nyaris roboh dan kalau malam jadi kandang ternak. Sekolah itu nyaris ditutup karena muridnya tidak sampai sepuluh sebagai persyaratan minimal.

Pada hari pendaftaran murid baru, kepala sekolah dan ibu guru satu-satunya yang mengajar di SD itu tegang. Sebab sampai siang jumlah murid baru sembilan. Kepala sekolah bahkan sudah menyiapkan naskah pidato penutupan SD tersebut. Namun pada saat kritis, seorang ibu mendaftarkan anaknya yang mengalami keterbelakangan mental. semangat anak-anak kampung miskin itu belajar dalam segala keterbatasan. Mereka bersekolah tanpa alas kaki, baju tanpa kancing, atap sekolah yang bocor jika hujan, dan papan tulis yang berlubang hingga terpaksa ditambal dengan poster Rhoma Irama.

Sekolah itu adalah SD dan SMP Muhammadiyah. Sebuah sekolah miskin yang kekurangan guru. Hanya 2 orang guru yang mengajar di sana dengan penuh dedikasi, kasih sayang, dan kelembutan, yaitu bapak Harfan (kepala sekolah) dan Ibu Mus. Sebagian besar murid SD Muhammadiyah bersekolah mengenakan sandal. Mereka bahkan tidak mengenakan seragam.

Kemelaratan mewarnai kehidupan Laskar Pelangi. Sebagian besar orang tua mereka adalah buruh PN Timah, selain nelayan (orang tua si genius Lintang) dan orang Tionghoa kebun (orang tua A Kiong).

Tak jauh dari kehidupan nyata Laskar Pelangi ada kehidupan yang kontras yakni kawasan Gedong. Ini adalah kompleks perumahan para staf PN. Timah yang sudah dibangun sejak zaman Belanda. Kawasan Gedong merupakan tempat orang-orang mampu. Perumahan itu berdiri tembok tinggi di sekelilingnya dan satu gerbang masuk dan keluar. Gedong memiliki sekolah sendiri khusus untuk anak-anak yang menghuni kawasan tersebut yang tentu saja lebih wah.

Laskar Pelangi sesungguhnya mewakili kondisi anak-anak kampung umumnya di Indonesia. Termasuk di pedalaman Kalbar.

Saya sendiri yang membuat rilis buku ini di weblog: http://pencintabuku.wordpress.com mendapatkan banyak tanggapan. Setidaknya ada lima tanggapan dan responnya positif dari pembaca di dunia maya.

”Cerita semacam inilah yang sangat kita perlukan untuk memacu semangat atau menyadarkan anak-anak kita akan tanggung jawabnya terhadap masa depan dirinya sendiri, kampung halamannya, bangsa dan negaranya. Jangan seperti yang banyak ditayangkan televisi-televisi kita sekarang ini, yang ceritanya selalu tentang percintaan/pacaran anak-anak SMP bahkan SD,” komentar C.Suprantono, pada 5 Oktober 2007.

Sementara Iril, pada 8 Oktober 2007 mengomentari, ”baguss. mau dong buku nya, gimana?.

“novel ini sngat mnarik.krna mnceritakan tentang prjuangan seorang murid yg brsemangat sekolah, wlaupun mereka mmpunyai masalah dalam ketrbatasan biaya skolah dan mereka bnyak mngalami msalah dalam bersekolah tetapi mreka tetap bersemangat untuk belajar,wlaupun murid tersebut belajar dalam minimnya fasilitas belajar yang tdak seperti dngan fasilitas skolah lainnya.dri snilah kta hrus mnsyukuri hdup ini,krna bxk org yg ingin brsekolah tetapi mreka kkurangan biaya.mka dri snilah mreka smua hrus dibantu,siapa tahu salah satu dari mereka adalah seorang pemimpin yang bisa memimpin bangsa indonesia ini kdepan jauh lebih baik dari pada yang sekarang (amieeeen).TOLONG BISA TIDAK AKU MINTA BUKUNYA LASKAR PELANGI????. Komentar Aswar Asnawi pada 9 Oktober 2007.

Teman saya, wartawan Majalah Swa, Asep Mohammad BS, berkomentar, “Laskar Pelangi” memang novel yang indah dari sebuah kisah nyata yang indah. Unsur indah lainnya yang ditampilkan dalam novel tersebut, seperti komentarnya “filsuf” Gde Prama dalam acara “Kick Andy”, adalah “CINTA”. Cinta seorang murid (Andrea) terhadap gurunya, dan cinta seorang Andrea kepada teman-temannya. Terutama Lintang (yang malang). Huuh..novel yang indah dan penuh cinta! Kata Asep, pada 9 Oktober 2007.

Kehidupan para siswa itu memang seperti pelangi, berwarna-warni. Bahkan hingga mereka dewasa pun, kehidupan itu semakin berwarna-warni. Jadi, sudahkan Anda membacanya?*

Data Buku:
Judul Buku: Laskar Pelangi
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : PT. Bentang Pustaka
Cetakan : Keenam Februari 2007 (pertama September 2005)
Peresensi : Stefanus Akim

*Edisi Cetak Borneo Tribune 21 Oktober 2007

Sunday, October 21, 2007 |

0 komentar:

Kategori

Total Pageviews