Membedah Masalah Dengan Ketajaman Analisis

Oleh: Stefanus Akim

KALAU Anda tekun menyimak harian Kompas (Jakarta), umumnya sebulan sekali William Chang menyumbangkan opini yang bermuatan lokal, nasional dan internasional. Ketajaman dan kesegaran mata penanya memungkinkannya berkompetisi dengan penulis-penulis nasional lain. Melalui persaingan yang ketat, tulisan-tulisannya berhasil menembus pasar nasional. Muatan ilmiah yang dibungkus dengan gaya bahasa populer dapat disimak dalam analisis-analisisnya.

Kala masih di Kelas II SMA Seminari St. Paulus Nyarumkop (1979), William sudah menurunkan gagasan ke Rubrik Bursa Ide dan Rubrik Bahasa Kita (Kompas). Sejak saat itu motivasi untuk merambah dunia tulis-menulis makin kuat. Ketika masih kuliah filsafat di Fakultas Filsafat Unika St. Thomas Medan tulisan-tulisannya sudah mengisi Mingguan Hidup, Majalah Bola dan Asia Focus (Thailand). Bakat tulis-menulis kian dipupuk hingga dia menyelesaikan pendidikannya di Sumatera Utara. Kesanggupannya untuk menulis mempercepat proses penyelesaian studi S-2 di Universitas Gregoriana (Roma) dan S-3 di Universitas Lateran (Roma).

Ternyata, semangat menulis belum kendor walaupun telah menyelesaikan program pendidikan doktoratnya. Sejak Oktober 1996, sekembali dari pendidikan di Italia, dia mulai menyumbangkan gagasan-gagasan yang cemerlang dalam harian nasional, seperti Kompas, Suara Pembaruan, Media Indonesia dan The Jakarta Post. Cukup sering dia diminta untuk menyumbangkan opini-opini segar terkait dengan masalah-masalah aktual di tanah air. Biasanya, dia memenuhi permintaan media massa, baik lokal, nasional maupun internasional.

Dampak tulisannya memang terasa. Sejumlah pemimpin nasional mulai lebih serius memikirkan masa depan nusa dan bangsa. Tumpukan masalah lokal dan nasional dibedah dengan ketajaman berpikir dan analisis. Tak heran, acapkali dia diundang sebagai pembicara lokal, nasional dan bahkan internasional. Sangat jarang terjadi bahwa seseorang dapat memasuki kawasan Abu Sayap. Namun, penulis yang satu ini pernah diundang oleh The British Council di Manila dan Jakarta untuk memberikan seminar tentang Conflict Resolution di tengah-tengah para pejuang dari kawasan Filipina Selatan.

Kiat khusus sebagai penulis terletak pada kemauan yang kuat untuk menyalurkan ilmu pengetahuan bagi mereka yang memerlukannya. Tentang menulis, dengan rendah hati William mengungkapkan bahwa dia masih perlu banyak belajar dari penulis-penulis caliber nasional dan internasional lainnya. Dia tak pernah menganggap diri hebat dalam bidang tulis-menulis, sebab prinsip dasar hidupnya adalah ingin belajar terus selama hayat masih dikandung badan. Bermodalkan jiwa belajar yang tinggi dia berusaha menimba ilmu seluas mungkin dan menyalurkan ilmu-ilmu yang berguna bagi pengembangan kepribadian. Tak heran, buku-buku tentang psikologipun masih dilahap di sela-sela waktu senggang.

Hingga kini William telah menghasilkan sekurang-kurangnya delapan buku baik dalam Bahasa Indonesia maupun Inggris. Salah satu masterpiece pemikirannya dituangkan dalam buku The Dignity of the Human Person in Pancasila and the Church’s Social Doctrine (Quezon City, Claretian Publications, 1998). Buku setebal 394 halaman itu mencerminkan kejernihan jiwanya untuk memperjuangkan nilai dasar kemanusiaan yang selama ini mulai dilalaikan dan bahkan dilupakan sejumlah orang. Tulisan-tulisannya berupa buku dan artikel sangat diwarnai oleh pandangan dan refleksi humanioranya.

Keahliannya dalam bidang etika sosial disalurkan dalam ceramah-ceramah ilmiah. Benang merah tulisan-tulisannya bernapaskan etika sosial yang memberikan perhatian kepada harkat dan martabat setiap manusia, tanpa pandang bulu, pilih kasih dan diskriminasi. Benang merah ini bisa ditemukan dalam buku perdana yang berisi himpunan tulisannya dalam Kompas dengan judul Kerikil-kerikil di Jalan Reformasi (Jakarta, Kompas 2004). Kalau kita simak baik-baik buku ini maka akan tercermin seluruh pribadinya yang menjunjung tinggi harkat dan martabat setiap insan sebagai citra Sang Pencipta yang tak dapat dilecehkan dalam bentuk apapun. Penghargaan atas harkat dan martabat manusia ini menunjukkan kepedulian rohaninya terhadap segala makhluk ciptaan Sang Khalik.

Yang jelas, dia masih aktif berpikir dan menuliskan pikirannya dalam artikel-artikel segar yang menggerakka syaraf-syaraf otak si pembaca. Profisiat atas semua sumbangan tulisan yang dapat membangun dan mengembangkan kemanusiaan di tengah-tengah jaman yang terus-menerus berubah. Mudah-mudahan, di samping memberi kuliah, Romo William Chang, OFM Cap tak pernah akan berhenti menulis dan menulis.□

*Edisi Cetak Borneo Tribune 16 September 2007

Sunday, September 16, 2007 |

0 komentar:

Kategori

Total Pageviews