Even Budaya di Pontianak

Oleh: Stefanus Akim

KOTA Pontianak yang multi etnis memiliki seni dan budaya yang beragam sekaligus kaya. Berbagai even digelar dengan tujuan menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Masyarakat Pontianak lebih heterogen, ini disebabkan karena menjadi daerah yang terbuka dan pusat kegiatan pemerintahan, swasta, dan sosial budaya. Pendatang dengan mudah masuk dan berusaha di Pontianak dibandingkan dengan kabupaten lain. Jika dilihat hampir sebagian besar suku bangsa yang ada di Indonesia ada.

Agar peristiwa budaya tersebut menarik kunjungan wisatawan Pemkot mengadakannya secara berkala. Sejumlah even yang tak tak asing lagi diantaranya adalah Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK). Festival ini diselenggarakan setiap dua tahun sekali dan dimulai pada tahun 1991, 1993, 1995 dan tahun 1997.

Sejumlah kabupaten/kota dan provinsi di Kalbar serta Sumatera diundang untuk mengikuti festival yang dipusatkan di Kota Pontianak. Biasanya diselenggarakan pada tanggal 21 sampai dengan tanggal 25 Maret yang dirangkai dengan kulminasi matahari. Namun tahun ini tak digelar hari ini, 5 September 2007.

Pada 22 Maret 2007 lalu juga digelar Lomba Dayung Hias dan Tradisional. Sepertinya Pemerintah Kota Pontianak mengagendakan kegiatan ini untuk digelar dua tahun sekali. Perlombaan ini unik karena sampan tradisional yang berlomba dihiasi ornamen-ornamen budaya masing- masing daerah.

Selain even dua tahunan, juga ada even tahunan. Diantaranya Gawai Dayak, Meriam Karbit, Cap Go Meh dan Festival Barongsai serta Naga, Imlek, serta Naik Dango.

Gawai Dayak diselenggarakan setiap tahun yang biasanya pada 20 Mei sampai dengan tanggal 25 Mei di Rumah Panjang Jalan Sutoyo Pontianak. Even ini di pedalaman sebagai bentuk ucapan syukur selepas panen padi. Di Pontianak selain menjaga tradisi dan budaya agar terus hidup juga untuk menumbuh kembangkan budaya suku Dayak yang masih berkembang seperti budaya, seni, penduduk asli Kalimantan Barat.

Even yang tak kalah meraihnya adalah Festival Meriam Karbit dan Keriang Bandong. Meriam Karbit biasanya diselenggarakan pada bulan Puasa (Ramadhan) menjelang Hari Raya Lebaran (Idul Fitri) dimana masyarakat yang berada di sisi Sungai Kapuas saling berhadapan dan membunyikan meriam karbit yang saling bersahutan.

Untuk masyarakat Tionghoa mereka menggelar perayaan Cap Go Meh. Yang ditampilkan dan kadang diperlombakan adalah barongsai dan naga. Biasanya digelar pada 15 hari setelah Tahun Baru masyarakat China (Tionghoa).□

Tuesday, September 4, 2007 |

0 komentar:

Kategori

Total Pageviews