Hati Sebagai Gua Natal

Oleh: William Chang, OFM Cap*

Rombongan pemuda beransel, remaja peniup terompet, gembala-gembala, dan kawanan domba bergegas menuju palungan tempat si bayi, keturunan Raja Daud, dibaringkan. Kereta api jurusan “Betlehem” penuh sesak. Kelompok penunggang keledai muda memburu lokasi kelahiran. Panorama ini lazim muncul di kawasan pasar Napoli (Italia Selatan) jauh-jauh hari sebelum Natal.

Pembauran ukiran klasik-tradisional dan kontemporer membentuk jembatan dialog tentang misteri logos (Sabda) menjadi sarx (daging).

Alunan musik rohani membangkitkan suasana perdamaian antarmakhluk ciptaan di Padang Efrata. Manusia, hewan, makhluk surgawi membangun persaudaraan universal dan mengidungkan syair “Gloria in excelsis Deo et in terra pax hominibus”.

Gua natal sederhana yang membanjiri dunia dewasa ini lahir dari kearifan rohani seorang mistikus asal Assisi – Italia Tengah, Francesco (1181/2-1226). Kaum fransiskan abad pertengahan mendramatisasi gua keselamatan ini dengan menghadirkan pesan damai dan kesetiakawanan sosial. Suasana alam yang fascinosum dan tremendum menampilkan wajah aktor/aktris rohani utama. Sinar matahari menaklukkan kegelapan dan kedinginan dunia. Tunas pengharapan muncul dari taruk isai.

Telah berabad-abad, dari satu sisi, dunia tertarik dan tertegun pada gua-gua natal karya tangan manusia. Keindahan gua natal itu terasa kian semarak. Kedipan lampu elektronik menghidupkan suasana dalam gua. Dimensi lahiriah umumnya lebih memikat pandangan mata manusia dan melupakan dimensi internal gua-gua natal.

Namun, dari sisi lain, manusia perlu menyiapkan hati sebagai relung dialog manusia dengan Pencipta-Nya. “Ketua Panitia” perayaan kedatangan Yesus, Yohanes Pembaptis, berseru-seru di padang gurun dan meminta manusia untuk membenahi dan memperbaiki keadaan hatinya. Hati yang bengkok diluruskan, yang tinggi direndahkan, yang berjurang ditimbun. Pemanasan global, birokrasi koruptif dan konflik sosial bermula dari kekacauan disposisi hati.

Transformasi dan reformasi hati manusia mutlak dijalankan sejak sekarang. Acapkali agama menjadi “topeng manusia” yang sangat dikritik Yesus dalam ajaran tentang hipokritisme (kemunafikan). Di hadapan Pencipta tiada yang tersembunyi. Semua akan tersingkap dan terungkap.

Menjadikan hati sebagai gua natal berarti manusia diundang untuk kembali kepada kejujuran, kebenaran dan kebersihan diri sehingga hati manusia layak menjadi palungan bagi Sang Juruselamat. Inilah jalan yang perlu disiapkan sebelum perayaan misteri ilahi pada hari Natal. Selamat Natal 2007 dan Tahun Baru 2008.

* Ketua Program Pascasarjana STT Pastor Bonus
** Diterbitkan Borneo Tribune, 23 Desember 2007

Monday, December 24, 2007 |

4 komentar:

Anonymous said...

'Hati sebagai Gua Natal' yang dimuat di Borneo Tribune, sungguh sebuah esai yang indah, universal. Bukan ditulis cuma oleh seorang 'gembala' yang perasa, tapi juga seorang pujangga. Alhamdullilah-Puji Tuhan-Wassamualaikum, syalom.

Ttd
HH

Riou said...

Wah.. poto paman saya~~~ Waaaa

stefanus akim said...

Oh ya...salam kenal ya.

Mungkinkah Anda putranya Pak Andreas Chang. Kebetulan beliau guru bahasa Inggris saya saat di SMA Seminari St Paulus Nyarumkop - Singkawang.

Kalau ia salam ya...

Anonymous said...

saya ga bosan2 baca artikel di atas... pr. william chang bener2 seorang imam yg sangat berbakat. sayang sangat sedikit data pribadi beliau yg bisa diketahui. apakah bpk. stefanus akim boleh tolong sampaikan salam hormat dari seorang umat bernama ratna (lkb) kepada beliau? trims. gbu.