Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Sungai Ambawang

Ada rasa ingin tahu yang cukup besar dari sejumlah mahasiswa Sungai Ambawang yang tergabung dalam Ikatan Persaudaran Mahasiswa Sungai Ambawang-disingkat IPMSA terhadap dunia jurnalistik.

Untuk itulah maka Tata-ketua saat ini, meminta kami bertiga-Tanto, Aleks dan Akim untuk memberikan materi singkat tentang jurnalistik kepada mereka. Dipilihlah, Gedung Serba Guna Korek yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Pontianak. Sebab selain sedang tak digunakan gedung ini cukup representatif dan lokasinya mudah ditempuh. Ada 13 mahasiswa yang hadir dari 16 yang direncanakan oleh pengurus IPMSA. Jumlah tersebut aku pikir masih minim namun cukup ideal untuk sebuah pelatihan dan diskusi. Aku ingat, saat masih menjadi pengurus tahun 2002 lalu, terdaftar 80 lebih mahasiswa Sungai Ambawang termasuk kecamatan Kuala Mandor yang merupakan hasil pemekaran.

Pelatihan berjalan santai dan akrab. Kami duduk di sebuah ruangan yang cukup besar dengan kursi kayu yang mirip kursi gereja. Peserta duduk menghadap white board dan pemateri menghadap ke arah peserta. Bangunan ini bersebelahan dengan Gereja Santa Anna, Paroki Sungai Ambawang dan SMA Talino.

Seperti umumnya mahasiswa, mereka cukup kritis dengan materi yang kami sampaikan. Tak hanya soal teknis seperti reportase, menulis berita dan membuat sudut pandang serta bahasa jurnalistik yang ditanyakan. Diantara mereka ada yang mempertayakan soal amplop dan wartawan bodrek. Mengutip pernyataan Goenawan Mohamad aku berujar kepada mereka bahwa menulis itu adalah laku moral dan harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan Tuhan.

Wah pikirku, cukup kritis juga mereka ini dan disini lah masa depan jurnalisme di tanah Borneo. Mengingat usia mereka yang masih cukup muda.

Kami bertiga umumnya memberikan materi yang sederhana, teknis dan umum serta menceritakan pengalaman masing-masing selama menjadi wartawan. Aku memotivasi mereka agar belajar dan terus belajar. Sebab penulis-wartawan yang baik adalah mereka yang mau terus belajar. Upaya itu dapat ditempuh dengan membaca dan membaca terus, reportase dan reportase terus, dikusi dan teruslah menulis.

Almarhum Romo Mangun, mengutarakan menulis ibarat orang mengisi botol. Botol itu diisi terus hingga penuh dan meluber, yang meluber itulah hasil tulisan. Untuk mengisi botol itu harus dengan membaca.

Kami memberikan materi umum mulai pukul 09.00 dan berakhir menjelang pukul 13.00. setelah itu kami bubar dan akan dilanjutkan hingga Sabtu dan Minggu.

Pada pelatihan itu teman-teman mahasiswa menyediakan white board berikut spidol dan penghapus. Saat jam istirahat kami disuguhkan makanan ringan berupa kue, teh dan kopi. Sedangkan istri Aleks yang rumah orang tuanya berhadapan dengan tempat pertamuan dipisahkan jalan Trans Kalimantan menyediakan kami bertiga makan siang. Satu tampah nangka yang ranum serta manggis disuguhkan kepada kami. Sebagai penutup ada tuak dari Sekadau....hem nikmat sekali.

Tuak sejenis minuman beralkohol, rasanya manis dan baunya harum. Ia dibuat dari hasil permentasi beras pulut dicampur ragi. Dalam jangka waktu tertentu permentasi tersebut dibuka dan airnya diperas. Biasanya disuguhkan saat ada pesta atau upacara adat.

Di Sungai Ambawang juga ada beberapa tempat penyulingan arak yang dikerjakan olah masyarakat. Kadar alkoholnya saya tidak tahu persis, namun jika disimpan dalam cawan atau gelas bakar sedikit dengan api maka akan menyala. Persis seperti spritus.

Sebelum pelatihan, saat Tata ke kantor aku minta ia menemani aku liputan soal arak. Bagaimana proses pembuatannya, peningatan ekonomi dan lapangan kerja, pemasan dan lain-lain. Namun dengan halus mahasiswa Universiras Tanjungpura ini menolak dengan alasan masih belum kondusif.

"Polisi masih razia (arak) bang, ame dolo. Ahe agik ade' kita nang atakng, payah. Ade' dah ina' ada ahe-ahe aku pane ngantat," kata dia dengan bahasa Dayak Kanayatn yang artinya: Polisi masih razia (arak) bang, jangan dulu. Apa lagi kalau abang yang datang, repot. Kalau sudah tak tak ada apa-apa aku akan antarkan.

Aku juga membagikan foto copy beberapa buah contoh tulisan sederhana dan naratif serta memberikan sedikit pengantar jurnalistik yang diharapkan dapat mereka baca jika ada waktu senggang. □

Saturday, July 7, 2007 |

3 komentar:

Antonius said...

Wah, bagus bang Kim sudah memberikan pencerahan untuk teman2 mahasiswa di Sungai Ambawang.
Sukses, Oh saya lihat ikut pelatihan narasi juga ya di Yayasan Pantau. Bagimana, bagi donk ilmunya

Andreas Harsono said...

Dengan hormat,

Saya senang sekali membaca ada diskusi soal jurnalisme di Sungai Ambawang. Kalau kelak ada kesempatan pergi Pontianak, saya sekali-sekali mau ikutan mendengarkan diskusi macam begini. Better journalism, better lives. Makin bermutu jurnalisme dalam suatu masyarakat, makin bermutu pula kehidupan masyarakat tersebut. Rasanya perlu sekali untuk Sungai Ambawang. Terima kasih.

akim said...

Trims bang AH atas komentarnya.

Dalam waktu dekat teman-teman mahasiswa Sungai Ambawang kembali mengagendakan untuk berdiskusi dengan siswa SMA I soal jurnalistik juga.

Tentu saja sudah menjadi tanggungjawab setiap journalist untuk meningkatkan mutu jurnalisme.

Terima kasih atas semangat yg selalu dikobarkan.

Salam untuk semua alumni JS & rekan-rekan Pantau...

Kategori

Total Pageviews