Majalah Sidus-Nyarumkop

Saya masih ingat pernah ‘mengelola’ majalah Sidus. Majalah ini milik para siswa asrama Widya (seminari) St Paulus Nyarumkop, Singkawang. Saya juga pernah menjadi Ketua Asrama tahun 1994 (Kelas 2 SMA), Ketua Seksi Liturgi tahun 1993 (Kelas 1) dan Ketua Majelis Permusyarawatan Kelas (MPK) tahun 1994.

Saat itu konsultan Sidus bapak Drs. Hendrikus Clement. Beliau guru Bahasa Inggris alumni Sanata Dharma, Yogyakarta dan juga alumni Nyarumkop. Sempat menjadi Ketua DPRD Kota Singkawang dari Fraksi Partai Demokrasi Perjuangan (PDI-P) dan kemudian karena pemekaran, menjadi anggota DPRD Bengkayang. Terakhir saya dengar sebagai dosen di STIE Bumi Sebalo, Bengkayang.

Majalah itu ukuran buku tulis biasa dengan sampul kuning dan isi foto copy. Isinya macam-macam, mulai dari cerita humor, artikel, kartun dan lain-lain. Yang nulis selain siswa seminari menengah juga para guru dan biarawan.

Terakhir saya dengar sudah tidak terbit karena kekurangan dana dan mungkin juga kekurangam human recourses. Saya & beberapa alumni berpikir untuk menghidupkan kembali, sebagai sarana adik-adik menuangkan gagasan dan melatih diri. Bagi para alumni yang berkeinginan berkomitmen mungkin bisa kontak saya di stefanusakim [et] gmail [dot] com.

Mungkin perlu direview, kami pernah membuat paguyuban dengan nama Ikatan Alumni Persekolahan Katolik Nyarumkop (IMAPKN) antara tahun 1999-2001. Saya tak ingat persis, sebab sudah lama & tak tahu siapa pengurus sekarang. Saat itu beralamat di Komsos Keuskupan Agung Pontianak di jalan Imam Bonjol.

Tahun 2006 IMAPKN, pernah membuat kegiatan bernama Latihan Kepemimpinan Siswa (LKS)-mirip di Sanata Darma dengan basis latihan kontemplasi St Iqnatius De Loyola. Salah satu yang bekerja keras Yosafat Aus S.Ag dan kawan-kawan. Saya sempat hadir pada hari penutupan. Awal berdiri melakukan sosialisasi perguruan tinggi di Pontianak, meggelar tryout penerimaan mahasiswa baru dan kegiatan lain.

Ada rasa bersalah jika majalah ini mati suri. Soal dana mungkin kita bisa patungan dulu dan tidak membebani keuangan persekolahan atau yayasan.

Regards,
Stefanus Akim

Sunday, July 8, 2007 |

3 komentar:

Anonymous said...

saya kira bukan karena tidak ada dana. tapi tidak ada yang berminat menulis, juga tidak pencerahan karena para alumni tidak mau balik lagi, ngasi materi jurnalistik, hehehee

tabik, dayak
www.angantembawang.blogspot.com

Stevans Uchok Goeltom said...

tahun 2000-2003 saya tdk lg melihat majalah itu. saya rasa majalah seperti itu sangat perlu sekali utk membantu adik-adik skrg dlm mengembangkn kemampuannya menulis. tp memang perlu bg para alumni utk turut serta dlm mengadakn kembali majalah tersebut,,, hehehe...

Stevans Uchok Goeltom said...

2000-2003 saya tdk lg melihat majalah tsb. saya rasa majalah tsb perlu skali bagi adik-adik bukan hanya utk As. Widya tp persekolahn utk melatih adik-adik belajar menuangkan ide-ide mereka. setidaknya dgn menulis sedikit menghilangkan rasa jenuh di asrama.

Kategori

Total Pageviews