Kisah Dahsyat Ketimbang Fiksi

Judul Buku: Frank Sinatra Kena Salesma:
Kisah Terhebat yang Pernah Diceritakan
Editor: Yusi Avianto Pareanom (edisi terjemahan bahasa Indonesia)
Penerbit: Banana Publisher, Depok, 130 halaman, 19 cm
Cetakan pertama: Oktober 2005
Peresensi: Stefanus Akim

Karya jurnalistik tidak selamanya kering, membosankan atau hanya disajikan dengan 5W+H atau paling banter feature. Dengan new journalism, karya jurnalistik dapat dibuat seperti novel namun sangat menyucikan fakta. Ada adegan, plot, karakter, konflik, akses penulis dengan sumber, emosi rasa cinta benci dan sebagainya, perjalanan waktu dan unsur kebaruan. Semua itu ada dalam buku kecil ini.

Buku ini terbagi dalam tiga bagian (judul) berbeda. Ada Frank Sinatra Kena Salesma pada bagian pertama yang merupakan karya Gay Talese, Demam Anggrek karya Susan Orlean, dan Ali Kini karya Cal Fussman.

Pada bagian pertama kita bisa melihat Frank dalam jangkauan yang dekat sekali. Kita seakan bisa melihat dengan mata, meraba dengan tangan, mengecap dengan lidah dan mencium dengan hidung siapa dia sebenarnya.

Frank punya segalanya: karir hebat, wanita-wanita cantik, serta keluarga dan kawan-kawan yang mencintainya. Ia adalah Il Padrone, sang bos besar. Tetapi berada di puncak juga berarti menjadi yang terdepan saat badai datang. Bagian pertama ini bercerita problem kekuasaan yang dialami salah satu bintang terkondang di dunia. Kisah ini medapat sambutan luar bisa ketika terbit pertama kali pada tahun 1966.

Kisah ini adalah salah satu pelopor jurnalisme baru-new journalism, narasi nonfiksi, setia menghadirkan fakta, tetapi hidup karena gaya bercerita yang pada waktu itu hanya dipakai dalam wilayah fiksi.


Anda juga siap-siap terharu membaca Ali Kini di bagian ketiga. Bagian ini akan membuka mata bahwa kisah nyata tak kalah kaya, memikat, ganjil, dan ajaib ketimbang fiksi. Malhan dalam beberapa kasus bisa lebih.

Ali Kini bercerita tentang mengisahkan kehidupan kehidupan mantan juara tinju dunia Muhammad Ali setelah terbekap penyakit Parkinson. ”Masihkan ia orang yang sama dengan orang yang sekain puluh tahun lalu berdiri di pojok jalan menumumkan keberadannya di depan kamera televisi setelah menerima ancaman pembunuhan”? Anda akan menemukannya setelah membaca tuntas.

Siap-siap pula untuk terkagum-kagum menyimak kegilaan pencinta sejadi Demam Anggrek yang menjadi inspiransi film Adaptation yang memenangi Oscar. Anda akan menemukan deskripsi yang sangat memikat pada bagian ini. ”Satu spesies terlihat seperti anjing gembala Jerman dengan lidah terjulur, spesiesnya lainnya tampak seperti bawang. Satu spesies terlihat seperti gurita, sementara yang lain tampak seperti hidung orang. Ada satu yang terlihat seperti sepatu gaya yang biasa dipakai raja-raja, satu lagi tampak seperti monyet”.

”Sebagai orang pertanian dan jurnalis saya malu jika tak dapat menulis buku-Demam Anggrek-seperti ini. Sangat sederhana sekali namun sangat memikat,” komentar Nur Iskandar.

Memang untuk melakukan jurnalisme sastrawi atau narattive memerlukan ambisi si wartawan, yang tak dibebani rutinitas redaksi. Ia harus membangun, dan memegang, kontak personal dengan pembacanya. Liputan yang dilaporkannya harus jadi pengalaman unik yang personal sifatnya. Ia tak hanya mengenali subyek liputan sebagai materi jurnalistik akan tapi mengenali mereka dengan keintiman orang yang memang dekat. Dari paragraf awal sampai akhir, ia menyajikan pengalaman tersebut kepada pembaca, dalam gaya yang laporan yang tetap terkontrol, matang, dan terkadang lucu. □

*Diterbitkan Borneo Tribune, 8 Juli 2007

Friday, July 13, 2007 |

0 komentar:

Kategori

Total Pageviews