Naik Kelas dan Ritual Pulang Kampung

Dua buah hati kami, Alicia dan Gagas, akhir minggu kemarin naik kelas. Jika Alicia naik kelas II SD, maka Gagas masuk ke Kelas I. Keduanya sekolah di Persekolahan Bruder Melati, Jalan AR Hakim Pontianak.

Serangkaian ‘ritual adat’ sudah disiapkan untuk menyambut hari bahagia itu. Mulai hadiah, jalan-jalan, hingga pulang ke kampung di Kecamatan Kuala Mandor B. Dulunya, nama kecamatan ini Sungai Ambawang, namun belakangan karena pemekaran menjadi Kuala Mandor B. Hadiah wajib hukumnya, karena karena saya dan istri pernah berjanji, jika Alicia masuk 10 besar maka akan diberi hadiah.

Tentu saja bagian yang paling kerepotan aku dan istri. Sedangkan mereka berdua, setiap hari menuntut janji-janji.

“Kapan nih pulang kampung,” kata Alicia tadi pagi.

“Ia, kapan nih,” kata Gagas menimpali.

Aku dan ibunya tentu saja kelimpungan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Rencana awal beberapa bulan lalu ternyata tak mulus. Istri belum bisa mengambil cuti karena tenaga di tempat kerja berkurang. Seorang temannya melahirkan, sehingga beban kerja harus ditanggung sama-sama. Sedangkan aku masih sangat sibuk di kantor baru. Banyak yang harus dibenahi dan dipersiapkan.

Pulang ke kampung bagi saya dan istri mungkin hal yang biasa dan lumrah. Kami besar dan sekolah di kampung. Jadi sebagian masa bermain dihabiskan di sana. Aku mulai meninggalkan kampung ketika sekolah agak jauh, yakni saat masuk di SMA Seminari Santo Paulus Nyarumkop di Singkawang. Kemudian melanjutkan di Fakultas Hukum Untan. Sedangkan istri, ketika masuk SMP 9 Pontianak, dilanjutkan ke SPK Dharma Insan, Santo Antonius. Kemudian bekerja di almamaternya hingga melanjutkan studi di tempat yang sama.

Bagi anak-anak, pulang ke kampung menjadi hal luar biasa. Bahkan mungkin paling ditunggu-tunggu. Di sana banyak pengalaman baru yang bisa didapatkan. Bisa main lumpur sepuasnya, main bola di lapangan desa, main kejar-kejaran, hingga mandi di sungai yang airnya masih jernih.

Menyinggung soal liburan kampung, saat ini sudah menjadi tren bagi masyarakat urban. Bahkan Bondan Winarno, pernah menulis hal ini di Kompas.

Bagi aku, tentu saja bukan ikut-ikutan seperi masyarakat urban yang berlibur di kampung. Tujuannya untuk lebih memperkenalkan realita pedesaan kepada kedua buah hati. Termasuk memperkenalkan budaya, tradisi dan lebih penting mengenal saudara-saudara, om, tante serta kakek dan nenek.

Jadi...meskipun pekerjaan di kantor cukup banyak dalam masa liburan sekolah ini, kami sekeluarga harus menyempatkan diri pulang ke kampung. Saya senang melihat Gagas tanpa canggung bermain lumpur, pergi ke ladang, ke hutan karet dan ikut berburu tupai bersama sepupu-sepupunya. Meskipun baru akan berusia 6 tahun pada 31 Juli mendatang, ia sudah sangat cekatan bermain di hutan.*

Monday, June 16, 2008 |

1 komentar:

Joy said...

Selamat ya mas...anak2nya udah naik kelas.

Bahagia liatnya