Perempatan Jl Tanjungpura Macet

MACET - Beginilah kondisi Jl Tanjungpura, Pontianak pada sore hari, Jumat (25/6). Satu di antara penyebab jalanan macet di Pontianak adalah penambahan jumlah kendaraan tak dibarengi pelebaran jalan.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

[ read the rest of this entry » ]

Friday, June 25, 2010 |

Seolah-olah Rayakan Ultah Ke-57

---------------------------------------------------
Best Regards,

@Stefanus Akim
http://stefanusakim.blogspot.com

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
---------------------------------------------------

[ read the rest of this entry » ]

Wednesday, June 16, 2010 |

Surat Cinta untuk Lingkungan

BAGI remaja generasi tahun 1980-an bahkan awal 1990-an berkirim surat mungkin hal biasa. Menulis surat untuk pacar, orangtua, surat izin di sekolah, bahkan untuk artis-artis.

Saya jadi ingat saat sekolah di Nyarumkop, Singkawang dan tinggal di Asrama yang dikelola para biarawan kapusin. Setiap akhir bulan saya akrab berkirim surat ke orangtua di kampung.

Isinya mulai dari keluh-kesah hingga kabar di asrama saat ini. Di paragraf terakhir - ini sebenarnya poin pentingnya - apa lagi kalau bukan minta uang dengan orangtua. "Kalau bisa jangan lambat-lambat, sebab ananda kehabisan uang," itu kalimat pamungkasnya.

Biaya kirim surat saat itu Rp 300 untuk biasa dan Rp 700 untuk kilat. Murah bukan? Ya wajar saja nilai tukar dollar saja berkisar Rp 2.500 untuk satu 1 $. Perbandingannya harga bakwan Rp 50 perak dan harga mi instant Rp 150.

Saat itu mengirim dan terima duit bukan seperti sekarang. Kalau sekarang sangat masif menggunakan bank, kalau dulu uang dikirim via wesel (saya tak yakin tulisannya benar, sebab peristiwanya tahun 1993-1996). Wesel ini produk PT Pos, selain menerima pengiriman surat, paket, juga uang.

Cara lain orangtua biasanya kirim lewat pastor paroki saya di Paroki St Fidelis Sungai Ambawang-Kubu. Alamat paroki ini di Gereja Gembala Baik, Jl Sultan Muhammad, tepatnya dekat Pelabuhan Senghie.

Kembali ke soal surat-menyurat, pekan ini saya diminta seorang teman menjadi editor satu buku. Temanya Surat Cinta untuk Lingkungan. Isinya surat-surat yang ditulis sejumlah pelajar dan mahasiswa terhadap lingkungan.

Well, saat ditawari saya langsung setuju. Sebab, ini mengingatkan saya pada masa-masa masih suka berkirim surat. Surat untuk ortu, guru, terlebih surat cinta. Wak kak kak kak.

Okelah. Meski tak diberi deadline tegas namun saya ingin kerjaan ini cepat selesai. Untuk mencari inspirasi dan ingin sendiri saya mojok di satu warung kopi di kawasan Jl Gajahmada. Saya memikirkan bab demi bab, menyusun outline dan memilah tulisan.

Tiba-tiba saya ingin menulis lagi blog. Dan, jadilah tulisan ini. Tulisan ini saya buat di satu pojok warung kopi di Jl Gajahmada. Sambil memperhatikan bibi-bibi berjualan sayur, kuli pasar mengangkut barang dagangan, dan sopir serta kernetnya mengangkat barang ke mobil pikap.

Tulisan ini pun saya posting dari warung kopi. Dan, waduh saya baru sadar. Saya harus segera ke kantor. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 WIB. Sudah saatnya berkomunikasi dengan teman-teman reporter di lapangan. *
---------------------------------------------------
Best Regards,

@Stefanus Akim
http://stefanusakim.blogspot.com

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
---------------------------------------------------

[ read the rest of this entry » ]

Tuesday, June 15, 2010 |

Milis Sepi Selama Pertandingan Perdana

Ini benar-benar luar biasa. Selama pertandingan perdana World Cup 2010 antara tuan rumah Africa Selatan dan Meksiko, tadi malam, Jumat (11/6) sekitar pukul 21.00 WIB milis tempat saya bergabung sepi.

Tak ada aktivitas. Bahkan sekadar menyapa dan posting komentar pendek dimilis. Bukan hanya milis yang saya ikuti yang sepi, milis yang aku moderatori pun juga sepi.

Hingga pukul 21. 45, tak satupun email yang masuk dari sekitar 15 milis yang aku ikuti. Sepanjang aku ikut milis, baru kali inilah kejadian seperti ini terjadi. BlackBerry ku yang bisanya crang cring crang cring, kini benar-benar jadi 'anak baik'.

Karena langka itulah, maka saya coba abadikan di blog ini. Ini kejadian empat tahunan sekali kawan. Jadi, selamat menikmati olahraga paling menyedot perhatian publik dunia.*

-----------------------------------
Stefanus Akim
http://stefanusakim.blogspot.com

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
-----------------------------------

[ read the rest of this entry » ]

Friday, June 11, 2010 |

Ngeblog Cukup Pakai Telunjuk

Akhir-akhir ini gairah aku nulis di blog kembali muncul. Alasan karena rutinitas, sibuk, dan tak ada waktu coba aku buang jauh-jauh. Toh tulisan di blog ini nggak serius-serius amat.

Untuk itu aku melakukan sejumlah perbaikan. Tampilannya coba saya tata kembali. Termasuk membuat versi mobile, sehingga mudah diakses via ponsel, BlackBerry, atau iPhone.

Jika menggunakan satu dari ketiga alat komunikasi di atas, Anda cukup klik di mobile, Wushh...Anda bisa mengunjungi blog ini dengan leluasa, meski aku akui banyak fitur dan gambar serta link yang tak bisa diakses.

Nah, pada posting kali ini aku sebenarnya mau berbagi lagi tentang upaya meningkatkan kinerja blog ini - itu bahasa kerennya - yang sebenarnya adalah cara posting di blog pakai email. Cara ini sebenarnya sudah kuno, namun tetap asyik untuk diulas.

Aku tak ingin membahas tutorial bagaimana memposting blog via email itu. Anda tinggal browsing, sudah banyak petunjuk yang didapatkan. Satu di antaranya ada bisa kunjungi di blog di sini. Nah sebagai bukti ngeblong bisa hanya lewat email, maka postingan kali ini sengaja aku publish menggunakan email. Aku menyebutnya ngeblong pakai telunjuk. Sebab, begitu mudah posting dengan cara ini. Selamat mencoba dan berkreativitas. *

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

[ read the rest of this entry » ]

Thursday, June 10, 2010 |

Akses Blog Ini di Ponsel Anda

SEJAK sepekan lalu saya mencoba melakukan sedikit inovasi terhadap blog ini. Jika selama ini biasanya diakses lewat browser melalui personal computer (PC) atau notebook. Kini, blog ini juga bisa dikunjungi melalui telepon seluler (Ponsel).

Jika Anda menggunakan ponsel atau BlackBerry, maka situs ini bisa Anda kunjungi tidak berat. Anda cukup mengetik http://stefanusakim.mofuse.mobi, maka Anda sudah bisa membaca blog ini dengan leluasa.

Meski belum sempurna, namun cukup memadai jika dikunjungi dengan perangkat mobile. Situs ini adapted dengan hampir semua perangkat mobile. Mulai BlackBerry, nokia, iPhone, atau ponsel android seperti XPeria.

Sayang, alamat situsnya masih rada-rada susah diingat, http://stefanusakim.mofuse.mobi. Namun mau apalagi, sebab situs inilah satu di antara yang gratis untuk perangkat mobile. Kalau mau lebih singkat tanpa embel-embel mofuse.mobi,maka saya harus bayar.

Well, bukan tak mau bayar, namun ini tahap uji coba. Selain itu blog saya ini juga gratisan dan bukan untuk tujuan komersil. Apalagi beberapa bulan lalu iklan adsense saya di-banded Om Geoogle, jadi mau apa lagi, saya otomatis tak punya penghasilan dari blog ini. Hehehehe. ***

[ read the rest of this entry » ]

Thursday, June 3, 2010 |

Dayak Djongkang

Satu buku karya R Masri Sareb Putra, seorang penulis dan Dosen Universitas Multimedia Nusantara, kelahiran Jangkang, Kabupaten Sanggau.

Buku yang berjudul, "Dayak Djongkang - From Headhunter to Catholics". Adalah satu buku dengan pendekatan semiotika. Mengupas tentang siapa masyarakat Dayak Jangkang. Bagaimana perubahan sistem religi, dari kepercayaan lama menjadi Katolik.

Gambaran orang Dayak bertelinga panjang berjuntai anting, bercawat, bersongket, makan sirih, tinggal di rumah panjang, pemburu kepala manusia (headhunter); hanyalah kenangan masa lalu. Labeling sebagai suku bangsa primitif dan sejumlah streotype miring lain tinggal kenangan.

Kini, seiring modernisasi dan pembangunan, etnis Dayak masuk dalam peradaban baru. Tua muda, lelaki perempuan, anak-anak hingga dewasa; semua berperilaku dan ber-modus vivendi seperti layaknya manusia modern. Telepon seluler, antena parabola, kulkas, televisi berwarna sudah jadi hal yang biasa bagi mereka. Pendeknya, teknologi canggih dan informasi terkini dari penjuru dunia sudah merasuk, bahkan memengaruhi, peradaban dan cara hidup mereka.

Buku ini juga dilengkapi sejumlah foto-foto tempo doeloe zaman kolonial yang dikirimkan langsung oleh Herman Josef van Hulten, seorang misionaris Belanda. Ia menginjakkan kakinya di Borneo tahun 1938. Ia pula yang menulis sejumlah buku tentang Dayak dan penyebaran agama Katolik di Kalbar. *


CATATAN:
Saya diminta rekan R Masri Sareb Putra untuk membantu memasarkan buku ini terutama di Pontianak dan sekitarnya.

Anda berminat?
Pemesanan dapat melalui: Stefanus Akim
Harga Rp 75 ribu/eks.
Ponsel: 0812 5775 765
Buruan! Stok Terbatas...

[ read the rest of this entry » ]

Monday, March 8, 2010 |

Alicia Nanggok Angpau

Wajah Alicia sumringah, di tangannya tampak beberapa uang pecahan Rp 1.000 dan Rp 2.000. Ada juga selembar 'amplop, angpau warna hijau.

Temannya, Adelia, juga sama, membawa beberapa lembar uang dan amplop angpau. "Dari tetangga, Pak. Dikasih angpau," Alicia bersemangat.

Idul Fitri kali ini memang sangat spesial bagi Alicia dan teman-temannya. Ia yang datang di rumah tetangga kebagian juga angpau.

Angpau sebenarnya istilah Tionghoa yang artinya berbagi rejeki pada saat Imlek. Mereka yang tua memberikan uang kepada yang lebih muda. Uang tersebut dimasukkan dalam amplop merah.

Istilah angpau kini populer di Pontianak, sebagai istilah pemberian saat hari raya. Angpau tak lagi saat Imlek. Saat Idul Fitri dan Natal pun orang menyebutkan pemberian uang kepada anak kecil dengan istilah sama, angpau.

Dulu anak-anak di Pontianak menyebut pemberian saat Idul Fitri dengan sebutan 'nanggok', kini istilahnya menjadi naggok angpau. Apapun namanya menjadi tak penting. Maknanya ini pemberian dari orangtua kepada anak-anak sebagai lambang persaudaraan dan kekeluargaan.

Anak-anak jadi senang berkunjung di rumah tetangga. Silaturahmi terjadi dan mereka semakin saling kenal.

Nah, natal tak lama lagi, saya juga mesti menyiapkan angpau untuk anak-anak itu. Bingkisannya tak perlu mewah dan rumit. Cukup permen, snack, dan beberapa lembar uang seribuan mereka pasti senang. Melihat anak-anak itu senang kita orangtua tentu turut senang.*

[ read the rest of this entry » ]

Thursday, September 24, 2009 |

Sepenggal Doa untuk Ultah Gagas

Putra kami, Castilo Gagas Panamuan, besok merayakan ulang tahunnya yang ketujuh. Sebagai bentuk cinta dan harapan, saya membuatkan doa buat dia. Doa ini aku sadur dari doa untuk anak di buku Puji Syukur serta aku tambahi dan kurangi di beberapa bagian.

Doa ini kemudian aku print, masukkan ke amplop dan besok pagi sebelum ia berangkat sekolah akan aku serahkan ke Lilo.

Selamat ulang tahun Lilo, semoga apa yang kau cita-citakan dikabulkan Tuhan.

Atas nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus, Amin

Tuhan Yesus Kristus,
Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih atas kesehatan, kesejahteraan, kebersamaan dan semua rezeki yang telah Engkau berikan selama ini. Terlebih hari ini anak kami, Castilo Gagas Panamuan, merayakan ulang tahun yang ketujuh. Kiranya Engkau berkati dia, dan berikan kesuksesan sehingga apa yang ia cita-citakan dapat terwujud.

Kami berdoa agar Lilo selalu menghormati orangtua, saudara, guru, kakek dan nenek, teman, om dan tante, serta kakak. Tuhan Yesus, bimbing dia agar selalu berprestasi di sekolah dan menjadi anak yang baik. Berikan dia pemahaman atas kasih dan perdamaian. Bimbing dia agar bisa mencintai sesama seperti ia mencintai Dikau. Semoga dimanapun ia berada, bisa membawa kedamaian dan suasana persahabatan.

Ya Tuhan yang mahakuasa, Engkau telah menciptakan Castilo Gagas Panamuan menurut gambar dan citra-Mu sendiri. Terima kasih atas martabat luhur yang Kau berikan kepada dia serta kakaknya Alicia Gita Bamula, dan terima kasih bahwa kami boleh menjadi alat-Mu untuk mengasuh mereka kepada kebijaksanaan-Mu. Jagalah mereka agar semakin menyerupai Engkau, yang semakin besar semakin bertambah pula hikmat-Nya, semakin berkenan pada-Mu dan pada sesama.

Tuntunlah mereka agar tetap setia pada panggilannya selaku orang Katolik; bantulah mereka menekuni tugas mereka dengan penuh semangat dan tanggung jawab; lindungilah mereka dari segala marabahaya. Terangilah mereka dalam memilih jalan hidup yang selaras dengan kehendak-Mu.

Semoga mereka setia kepada jalan hidup yang telah mereka pilih, dan dapat menjadikan panggilannya sebagai sarana pengabdian kepada masyarakat, kepada jemaat, dan kepada-Mu sendiri. Bila mereka mengalami kesulitan, sudilah Engkau selalu mandampingi, jangan sampai mereka lemah semangat apa lagi putus asa.

Kami mohon berkat-Mu bagi anak-anak yang terpaksa berpisah dari orangtua, lalu mengikuti orangtua asuh; semoga dalam keluarga baru ini pun mereka mendapatkan kasih yang mereka perlukan. Kami berdoa pula bagi anak-anak yang karena berbagai sebab tidak memperoleh bimbingan selayaknya. Peliharalah mereka, dan bantulah kami agar dapat turut serta mendampingi mereka menyiapkan masa depan.

Terlebih lagi kami berdoa bagi anak-anak yang terlantar dan gagal. Sudilah Engkau membangkitkan kasih dalam setiap orang untuk membantu mereka membina masa depan yang penuh harapan.

Permohonan ini kami serahkan kepada kebijaksanaan-Mu, Bapa, sebab Engkaulah Bapa sekalian anak, demi Kristus, Tuhan kami.
Amin.


Pontianak, Jumat 31 Juli 2009
Doa ini dari Bapak Stefanus Akim & Mama Benedicta untuk Castilo Gagas Panamuan yang berulang tahun serta kakak Alicia Gita Bamula yang turut berbahagia.

[ read the rest of this entry » ]

Thursday, July 30, 2009 |

Melawan dengan Talenan

Sekilas judul di atas nyaris sama dengan sebuah judul buku yang ditulis Sobron Aidit dan Budi Kurniawan, “Melawan dengan Restoran”. Keduanya sama-sama bicara soal makanan.

Jika restoran tempat yang menjual makanan, maka talenan atau alas untuk memotong sayur dan daging, bagian kecil dari restoran itu. Posisinya berada di bagian belakang. Namun di restoran-restoran Tionghoa yang umumnya menyajikan makanan hangat dan bisa kita intip cara memasaknya, talenan biasanya berada di bagian depan.

Sekali lagi, Melawan dengan Restoran sangat berbeda dengan Melawan dengan Talenan. Jika yang pertama locus delicti atau tempat kejadian perkaranya di negara Presiden Nicolas Sarkozy – Italia – Sedangkan yang

Melawan dengan Restoran adalah sebuah buku yang menceritakan bagimana Sobron Aidit bersama teman-temannya antara lain Umar Said, JJ Kusni, Budiman Sudharsono, dan teman-temannya “bertahan untuk hidup” di Paris dengan membuat Restoran Indonesia pada Desember 1982.

Sobron Adit adalah adik kandung Dipa Nusantara Aidit, tokoh PKI. Sedangkan JJ Kusni adalah penulis dan penyair yang lahir di Kasongan, Kalimantan Tengah 25 September 1940. Penulis Dayak ini sering menggunakan nama pena Magusig O Bungai.

Sementara Umar Said lahir di Desa Pakis, Malang, Jawa Timur, pada 26 Oktober 1928. Pada 1950-1953 Umar Said pernah menjadi wartawan di suratkabar Indonesia Raya dan beberapa koran lain.

Dikisahkan dana untuk membuka restoran mereka peroleh dari berbagai sumber, terutama dari sejumlah pendukung di Belanda, dari Gereja Katolik, dan dari uang tunjangan yang mereka terima selama dua tahun dari pemerintah Perancis. Ada juga bantuan dari sejumlah teman orang Perancis yang bersimpati dengan nasib mereka.

Membaca buku ini kita akan melihat bahwa perlawanan tak selalu dengan kekerasan. Perlawanan tak selalu dilakukan dengan pengerahan massa, dan tak selalu dengan angkat senjata.

Terakhir, apapun yang kita baca biasanya selalu ada yang membekas. Bagi sebagian orang yang menyukai politik, pergerakan, dan perlawanan, ini semacam darah segar dan mungkin juga menjadi inspirasi untuk menyusun perlawanan terhadap rezim yang berkuasa.

Namun, bagi istriku sehari setelah membaca buku ini ia mengganti talenan, dari kayu menjadi plastik. Saat kutanya perihal perubahan itu ia berujar, “Di buku itu disebutkan, pemerintah Prancis melarang restoran menggunakan talenan kayu, harus pakai plastik. Alasannya di bahan kayu bakteri sulit dibersihkan dan bakteri mudah berkembang biak beda dengan plastik.”

[ read the rest of this entry » ]

Thursday, July 23, 2009 |