Mama Pergi Sadap Karet, Nak...



Siang itu cuaca mendung, hujan rintik-rintik mulai turun. Sejumlah warga baru saja pulang dari pemakaman. Dusun Raya Paraya, Desa Korek sedang berduka.

TATAPAN mata Imran (35) terlihat kosong saat Sujiwo SE, Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menyalami dan menyampaikan ucapan belasungkawa atas meninggalnya Isah (38), istri pria itu. Matanya berkaca-kaca, ia masih terkenang istrinya yang meninggal, setelah oplet yang ia tumpangi bertabrakan dengan truk, Selasa (2/10).

"Ini sekadar ucapan turut berbelasungkawa dari saya dan keluarga besar PDI P. Saya turut prihatin dan mohon tabah dengan cobaan ini. Ini cobaan dari Jubata, yang penting sekarang bapak berfikir bagaimana membesarkan anak-anak bapak yang masih kecil-kecil. Ibu sudah berada di samping Tuhan, " kata Sujiwo kepada Imran. Pria itu mengangguk, kemudian mengucapkan terimakasih, suaranya lirih hampir tak terdengar.

Amplop berisi Rp 1 juta itu kemudian diberikan kepada anaknya. Sujiwo yang juga calon Bupati Kubu Raya berpasangan dengan Okto, secara khusus datang menyambangi lima keluarga korban tewas untuk memberikan sumbangan berupa uang tunai.

Imran dan Isah sudah dikaruniai tiga orang anak. Anak tertua bernama Fredy, berusia 6 tahun dan kini sekolah di SD 14 Dusun Raya Praya, Desa Korek, Kecamatan Sungai Ambawang. Fredy mempunyai dua orang adik masing-masing Nawangulan dan Triana. Bahkan Triana yang berusia 3 bulan masih menyusu. "Keluarga bapak Anak bapak yang masih menyusui

Imran berkisah, istrinya berangkat ke Pontianak akan mengantar kakak iparnya, Melia mengobati mata ke Pontianak. Sepulang kerja di Malaysia, mata Melia agak kabur sehingga harus dibawa ke dokter. Dua orang anaknya, Nawangwangi dan Triana sebenarnya juga ingin ikut. Namun, Imran bilang istrinya akan pergi menyadap karet. "Mama mau menyadap karet, di rumah saja," kata Imran kepada kedua anaknya. "Mungkin kalau ikut, bisa celaka juga," katanya, kemudian menunduk.

Imran bercerita, kerabatnya juga menanyai perihal almarum ibunya kepada Fredy. Namun, si sulung sepertinya masih tak tahu banyak apa yang sedang terjadi. "Keluarga tanya ke Fredy, Mama kemana? Dia hanya menunjuk jenazah ibunya," ujar Imran.

Fredy yang dipangku dan dipeluk erat bapaknya pun tak banyak berkata. Ia hanya memperhatikan orang-orang sekelilingnya yang memperhatikan dia. Mata anak itu hanya bisa melihat bingung melihat rombongan yang datang. "Mama sudah meninggal," ujar Fredy lirih, kepada Tribun.

Siang kemarin, saat Sujiwo dan rombongan berkunjung di kediaman Imran keluarga besar dan para tetangga sedang berkumpul. Mereka baru saja selesai memakamkan Isah di pemakaman umum. Ada ritual kematian yang digelar masyarakat Dayak setempat . Suasana duka masih menggelayut di keluarga itu. Kampung di sekitar rumah pun terlihat berduka, sejumlah warga berkumpul di kediaman almarhumah sejak malam hari. Sebagian duduk di ruang utama, berusaha menghibur keluarga yang berduka. (TRIBUN PONTIANAK/Stefanus Akim)

Thursday, September 4, 2008 |

4 komentar:

nie said...

segala sesuatu di dunia ini emang engga bisa diperkirakan ya. Tuhan memang Maha Kuasa dan Maha Mengatur. yang terbaik buat kita, tentunya :)

Partisimon said...

Turut berdukacita, dan semoga keluarga yang di tinggalkan mendapatkan ketabahan dan penghiburan surgawi.

Namun, ada suatu pengharapan bahwa kita yang ditinggalkan akan bersatu kembali bersama keluarga yang kita kasihi dalam Kerajaan Sorga yang mulia, bersama Bapa yang kekal, Raja Damai.

Salam

Partisimon

Ini wartawan poenja blog. said...

Ikut berduka cita pada korban tabrakan itu. Cerita meninggalnya si ibu dengan anak yang masih kecil2 menyedihkan ya..... Tapi beritanya jadi 'berbau' promosi nih Kim, setelah ada calon peserta pilkada yang muncul di situ........he he he he he....................................

akim said...

Ia neh mbak Arie, belakangan aku juga melihatnya kayak gitu. Promosi abies...

Mungkin cara penyajiannya aja yg terlalu banyak dan dibagian depan lagi. Coba aku buat di bagian bawah saja....

TQ atas kritiknya...