Menulis Karena Suka

Stefanus Akim
Borneo Tribune, Pontianak


Banyak alasan mengapa orang menulis. Mulai dari iseng, menyalurkan hobby hingga mencari nafkah. Bagi Eko Sugiarto, dirinya menulis karena suka. Tak ada alasan lain, dari tangannya kini sudah terbit banyak artikel dan buku.
”Kalau ditanya mengapa saya menulis, jawaban saya cukup singkat. Suka. Sekali lagi, suka. Ya, saya menulis karena suka. Itu saja,” kata Eko di blognya, http://www.ugieyogyakarta.blogspot.com.

Perkenalan saya dengan Eko secara tak sengaja saat blogwalking dan mencari buku-buku baru di internet. Saya kemudian tertarik dengan sejumlah buku yang sudah dihasilkannya. Meskipun karya tersebut terkesan sederhana, namun banyak informasi yang bisa didapatkan. Termasuk hal-hal praktis.

Perkenalan itu berlanjut dengan saling komentar di blog masing-masing, email, hingga SMS. Terakhir lima buah buku karyanya dikirim kepada saya. Masing-masing: Cari Kerja Lewat Internet, Mengenal Pantun dan Puisi Lama, Interupsi – Saat Rakyat Menggugat (kumpulan cerpen), Melayu di Mata Soeman HS dan Panduan Menulis Skripsi.

Kesan saya pada karya-karya Eko Sugiarto, bahwa karya-karya nya – terutama non fiksi - sederhana dan kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun demikian, hal ’kecil’ itu justru sangat dibutuhkan. Atau barangkali penulis lain menganggap hal tersebut tak layak ditulis atau gengsi menulisnya. Di situ lah Eko menunjukkan kesedarhanaan dan kerendahan hatinya lewat tulisan.

Di blognya, Eko menulis kesukaannya menulis baru tumbuh saat ia duduk di bangku SMA. Ketika itu ia masih kelas dua. Sebuah tulisan berupa puisi menghiasi sebuah media siswa lokal. Lantas tak lama kemudian sebuah puisi muncul di majalah komunitas yang beredar secara nasional, juga sebuah pantun muncul di surat kabar mingguan yang terbit di Yogyakarta. Eko mengaku, ketika itu, semangat menulisnya benar-benar membara hingga ia berpikir bahwa seandainya di sekolah ada kelas jurusan bahasa, ia pasti masuk jurusan bahasa. Namun sayang, sekolahnya tak membuka jurusan bahasa. Ia mesti memilih antara jurusan IPA dan IPS karena hanya dua jurusan itulah yang dibuka di sekolah saya.

Lulus SMA ia mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru (UMPTN). Jurusan yang diambilnya adalah Sastra Indonesia, baik untuk pilihan pertama maupun pilihan kedua (di dua universitas berbeda). Ia diterima di pilihan pertama, yaitu di Jurusan Sastra Indonesia di UGM Yogyakarta. Ia kemudian lulus dengan predikat cum laude.

Di kampus itulah ia kian rajin belajar menulis. Namun, ia mengaku kecewa karena ternyata di kampus itu ia hanya mendapat teori tentang menulis. Soal praktik menulis, harus dilakukannya sendiri. Oa pun kian giat membaca buku-buku teori menulis dan kian giat berlatih menulis. Beberapa tulisan dimuat di media lokal di Yogyakarta.

Pada akhir Februari lalu, saya iseng-iseng mengunjungi blog Eko. Ternyata buku Mencari Kerja Lewat Internet kembali cetak ulang. Buku tersebut terbit kali pertama September 2007, dalam usianya yang baru enam bulan telah cetak ulang, kali ini sebanyak 5.000 eksemplar. Saya mengucapkan selamat di chatbox blognya. Kini, hobby dan keyakinan yang ditekuni Eko Sugiarto telah mendatangkan berkah bagi dirinya. Satu hal yang tak bisa dinilai dengan materi, setiap kata yang ia rangkai menjadi kalimat yang menjadikan dirinya merasa ’suka’.

”Anda semua telah diberi dua anugerah luar biasa: pikiran Anda dan waktu Anda. Terserah kepada Anda untuk melakukan apa yang Anda senangi dengan keduanya.... Anda dan masa depan anak-anak Anda akan ditentukan oleh pilihan yang Anda buat sekarang, bukan besok,” Eko Sugiarti menjadikan kalimat, Robert T Kiyosaki, sebagai ‘bahan bakar’ agar ia terus menulis.■

[ read the rest of this entry » ]

Saturday, March 8, 2008 |

Harmoni yang Terkoyak


Salah satu tempat dupa yang hancur diamuk massa. Foto: Lukas B Wijanarko.

Jalan Gajah Mada, Pontianak, Kamis 6 Desember 2007. Amarah massa memuncak, lemparan batu memecahkan kaca-kaca rumah dan mobil. Sebuah kelenteng juga menjadi amuk massa. Mobil, dupa dan barang-barang yang ada di dalam kelenteng porak-poranda. Pontianak tegang, aparat keamanan bersiaga. Dua hari kemudian keadaan berangsur kondusif, tak ada lagi kerumunan massa.

Kericuhan ini dipicu perkelahian antara dua orang di Gang 17 Jala Tanjungpura. Mereka adalah Iksan dan Syarif Mustafa Ibrahim. Gang 17 sendiri tembus dengan Jalan Gajah Mada, sebuah kawasan “pecinan” di Pontianak. Kawasan ini menjadi pusat bisnis dan perdagangan sejak dahulu hingga sekarang. Secara kebetulan Iksan orang Tionghoa, sementara Syarif Mustafa Ibrahim orang Melayu, tepatnya keturunan Arab yang sudah berasimilasi menjadi Melayu.

Akibat kericuhan ini, belasan rumah dan toko (ruko) serta mobil di sepanjang Jalan Kedah, Jalan Ketapang dan Jalan Tanjungpura, serta Gang 17 rusak akibat lemparan batu.

Sebelumnya terjadi perkelahian sekitar pukul 19.00 WIB. Perkelahian dipicu mobil jenis BMW yang diparkir tergores, sehingga membuat pemiliknya, Iksan, mencari tahu sebabnya. Ia mondar-mandir bertanya ke sana ke mari, tidak juga ada jawaban.

Secara kebetulan Iksan berpapasan dengan Syarif yang keluarganya sedang ramai tahlilan hari ke-25 wafatnya anggota keluarga. Iksan pun bertanya lagi. “Saya tak tahu,” ujar Syarif.

Jalan di Gg 17 sempit. Tak lebih dari 2 meter lebarnya. Timbul percekcokan antara Iksan dengan Syarif yang berbuntut perkelahian. Hidung Syarif luka oleh pukulan tangan kosong Iksan. Menurut Syarif, ia dipukul dengan rantai yang dililit di kepalan tangannya.


Kerumunan massa di Gg. 17 Jalan Gajahmada, Pontianak. Foto: Lukas B Wijanarko

Awalnya, perkelahian berhasil dilerai warga. Selang beberapa waktu, tiba-tiba sekelompok massa mendatangi rumah 122 A Gang 17 padahal rumah tersebut sudah dijaga puluhan personel aparat. Kerumunan massa disebabkan informasi yang simpang siur. Massa nekat memasuki rumah, tetapi dihadang petugas kepolisian. Sempat massa bersitegang dengan petugas. Terjadi pelemparan batu oleh beberapa warga yang mengenai atap rumah.

Petugas kemudian berhasil mengevakuasi penghuni rumah menggunakan truk dari satuan Brimob. Ketika penjagaan agak longgar, massa berhasil memasuki rumah. Kaca-kaca pun rontok. Tak lama aparat yang bertambah banyak menghalau massa ke luar gang.

Kerumunan massa bertambah besar. Datang dari berbagai penjuru Kota Pontianak. Saat itu pelaku perkelahian yang sebelumnya berada di Polsekta Pontianak Selatan sudah dipindahkan ke Poltabes Pontianak setelah melalukan visum di RS Bhayangkara Polisi daerah Kalbar.

Namun lantaran masih tetap ingin mencari pelaku pemukulan atas Syarif, sekelompok massa mendatangi Polsekta Pontianak Selatan untuk melihat langsung pelaku pemukulan.

Sementara itu meski dijaga ketat aparat kemanan, massa tetap memaksa masuk ke dalam rumah.”Hancurkan jak!” Terdengar teriakan lantang dari kerumunan massa. Dibalas sahut-menyahut.

Amarah massa tidak terbendung. Kaca rumah dipukul, semua barang yang ada tidak luput dari pukulan. Mobil yang berada dalam rumah juga menjadi korban.

Tidak puas, sebagian dari massa terlihat naik ke lantai dua. Eksekusi itu mulai sekitar pukul 23.40. Tepat pukul 00.00 aksi penghancuran rumah yang dilakukan puluhan massa reda. Sementara massa yang lain hanya menonton.

Wakapoltabes, AKBP Andi Musa, SH turun dalam kerumunan. Ia menghimbau Brimob yang sejak awal melakukan penjagaan untuk mengarahkan massa ke luar. ”Rekan Brimob, tolong rekanrekan semua dihimbau meninggalkan lokasi,” katanya. Sekitar pukul 00.10, kerumunan massa di rumah 122 A mulai berkurang. Hanya tinggal aparat berjaga-jaga.

Meskipun sempat ramai, namun sebagian besar kawasan di Pontianak justru aman dan biasa-biasa saja. Rumah Makan Melda buka hingga pagi. Laris-manis seperti biasa. Jaraknya hanya sekitar 6 blok ruko dari tempat kejadian perkara (TKP). Begitupun warung pecel lele Lamongan di depan Gang 17. Tetap buka seperti biasa. Pasar Flamboyan yang lokasinya hanya ratusan meter dari TKP juga aman. Kota Pontianak kembali normal walaupun Poltabes menetapkan siaga satu sejak Jumat (7/12/2007).

PROVOKASI
Jumat, sekitar pukul 21.00. Ratusan warga kembali memenuhi Jalan Gajah Mada. Tepatnya di depan Cafe Tapaz. Terdengar tembakan ke udara dari petugas. Segera terjadi kemacetan pada arus lalu lintas di ruas pecinan terbesar Kota Pontianak.


Kerumunan massa di Jalan Gajahmada, Pontianak

Beberapa pengendara terpaksa balik kanan akibat jalan sudah terhalang massa. Dari beberapa informasi yang berkembang, awalnya terjadi perkelahian kecil antar oknum pemuda di salah satu warung kopi, tetapi belum jelas pemicunya.

Petugas mengamankan satu orang yang diduga sebagai tersangka. Tiba-tiba sebuah sepeda motor dengan dua pengendara melintas sambil berteriak. Aksi ini segera diceagh dan keduaduanya diciduk petugas.

Melihat kerumunan massa yang makin ramai, Kapolda Kalbar Brigjen Drs Zainal Abidin Ishak, turun ke lokasi. Disusul Walikota Pontianak, dr H Buchary A Rachman. Kondisi berangsur normal. Pukul 23.00 lalu lintas benar-benar kembali normal.

Safrudin, Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kota Pontianak yang berada di TKP, mengaku tak tahu siapa oknum yang diduga berkelahi. ”Kejadian ini hanya kriminalitas murni. Serahkan sepenuhnya kepada polisi,” himbaunya. Menurutnya, mungkin ada sebagian masyarakat belum tahu hasil keputusan dari pertemuan di siang harinya.

Pukul 13.00 di Mapoltabes, terjadi kesepakatan damai dari kedua tokoh masyarakat, baik Tionghoa maupun tokoh masyarakat Melayu di Ruang Balai Kemitraan Mapoltabes.

SAMPAIKAN PERMOHONAN MAAF
Perwakilan Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT), Sutadi SH, menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada warga Kota Pontianak. MABT sangat menyesalkan terjadinya perkelahian dari kesalahpahaman oknum warganya sehingga korban dirawat di rumah sakit.


Sebuah mobil dan vihara Panca Dharma Sradha yang juga diamuk massa. Foto: Lukas B Wijanarko.

Pihaknya mempercayakan pada kepolisian untuk menyelesaikannya konflik secara hukum. Sutadi menambahkan, perlunya kerja sama antar etnis. Ia berharap, pertemuan itu tak sampai di permohonan maaf saja, tapi harus ada kelanjutannya dalam bentuk kerja sama yang saling tolong-menolong dan harga-menghargai.

Sementara Ateng Sanjaya, warga Tionghoa yang dua puluh tahun berpofesi menjadi pemadam kebakaran mengatakan, selama ini warganya selalu menjaga kesatuan dan kesatuan. Ia berprinsip di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Perwakilan Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Syafarudin mengatakan, kejadian kriminal seperti Gang 17 jangan sampai terulang. “Pertikaian kemarin malam hendaknya menjadi hikmah kepada kita semua, sehingga kita bisa duduk bersama tanpa melihat dari suku dan bahasa apa,” ungkapnya. Insiden itu, menurutnya, disebabkan kurangnya komunikasi kedua belah pihak.

Dialog para tokoh difasilitasi Mapoltabes Pontianak yang dipimpin langsung Wakapoltabes, Andi Musa, SH dengan mengundang tokoh masyarakat, diantaranya MABT, MABM, Yayasan Bhakti Suci, tokoh agama dan perwakilan warga. Acara ditutup dengan doa, foto bersama yang menampilkan tokoh masyarakat bergandengan tangan.

PONTIANAK KONDUSIF
Sabtu (8/12/2007), Kota Pontianak berangsur-angsur mulai kondusif. Sebelumnya kota sempat mencekam karena simpang siurnya pemberitaan yang beredar di tengah masyarakat.

Sepanjang jalur Jalan Gajahmada dan Tanjungpura kondisi perdagangan berjalan normal. Hanya rumah tersangka di Gang 17 masih dalam pengawalan kepolisian meskipun tak seketat hari petama. Konsentrasi massa juga tak ada lagi karena polisi membubarkan mereka. Masyarakat melakukan aktivitas seperti biasa seakan tak terpengaruh keadaan sebelumnya. Ruko-ruko yang sehari sebelumnya tutup, mulai buka kembali.

Pada Minggu (9/12/2007) Kota Pontianak benar-benar aman. Mayarakat sudah beraktivitas seperti biasanya. Tak tampak lagi toko yang tutup atau yang dijaga ketat. Di pasar tradisional harga barang tetap normal. Tidak terjadi lonjakan seperti yang ditakuti masyarakat.
...
Pertikaian ini tentu saja membuat banyak orang khawatir.
Betapa tidak? Belum juga hilang diingatan kita peristiwa Sanggau
Ledo dan Sambas sepanjang tahun 1999 hingga 2000, kini
kemungkinan rusuh massal itu kembali terjadi. Kalimantan
Barat selama ini sudah dicap daerah rawan konflik. Ada yang
mencatat kerusuhan etnis itu terjadi sejak jaman penjajahan
Belanda. Paling tidak yang bisa dicatat, kerusuhan itu tejadi
sejak 32 tahun lalu. (Stefanus Akim)

*Edisi Cetak Dimuat Majalah Suara Baru, Jakarta Edisi Januari-Pebruari 2008

[ read the rest of this entry » ]

Tuesday, March 4, 2008 |

Menunggu Motor Pepet Tiba

Oleh: Stefanus Akim


MOTOR PEPET
Para pelajar dari Kampung Mungguk, Kecamatan Ngabang menggunakan motor pepet sejenis motor klotok untuk pergi sekolah. Setiap siswa patungan Rp60 ribu sebulan untuk ongkos membeli solar. FOTO: AA. Mering.
___________________________________________________


Matahari sudah condong ke barat. Hawa panasnya masih membakar kulit. Tiga siswi berseragam baju putih dan rok biru bercengkerama sambil duduk di pangkalan Matalaya, Desa Raja, Ngabang. Masing-masing memegang buku tulis yang dikibas-kibaskan ke arah tubuh untuk dijadikan kipas. Udara panas. Titik-titik peluh yang keluar dari pori-pori menyatu mengalir membasahi wajah-wajah sawo matang hampir kehitam-hitaman itu.

Pangkalan Matalaya, hanya terdiri dari dua tonggak balok belian yang menancap miring di dasar sungai. Ia dihubungkan dengan kayu serupa yang melintang.

”Kami menunggu motor pepet, mau pulang ke rumah di Kampung Mungguk,” kata Sumiati, salah seorang dari ketiga siswi itu.
Kedua temannya, Yana dan Yani, mengangguk malu-malu.

Perkenalan saya dengan ketiganya terjadi tak sengaja. Saat mengunjungi Kampung Raja, saya melihat mereka duduk di sisi sungai. Saya berpikir mereka anak sekolah yang bolos, ternyata sedang menunggu jemputan untuk pulang ke rumah.

Sumiati, Yana dan Yani bersekolah di tempat yang sama, SMP Negeri 2 Ngabang. Usia satu dengan yang lain tak terpaut jauh, antara 13 hingga 14 tahun. Dari Pangkalan Matalaya dibutuhkan waktu satu jam lagi berjalan kaki untuk tiba di sekolah tersebut.

Usai jam sekolah sekitar pukul 12.00, mereka kembali ke Pangkalan Matalaya. Selama 1 jam berjalan di tengah panasnya terik matahari, barulah bisa mengaso di Pangkalan Matalaya. Tiba di Matalaya, masih dibutuhkan waktu sekitar 1 jam lagi barulah motor pepet tiba. Motor pepet sebutan untuk motor klotok. Pukul 14.00 mereka beranjak pulang ke kampung.

”Kami sampai di rumah biasanya jam 3 (pukul 15.00) sore,” timpal Yana.

Hari ini jemputan agak lama. Sebab, Dede yang menjadi juru mudi sekaligus siswa kelas 2 Aliyah pulangnya agak lambat. Usai jam sekolah ia menyinggahi teman-temannya yang sudah menunggu di pangkalan.

Untuk mengganti ongkos membeli minyak solar, setiap siswa dikenakan biaya Rp60 ribu sebulan. Ada sekitar 20 siswa/siswi yang menggunakan motor pepet milik Dede. Uang tersebut biasanya disetor awal bulan, namun jika terlambat sampai akhir bulanpun Dede mafhum, sebab tujuannya saling membantu agar bisa sama-sama mengenyam pendidikan.

Dari Kampung Mungguk ada tiga buah motor pepet yang mengangkut siswa-siswi. Juru mudi umumnya sekalian sekolah. Jika sakit barulah digantikan oleh orang lain. Bisa ayah, paman atau saudara.

Jarak antara Ngabang dan Kampung Mungguk tempat para siswa itu berasal sekitar 9 kilometer jika ditarik lurus. Jarang ada yang menggunakan jalan darat. Selain jauh juga penuh lubang. Aspalnya sudah mengelupas.

”Jalan darat jahat. Banyak lobang,” tutur Yana, saat kutanya mengapa tak menggunakan jalan darat. Arti ucapannya, jalannya jelek banyak lubang menganga.

Tak ada oplet atau kendaraan umum angkutan pedesaan menuju desa di hulu Sungai Landak itu. Jalannya rusak dan untuk menyeberangi anak sungai yang lebarnya 15 meter menggunakan jembatan gantung.

Tak hanya pulang sekolah yang butuh perjuangan, berangkat sekolahpun juga sama. Mereka harus bangun pukul 04.30. Mandi, menyiapkan buku, dan menunggu motor pepet. Pukul 05.00 motor pepet berangkat, jika terlambat terpaksa ditinggalkan. Sebab harus tiba pukul 06.00 dan mengejar masuk sekolah pukul 07.00 tepat.

”Sering terlambat,” tanyaku.
”Jarang. Tapi kalau terlambat dihukum. Biasanya bersih-bersih kelas, WC atau ruang guru,” papar Yani.

“Di kampung kami tak ada SMP, hanya SD jak,” sambung Sumiati.

Desa Mungguk masuk dalam Kecamatan Ngabang, berbatasan langsung dengan ibu kota kabupaten. Di desa itu ada sekitar 200 kepala keluarga. Penduduknya umumnya bekerja sebagai petani karet dan menanam padi.

***

Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Barat, Ngatman mengatakan, tahun 2008 ini Dana Alokasi Umum (DAK) Pendidikan bisa mencapai Rp507 miliar. Jumlah itu meningkat tiga kali lipat dari tahun 2007, yang sebesar Rp169 miliar. Tahun 2007 tiap kabupaten/kota di Kalbar memperoleh DAK bidang pendidikan berkisar antara Rp13-16 miliar.

Dana itu untuk memperbaiki sekolah yang rusak. Disalurkan langsung ke kabupaten/kota. Sementara peringkat kelulusan tingkat SMP masih di posisi 23 dari 33 provinsi tahun 2006 dan tingkat kelulusan SMA hasil UAN 2006 pada level 17 nasional. termasuk angka buta huruf yang masih tergolong tinggi.

Anggota DPRD Kalbar, Katarina Lies meminta agar dana tersebut benar-benar dimanfaatkan secara optimal. Ia minta agar daerah pedalaman yang jarak sekolah dengan pemukiman jauh menjadi perhatian utama. Apa lagi anak-anak sekolah harus berjalan satu hingga dua jam untuk tiba di sekolahnya.

****

Matahari makin condong ke barat. Di hilir terdengar pekikan motor pepet. Ketiganya bergegas, berdiri dan menengok ke arah Sungai Landak yang airnya cokelat karena aktivitas PETI dan perkebunan sawit.

Motor Pepet itu terus melaju dan meninggalkan suara yang memekakkan telinga. Gelombang yang ditimbulkannya menggoyang-goyangkan sampan yang ditambat di tepi sungai. Beberapa di antara sampan itu terangkat di delta yang rendah. Yang lain membentur tebing tanah atau tiang gertak kayu.

”Hoi...hoi..hoi...,” teriak para siswa laki-laki di motor pepet itu. Mereka melambaikan tangan dengan akrab ke arah kami.

Ketiganya kembali duduk. Ternyata itu bukan motor yang mereka tunggu-tunggu sejak satu jam lalu. Perut yang keroncongan memaksa mereka harus segera kembali ke rumah.

Sepuluh menit kemudian terdengar lagi motor pepet. Suaranya kencang dan memekakkan telinga. Sejurus kemudian mendekat. Suaranya turun naik. Kadang tinggi dan kadang rendah. Seorang siswa laki-laki memegang seutas tali nilon penambat, seorang lagi memegang kemudi, yang lain duduk tak acuh. Sejurus si pemegang tali nilon melompat di atas gertak.

”Bang kami jalan dulu,” Sumiati berguman ditujukan kepada saya.

Bersama kedua temannya ia naik ke atas motor pepet yang akan mengantarkannya pulang ke rumah.

Motor pepet itu berlalu. Ia meninggalkan suara yang memekakkan telinga, gelombang, serta asap hitam pekat keluar dari kenalpotnya. Esok hari rutinitas itu akan terulang kembali.■

[ read the rest of this entry » ]

Monday, February 11, 2008 |

Touring di Wilayah Timur



Libur satu hari, bertepatan dengan hari raya Imlek, Kamis (7/2) saya manfaatkan untuk jalan-jalan ke wilayah timur Kalimantan Barat. Menggunakan mobil Daihatsu Xenia, kami delapan orang: Nur Iskandar, AA. Mering, Tanto Yakobus, Ukan Tarmidzi alias Bang Fakun, Lazarus, Yohanes Supriyadi alias Lancui serta Bang Rustam, start dari Pontianak sekitar pukul 06.00 pagi.

Bertolak dari Borneo Tribune di Jalan Purnama No 02 , kendaraan yang dikemudian Nuris terus melaju menuju Pontianak Utara. Matahari masih malu-malu menampakkan wujudnya. Embun masih tebal menyelimuti jalan raya. Namun Nuris melaju dengan lincah di antara kendaraan pribadi dan umum yang melintas.

Kurang lebih satu jam, kami tiba di Pinyuh. Pinyuh adalah sebuah kota kecamatan kecil di Kabupaten Pontianak. Lokasinya strategis dan orang biasanya menggelarinya segitiga emas, sebab menjadi tempat persinggahan kendaraan dari arah timur (Ngabang, Sanggau, Sekadau, Sintang, Melawi dan seterusnya) serta dari arah utara (Singkawang, Sambas dan Bengkayang). Serta sebaliknya dari arah Pontianak menuju kawasan utara atau timur.

Meskipun kecil, namun kota ini hidup hingga tengah malam. Warung kopi, warung nasi masih ramai hingga tengah malam. Kondisinya kontras dengan Mempawah – ibu kota Kabupaten Pontianak – yang berjarak sekitar 11 km dari Pinyuh. Pukul 09 malam, Mempawah sudah sepi. Namun keunggulannya kota ini lebih bersih, asri dan tertata. Mungkin karena kota ini adalah pusat pemerintahan.


Pinyuh memiliki ciri khas sebagai kawasan Pecinan. Bangunan di sepanjang jalan merupakan rumah toko (ruko). Di bagian bawah biasanya dijadikan tempat usaha untuk berjualan. Mulai dari sembako, kelontong, pakaian, bengkel, rumah makan, warung kopi, swalayan dan semacamnya. Bagian atas untuk tempat tinggal. Di pinyuh juga dengan mudah kita menemui Kelenteng dan tempat praktik Lauya atau Laoya. Lauya adalah sebutan untuk dukun Tionghoa.

Berbagai makanan ringan yang sebagian besar berbahan dasar makanan laut mudah ditemui di Pinyuh. Umumnya didatangkan dari desa sebelah. Sungai Purun, Semudun, Benteng – kampung nelayan di Mempawah – Sungai Kunyit, bahkan dari Singkawang adalah penyuplai makanan-makanan itu. Makanan ringan berupa ikan asin yang dikemas dalam kotak plastik, ebi, telur puyuh, terasi, telur penyu, kerupuk, serta berbagai macam penganan lainnya.



Ebi ukuran besar dijual Rp45 ribu, sedang Rp30 ribu dan kecil Rp25 ribu. Ikan teri kualitas bagus untuk ukuran bungkus kecil dijual Rp15 ribu, sedang Rp25 ribu dan besar Rp35 ribu. Sementara sotong kering yang bisanya digunakan untuk bahan utama sotong pangkong untuk ukuran besar dijual Rp80 ribu. Sedang Rp45 ribu dan kecil Rp25 ribu.

Usaha paling banyak digeluti di Sungai Pinyuh adalah warung kopi, warung nasi dan bengkel. Mungkin karena menjadi tempat singgah kendaraan umum dan kendaraan pribadi maka usaha-usaha jenis ini paling laku.

Bagi penikmat Chinese Food, Pinyuh juga menjadi surganya. Ada beberapa warung yang menyediakan nasi merah, nasi cap cai, bakmie, mie tiaw, kwee cap, serta yang lainnya.

Usai beristirahat sambil menikmati kopi panas, telur setengah matang dan telur penyu kami melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya di Ngabang, ibu kota Kabupaten Landak.



Ngabang sebenarnya juga tempat transit kendaraan darat baik yang berasal dari Pontianak maupun sebaliknya dari kawasan timur. Kota kecil ini juga menjadi tempat menjual barang dari desa sekitar, sebaliknya Ngabang menyediakan kebutuhan masyarakat sekitar. Sejumlah sekolah mulai dari TK hingga SMA dan SMA ada di sini. Para pejabat pemerintah, LSM, dan tokoh masyarakat membuat STKIP di bawah naungan Yayasan Pamane Binua. Direncanakan tahun 2008 sudah bisa menerima mahasiswa. Salah satu yang melatarbelakangi pendirian kampus ini karena Landak kekurangan tenaga guru sebanyak 13 ribu orang. Di sisi lain perguruan tingi di Pontianak tak mampu menyediakan kebutuhan itu ditambah jurusan yang diperlukan juga tidk ada.



Ngabang terus memacu diri untuk sejajar dengan kota-kota lain di Kalimantan Barat. Dulunya Ngabang hanyalah sebuah kota kecamatan, namun seiring pemekaran Kabupaten Pontianak menjadi Kabupaten Landak dan kabupaten induk perkembangannya sedemikan cepat. Tentu saja dengan beberapa ekses negatif yang tak dapat dihindari.

Di Ngabang, juga menyempatkan diri singgah di Kampung Raja. Dinamakan demikian karena kampung ini dulunya adalah pusat kerajaan Landak. Sisa kerajaan ini masih terlihat dengan berdirinya Istana Ismahayana serta rumah-rumah tua milik para petinggi kerajaan zaman dahulu. Sebelumnya kami bertemu dengan Bupati, Adrianus Asia Sidot.
Perjalanan dilanjutkan di Kota Sanggau. Kota Sanggau yang meupakan ibu kota Kabupaten Sanggau cukup besar dan padat. Mungkin jika dibandingkan dengan Singkawang jauh lebih besar. Sejumlah bank BUMN dan swasta, salah satunya Danamon membuka cabang di kota ini. Hotel dan penginapan juga cukup banyak dari yang kelas biasa, melati, hingga yang cukup berkelas. Begitu pun cafe serta tempat makan lainnya.



Kawasan pemukiman dan tempat wisata yang cukup menarik berada di Sanggau Permai. Orang di sana menyebutnya Bogor. Lokasinya yang berada di atas bukit, jalan berkelok-kelok, udara segar dan dingin, pemandangan indah serta sejuk lah yang menginspirasikan orang menyebutnya dengan nama itu. Di sana juga ada beberapa villa dan tempat pemancingan. Sanggau Permai dirancang oleh mantan Bupati Sanggau Kol (Pur) H. Baisuni saat ia memerintah di sana.



Malam harinya setelah menikmati perayaan Imlek dan makan malam kami menginap di Villa Yerusalem. Villa ini milik salah satu pengusaha Tionghoa yang akrab dipanggil Akim. Berada di sebuah bukit dan terpencil dari pemukiman menjadikannya tempat yang sangat enak untuk beristirahat.

Dari villa ini pada malam hari kita bisa melihat lampu-lampu di Kota Sanggau. Pagi hari kita disambut hangatnya mentari yang berlawanan dengan dinginnya udara serta kabut tipis. Sejauh mata memandang yang ada hanya hamparan hijau tumbuhan. Tak ada kebisingan. Villa ini bertingkat tiga dengan cukup banyak kamar, tempat tidur, sound system, peralatan masak, listrik dan air. Sayang, kami buru-buru harus bertemu Bupati Sanggau, Yansen Akun Effendi sehingga kami pagi-pagi harus meninggalkan villa.



Menjelang siang, kami kembali ke Pontianak. Tubuh sudah capek dan mata ngantuk. Tinggal pak Nuris yang masih semangat. Sejak berangkat ia mengendarai mobil tak digantikan. Dalam perjalanan kami singgah di Gunung Seha, Pahauman. Membeli rebung, tengkuyung (sejenis siput sungai) dan Nuris membeli Katoro atau Ambin yang digunakan masyarakat Dayak untuk membawa barang. Tempat singgah terakhir sebelum tiba di Pontianak di warung Pengkang. Tiba di Pontianak sekitar 19.00 dan langsung kejar deadline.

*Keterangan Foto:
(1) Rauji, seoarang penjual rebung di Gunung Seha Pahauman, Kabupaten Landak.
(2) Memilih Ebi
(3) Terasi yang Dibungkus Daun Nipah
(4) Menikmati Sungai Landak di Pangkalan Matalaya, Kampung Raja
(5) Telur Penyu
(6) Pemandangan Sanggau di Villa Yerusalem
(7) Siap-siap Melanjutkan Perjalanan
(8) Pengamen di Sungai Pinyuh
(9) Sujan, Salah seorang Penjual Tengkuyung di Gunung Seha, Pahauman
(10) Ayo Semangat di Villa Yerusalem
(11) Mejeng dengan Latar Belakang Villa Yerusalem.

**Foto: AA. Mering


[ read the rest of this entry » ]

Saturday, February 9, 2008 |

Dosen, Menulislah Sekarang Juga!

Oleh: Stefanus Akim

Judul Buku: How to Write: Your Own Text Book
Penulis : R. Masri Sareb Putra
Penerbit : Kolbu
Cetakan pertama : Juli 2007
Halaman : xvi + 192; 13,0 x 19,0 cm
_________________________________

Dosen menulis buku? Mengapa tidak bahkan sudah menjadi keharusan. Di Indonesia mungkin belum lumrah jika tenaga edukatif membuat buku ajar. Di negara-negara barat kondisinya terbalik. Justru dosen yang tidak menulis kemampuannya dipertanyakan.

“Para dosen, menulislah sekarang juga!” si pengarang – R. Masri Sareb Putra – mengawali tulisannya dengan judul yang sangat provokatif. Kata-kata itu seakan menusuk langsung di sanubari. Ia ingin membangkitkan semangat rekan-rekannya sesama dosen untuk mulai membuat buku ajar. Masri meyakini buku adalah salah satu sarana pendidikan yang sangat ampuh. Dalam kaitannya dengan proses belajar-mengajar di pendidikan tinggi, dan agar belajar-mengajar mencapai sasaran yang diinginkan, para dosen dituntut untuk sanggup menuangkan gagasan dan bahan pengajarannya ke dalam tulisan.

Lewat buku ini, pengarang yang juga dosen full time di Fakultas Komunikasi, Universitas Multimedia Nusantara, Jakarta serta di jurusan Hubungan Masyarakat di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia Esa Unggul, ingin berbagi pengalaman dengan rekan-rekannya.

Menurut Masri, untuk memulai menulis yang terpenting adalah jangan ada rasa takut dan enggan. Waktu dan kesibukan jangan dijadikan kambing hitam untuk tidak mulai menulis.

Di bagi dalam empat bagian (bab) besar, buku ini mengulas sangat lengkap tentang kepenulisan buku ajar. Ini dimaklumi sebab teknik yang ada dalam buku ini sudah diujicobakan pada ratusan dosen di berbagai perguruan tinggi. Termasuklah kepada para peserta workshop penulisan buku ajar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Universitas Pelita Harapan, Universitas Mercu Buana, Universitas
Tarumaanegara, Universitas Al Azhar Indonesia, Akademi Sekretaris Tarakanita Kalimalang dan dosen Universitas Esa Unggul.

Masri sudah menulis 37 buah buku, artikel dan feature. Sejak tahun 1984, pria kelahiran Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat ini sudah menghasilkan 2.809 judul artikel. Sebuah karya luar biasa dan membuktikan dirinya penulis yang sangat produktif.

***

Buku ini juga memaparkan cerahnya pasar buku ajar di perguruan tinggi, motivasi, manfaat dan hambatan menulis, bagaimana membuat buku ajar yang powerful, serta membangun hubungan yang baik antara penerbit dan penulis.

Pengalamannya sebagai mantan Promotion Manager PT. Grasindo (1994-1996) dan Managing Editor PT. Indeks (2005-2006) sangat mempengaruhi bab empat tentang hubungan penulis dan penerbit (hal 131 dan seterusnya). Penulis seperti menceritakan sendiri bagaimana dinamika di ruang redaksi, teknik atau kiat agar karya penulis dilirik divisi redaksi dan selanjutnya bagian pemasaran setuju mencetak buku tersebut.

Dua bab pertama, penulis banyak memotivasi dosen-dosen calon penulis buku ajar agar mulai berkarya. Diawali gambaran prospek buku ajar, ragam buku untuk perguruan tinggi. Kemudian motivasi, manfaat dan hambatan menulis. Selanjutnya juga dibahas hal-hal teknis penulisan dan informasi-informasi bermanfaat lainnya. Termasuklah bagaimana gambaran materi yang bisa diraih para penulis.

Secara umum meskipun halamannya tidak terlalu tebal, namun buku yang ditulis penulis yang menyebut dirinya “baru” menulis 32 buku ini enak dibaca. Struktur penulisan khas model bahan ilmiah untuk kalangan kampus, namun bahasanya renyah untuk dikunyah. Bagi penulis yang sudah mahir buku ini tak terkesan menggurui, bagi yang pemula ia tetap santun.

Verba Volant, scripta manen – apa yang diucapkan akan berlalu, tapi yang ditulis abadi selamanya.*

*Edisi Cetak Borneo Tribune 3 Februari 2007

[ read the rest of this entry » ]

Saturday, February 2, 2008 |

Masa Depan Pontianak di Tangan Blogger


Blogger Kota Hantu
Para blogger "Kota Hantu" berfoto bersama di depan Plasa Telkom. Foto: AA. Mering.

KEMARIN malam, saya, Mering dan Yaser memutuskan bertemu dengan teman-teman blogger Pontianak di Cafe Telkom. Ada 13 orang yang hadir. Di antaranya bang Rizko, Yudi, Deni Chemod, Reza, Fifi, Angga, Cangak, Rovich, Zuhri, Fadli, Hernawan dan lainnya.

Sebelumnya kami tak saling kenal. Kenal paling-paling hanya lewat dunia virtual – blog – masing-masing saling ngintip. Pembicaraan mengalir deras. Tanpa sekat. Seakan kami semua sudah kenal satu sama lain sejak lama.

Teman-teman blogger yang ngumpul kali ini profesinya beragam. Ada dosen, wartawan, seniman, operator, arsitek dan sebagainya. Komunitanya pun beda-beda. Ada anggota komunitas Speedy Club, Blogger Pontianak dan Gamers.

Di jalan hujan turun rintik-rintik. Kami mengaso di tenda luar Cafe Telkom. Yang namanya tenda, bagian atasnya pastilah terbuat dari terpal. Namun tenda yang ini lain. Cukup cantik, ada tulisan telkom dengan logo serta bahasa-bahasa advertisement. Hujan yang tercurah dari langit tertahan bahan kedap air itu. Kami aman berbicara berbagai hal terkait komunitas blogger di Pontianak.

Masing-masing orang tanpa dikomando mengungkapkan pengalamannya selama bergelut di dunia blog. ”Ada yang nanya di chat boxm di Pontianak ada bandara ndak ya,” celetuk Mering.

Yang lain nyambung. ”Pontianak ada kucing ndak sih. Sebab orang sana (Kalbar) kan makan orang”.

Suasana makin tambah seru. Ada yang iseng jawab. ”Jangankan kucing, hutan pun habis dikunyah”. Pernyataan teman satu ini pastilah menyinggung soal maraknya illegal logging di Kalimantan Barat.

Yang lain mengungkapkan keinginan untuk belajar menulis hal sederhana namun renyah saat dibaca. Sebaliknya yang lain ingin belajar bahasa HTML. Pernak-pernik blog dan seterusnya. Kematian mantan penguasa Orde Baru juga tak lepas dari bahasan.

***

Cafe Telkom berada di Jalan Teuku Umar. Lokasinya sangat strategis dan berada di tengah kota. Suasananya nyaman. Satu kompleks dengan kantor telkom dan tentu saja fleksi. Di situ juga ada Anjungan Tunai Mandiri – bahasa Melayunya – dan Automatic Taller Machine – bahasa Inggrisnya.

Minuman yang disuguhkan juga beragam. Mulai yang hangat seperti capuccino, kopi, teh dan sejenisnya. Serta yang dingin ada teh es – ini minuman wajibku – ekstra jos susu, hemaviton energi drink, etc. Malam itu saya disuguhi cappuccino hangat oleh teman-teman. Cafe Telkom menjadi salah satu tempat favorit buat blogger Pontianak maupun buat mereka yang hanya sekadar searching, membuka email, atau chatting. Selain letaknya yang strategis, juga tak mesti bayar dan harga minumannya tentu saja tidak semahal seperti cafe-cafe lain. Maka jadi lah tempat ini tempat nongkrong bagi pencinta dunia virtual.

Di Pontianak saat ini, warnet-warnet mulai tumbuh pesat. Jika dulu hanya ada Warnet Mars di Siantan dan Pontianak Mall di Jalan Teuku Umar. Warnet Candika di Jalan KH Wahid Hasyim, Warnet Kopma di Untan atau Stella di Tanjung Hulu. Kini di sejumlah kawasan mulai bertebaran. Di Jalan Tabrani Ahmad tempat saya tinggal, misalnya sudah ada dua tempat. Begitu pun di Jalan Jeranding, Sungai Jawi, kawasan pasar, Gajah Mada, Sepakat dan seterusnya.

Sejumlah hotspot juga dimiliki oleh lembaga dan pribadi-pribadi yang mampu. Di setiap kampus di Untan kini dengan mudah bisa mengakses internet. Tentu saja jika membawa laptop.

***

Dari pertemuan sederhana dan hanya kongkow-kongkow para blogger banyak ide liar namun brilian yang muncul. Misalnya di setiap kawasan umum harus sudah ada hotspot. Sehingga Pontianak tidak malu jika ada tamu yang datang dari luar. Apalagi berbatasan negara langsung dengan Malaysia.

Dalam beberapa bulan terakhir lompatan dunia virtual di Pontianak sudah sangat jauh. Mungkin ini disebabkan dengan semakin terjangkaunya harga komputer (laptop). Serta didukung hotspot yang bertebaran di mana-mana. Ini adalah ancaman dan sekaligus peluang untuk daerah. Bisa dibayangkan jika para blogger itu menulis yang jelek-jelek saja tentang Pontianak – bad news is good news – itu lah muka Pontianak. Begitu pun sebaliknya jika para blogger menulis hal-hal baik, positif, penuh inspirasi maka wajah seperti itu lah yang akan muncul du dunia virtual.

Saat ini jika orang ingin berkunjung ke suatu daerah, maka yang pertama ia akan mencari informasi sebanyak-banyaknya lewat internet. Lewat 10 jari seseorang tak lagi perlu datang ke travel untuk membeli tiket. Bisa dibayangkan dahsyatnya peran blogger terhadap suatu daerah. Tak salah jika dikatakan masa depan Pontianak ke depan di tangan para blogger Pontianak. Apa lagi di tengah semakin tidak bermutunya pemberitaan media mainstream. Tidak informative, bahasa kering-kerontang, provokatif, sadisme, dan seterusnya.

***

Kulirik layar HP low end milikku yang baru saja aku beli dengan menukar HP lama yang sinyalnya kadang ada, kadang hilang. Jam sudah menunjukkan pukul 21.30. “Sudah larut,” batinku.

Aku dan Mering harus segera balik ke kantor. Masih ada tulisan wartawan daerah yang belum selesai diedit. Jika terlambat maka semua proses produksi juga akan terlambat. Akibatnya besok pagi koran datang siang di hadapan pembaca.

Di luar hujan masih rintik-rintik. Kupacu Yamaha YT-115 milik Mering menuju kantor. Kami harus segera tiba agar pekerjaan bisa diselesaikan. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari pertemuan sederhana itu. Masa depan Pontianak di tangan Blogger.

[ read the rest of this entry » ]

Friday, February 1, 2008 |

Etnofarmakologi Direncanakan Jadi Pola Ilmiah Pokok Untan



Stefanus Akim
Borneo Tribune, Untan


Universitas Tanjungpura berencana menjadikan etnofarmakologi sebagai pola ilmiah pokok di kampus yang memiliki 15 ribu mahasiswa tersebut. Untuk itu perlu daya dukung alam yang cukup agar program ini bisa berjalan. Etnofarmakologi adalah pendekatan yang luas tentang penemuan obat termasuk observasi, deskripsi, uji eksperimen dan uji bioaktivitas obat-obat pedalaman (indegenous drug)

Rektor Untan, DR. Chairil Efendy, M.Pd, saat diskusi Jurnalisme Lingkungan di Rektorat Untan, Sabtu (19/10) mengatakan, dukungan alam tersebut berguna untuk bahan dasar penelitian dan ketersediaan bahan saat akan digunakan. “Tapi hutan kita harus kuat dulu, jika tidak maka tak akan bisa,” kata mantan Dekan Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Untan.

Sebelumnya Untan memiliki pola ilmiah pokok gambut dan lahan basah. Namun hal tersebut tak bisa terlaksana dengan baik. Untuk itu direncanakan etnofarmakologi. Alasannya dipilihnya etnofarmakologi yang dipusatkan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) karena dosennya memiliki perhatian dan komitmen yang sangat serius terhadap persoalan itu.

Chairil juga prihatin dengan kondisi hutan dan penebangan ilegal di Kalimantan Barat. Sebab jika dibiarkan akan berpengaruh dengan kondisi lingkungan dan nutfah yang ada di dalamnya. Belum lagi daya dukung hutan yang akan berkurang.

“Gambut juga supaya tak dieksploitasi, sebab itu akan berpengaruh besar dengan lingkungan, bisa mengakibatkan banjir. Kita tahu gambut bagus menyerap air. Jangan sampai pola ini mengulangi kesalahan zaman Soeharto yang memprogramkan sejuta hektar lahan gambut,” kata dia.

Sementara Nur Iskandar, Pimpinan Redaksi Borneo Tribune, mengatakan, apa yang dilakukan Untan sepertinya bisa matching dengan program-program Pemerintah Kabupaten atau Kota. Ia mencontohkan Kabupaten Sanggau yang akan menyelamatkan plasma nutfah di daerah tersebut. Salah satunya adalah pohon rambutan canting yang hanya ada di Kabupaten Sambas dan hanya ditemukan beberapa pohon saja. “Tapi sekali lagi kita kalah dengan Malaysia, sebab mereka sudah membawa ke sana dan membudidayakannya,” kata dia.

Kabupaten Sambas juga akan melindungi dan memberikan perhatian khusus terhadap penyu hijau yang merupakan satwa khas daerah tersebut. “Harapan kita Untan menjadi sentral penelitian bagi pembangunan daerah ini,” kata alumni Fakultas Pertanian Untan ini.

Pendapat yang sama dilontarkan Yanti Mirdayanti, freelancer Borneo Tribune di Bonn, Jerman. Ia mengusulkan untuk persoalan lingkungan, Untan menjadi pusat penelitian dan bisa menggerakkan lembaga yang lain.

Ia meminta mahasiswa sudah harus bergerak ke isu lingkungan dan menjadi agen of change atau agen perubahan. “Politik sudah, sekarang (mahasiswa) ke lingkungan,” kata Yanti yang beberapa kali pindah domisili, mulai dari Jerman, Peru, Amerika dan kini kembali ke Jerman.

Persoalan lingkungan, termasuk segala ekosistem yang ada di dalamnya di Kalimantan dan Sumatra menjadi perhatian dunia. Setiap hari yang didiskusikan negara-negara maju meliput, hutan, illegal logging, orang utan dan sebagainya.

Yanti juga menyarankan agar Untan mulai membiasakan mahasiswanya menulis. Mulai dari hal-hal sederhana, jurnalistik kemudian tulisan yang lebih berat. “Pengalaman saya kuliah teman-teman cepat sekali menyelesaikan mata kuliah dengan nilai yang bagus. Namun giliran skripsi lama, ternyata persoalannya tak pernah menulis,” kata alumni Sastra Jerman di salah satu perguruan tinggi di Jawa.

Sementara itu Ketua Lembaga Pengkajian dan Studi Arus Informasi Regional (LPS-AIR), Deman Huri Gustira, melihat koran belum memberikan perhatian serius terhadap isu lingkungan. “Persoalannya mungkin di kalangan teman-teman jurnalis isu lingkungan bukan isu yang seksi. Dalam arti jika ini menjadi isu utama belum tentu mengangkat oplah,” timpal Yasmin Umar, Wakil Pimpinan Redaksi Kapuas Post.

Deman mengungkapkan, selama setahun koran di Kalimantan Barat hanya menulis 180 kali terkait lingkungan. Dari jumlah itu hanya satu kali mengangkat isu kerusakan hutan. Selama ini wacana yang diangkat seputar hukum dan politik. Belum lagi di masyarakat timbul semacam stigma menebang kayu di hutan bisa bebas. Sebab sejumlah pelaku illegal logging bisa bebas setelah melalui proses persidangan.

Ia juga mengungkapkan hasil pengkajian LPS-AIR, sumber yang digunakan jurnalis umumnya, LSM, politisi, polisi, dinas kehutanan, sementara akademisi hanya satu kali. “Itu pun bias sebab akademisi yang juga bekerja di lingkungan perusahaan perkayuan,” papar dia.

Model pemberitaan pun hanya talking news (statemen) dari satu pihak saja tanpa cross check. “Harapan kita wacana yang digulirkan bukan hanya hukum atau politik, namun termasuk kerusakan hutan,” harap dia.

Sementara Adriana Sri Adhiati, aktivis lingkungan yang aktif di Down to Earth, sebagai researcher, campaigner, and co-administrator menuturkan, semangat peduli lingkungan orang Kalimantan Barat harus terus dijaga. “Lembaga kami lebih menitikberatkan kepada persoalan dampak lingkungan, juga memantau investasi Inggris di Indonesia, dan menjadi platform bagi kelompok tertindas,” ujar aktivis yang berdomisili di United Kingdom.

Diskusi itu sendiri dihadiri sejumlah LSM lingkungan, praktisi, jurnalis dan mahasiswa. Untuk kegiatan ini Borneo Tribune menggandeng Tribune Institute, EC-Indonesia FLEGT Support Project serta Universitas Tanjungpura. Diskusi di Untan merupakan rangkaian road show di beberapa kabupaten mulai Sambas, Singkawang, Mempawah terakhir di Pontianak.*

[ read the rest of this entry » ]

Monday, January 21, 2008 |

Listrik Pontianak Membuat Stres

Dua minggu terakhir listrik di Kota Pontianak semakin sering padam. Tak tunggu pagi, siang, sore bahkan malam sekali pun. Tak seperti biasanya, di sejumlah surat kabar lokal tak ada wartawan yang menulis berita soal listrik yang sangat mengganggu ini.

Ternyata teman-teman wartawan sudah bosan ”mengingatkan” PLN yang tak pernah beres mengurusi persoalan listrik. ”Percuma jak ditulis, sepedas apa pun tetap jak tak ade perubahan. Yang ade buat halaman koran kotor jak. Banyak isu lain yang lebih menarik ditulis,” ujar salah seorang wartawan di kantor kami.

Kemarin sore, saat kami semua diburu deadline listrik tiba-tiba padam. Tak lama nyala lagi. Selang beberapa jam kembali padam dan begitu seterusnya hingga beberapa kali.

Sumpah serapah, penghuni kebun binatang, cacai-maki pun meluncur deras. Bahkan maaf - alat-alat reproduksi pun – ikut "berloncatan" dalam gelap.

Berita yang sudah ditulis hilang semua, bahkan kini giliran komputer ku yang ”mati dudok’ tak mau nyala. Untungnya ada bang Iwan, IT kami yang ngotak-ngatik baru nyala. Jika sampai rusak aku tak bisa bayangkan berapa besar kerugian yang harus ditanggung. Bukan dalam bentuk materi, namun sejumlah naskah yang didownload dari internet, koleksi foto dan sebagainya tersimpan dalam hard dish.

Kondisi listrik di Kota Pontianak sempat baik saat menjelang pemilihan gubernur dan wakil gubernur beberapa bulan lalu. Namun setelah perhelatan itu usai kondisinya kembali sama. Listrik tetap nyala, padam, nyala dan padam lagi.

Sejumlah teman mengusulkan untuk mendata alat-alat elektronik yang rusak akibat tegangan yang selalu berubah-ubah secara tiba-tiba seperti ini. kemudian alat-alat tersebut dibawa ke PLN untuk minta ganti rugi. Saya pikir jika usul ini disambut 25 % saja oleh masyarakat Kota Pontianak maka bisa dibayangkan bagaimana kalutnya PLN. Jika usaha ini pun tak berhasil digunakan upaya lain berupa gugatan class action kepada PLN.

Kemudian kerugian-kerugian lain juga di klaim ke PLN. Misalnya data yang hilang di komputer, kerugian tak bisa mem-fotocopy, tak bisa masak karena rice cooker tak nyala, tak bisa minum es, tak bisa nonton berita dan infotainment serta biaya penggantian solar atau bensin untuk menghidupkan genset.

Jika layanan PLN masih begitu-begitu saja, jangan heran jika timbul gerakan seperti itu. Alasan alat rusak atau kekurangan daya sudah membuat masyarakat bosan.

Aku stress tinggal di Pontianak. Bukan karena apa-apa, namun listrik nyala, padam, nyala dan padam lagi.*

[ read the rest of this entry » ]

Friday, January 18, 2008 |

Algojo Paling Mematikan di Abad Modern

Oleh: Stefanus Akim

Judul : Bush dan Hitler
Pengarang : Rh. Widada
Penerbit : Penerbit Bentang
Cetakan : Pertama, Oktober 2007
Halaman : vi + 154; 17,5 cm
___________________________________


Selama ini sudah banyak buku yang membahas tentang Bush maupun Hitler. Namun buku yang membandingkan keduanya atau buku yang membahas kedua tokoh itu dalam satu buku, mungkin baru buku yang dibuat oleh Rahmad (Rh) Widada. Seorang penulis dan editor buku freelance.

Jika dicermati buku ini sesungguhnya terbagi dua bagian besar, yaitu pembahasan tentang Hitler di satu bagian pertama dan George W. Bush di bagian kedua. Barulah dipaparkan kesamaannya.

Pada bagian awal kita diajak penulis untuk masuk lebih dalam siapa kedua tokoh utama. Bagaimana Hitler menapaki karirnya hingga ia “sukses” memimpin Partai Nazi. Kita diajak mulai melihat kehidupan Hitler masa kanak-kanak, bermigrasi, masuk dinas ketentaraan, dipenjara hingga menulis buku Mein Kampf.

Termasuklah menyinggung tentang kebijakan rasial Hitler dan Holocaust.
Begitu pun dengan Bush. Penulis yang alumni Sastra Indonesia Fakultas Sastra UGM, juga membawa penulis untuk menyelidiki kehidupan Bush di masa lalu. Bahkan masih di saat kakek buyutnya memulai bisnis keluarga hingga pengaruh keluarga Bush terhadap Partai Nazi.

Tulisan awal tersebut semacam pembukaan yang akan menghantarkan pembaca untuk tahu lebih dalam kedua tokoh utama. Namun bagi sebagian orang yang sudah membaca buku-buku semacam biography Hitler atau Bush bagian ini mungkin menjemukan. Sebaliknya bagi yang belum pernah membaca biography keduanya, bagian ini adalah bagian cukup penting sebagai pintu masuk agar semua isi buku terserap habis. Setidaknya bisa mengingatkan kembali bacaan-bacaan silam. Dari semua itu bahasa penulis yang juga pernah berkarier sebagai penulis essay, cerpenis serta editor sangat renyah dan enak untuk dibaca.
Bagian sangat penting dari buku ini terletak pada bab 5; Pola-Pola Politik Megalomaniak. Bagian ini sesungguhnya klimaksnya dari bab-bab sebelumnya.

Mengutip sinopsis yang dibuat penerbit, personifikasi Hitler pada diri pemimpin yang tidak disukai Amerika selalu menarik untuk diperhatikan. Ketika pecah perang teluk, Saddam menjadi bulan-bulanan media yang menganggapnya Hitler versi timur tengah. Kemudian, cap Hitler pun sempat mampir pada Presidan Iran, Mahmoud Ahmadinejad, karena meragukan orisinalitas data tentang holocaust.

Ironisnya, dalam konteks invasi terhadap Irak, cap buruk Hitler itu justru berbalik kepada Bush Jr. sendiri, yang sebagian besar dilakukan oleh orang Amerika melalui internet. Gelagat menyamakan Bush dan Hitler ini mungkin bukan sekadar main-main jika penulis memiliki data akurat tentang setiap transaksi bisnis kotor yang pernah dijalankan keluarga Bush semasa pecah perang dunia II. Inilah buku yang mengupas tuntas kelihaian keluarga Bush memperalat orang-orang di sekitarnya untuk kemudian maju menjadi pemimpin sebuah bangsa digdaya bernama Amerika.□

*Edisi Cetak Borneo Tribune 30 Desember 2007

[ read the rest of this entry » ]

Monday, December 31, 2007 |

Semangat Otonomi Daerah dan Kesejahteraan Rakyat

Oleh: Stefanus Akim

Selasa, 17 Juli 2007 gedung Nusantara II DPR RI tak seperti biasanya. Puluhan warga kubu raya, para kepala desa, tokoh masyarakat, mahasiswa, pemuda serta legislatif berkumpul di gedung milik rakyat itu. Kedatangan mereka untuk menyaksikan pemekaran Kabupaten Kubu Raya.

Pada sidang paripurna yang dipimpin Wakil ketua DPR RI, Soetardjo Guritno dan juga dihadiri Gubernur Kalbar H Usman Ja’far serta Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, 10 Fraksi di DPR RI menyatakan menerima dan mengesahkan delapan RUU pembentukan daerah otonom baru menjadi Undang-undang.

Bersama Kubu Raya disyahkan pula Kabupaten Padang Lawas (Sumut), Kabupaten Angkola Sipirok (Sumut), Manggarai Timur (NTT), Kota Tual (Maluku), Kabupaten Tana Tidung (Kaltim), Kota Serang (Banten) dan Kabupaten Pesawan (Lampung).

Kabupaten Pontianak sebagai kabupaten induk, terdiri atas 18 kecamatan, 168 desa dan 213 dusun dengan luas wilayah 8.262 kilometer persegi. Jumlah penduduk 709.933 jiwa. Sedangkan Kabupaten Kubu Raya, terdiri atas 9 kecamatan, 101 desa dan 370 dusun dengan luas 6.985,20 kilometer persegi.

Masyarakat sangat antusias menerima penetapan DPR RI tersebut. Keinginan untuk memekarkan diri sudah sejak lama dinantikan. Keinginan itu dapat dipahami, sebab selama ini untuk urusan administrasi memerlukan waktu yang panjang. Belum lagi jika masyarakat dari kecamatan-kecamatan yang belum bisa ditempuh jalan darat seperti Batu Ampar, Terentang, Kubu, Telok Pakedai, atau Kuala Mandor B. Dengan dilakukan pemekaran diharapkan memperpendek rentang kendali antara ibu kota kabupaten dan masyarakat di kecamatan-kecamatan.

“Bayangkan saja jika masyarakat dari Padang Tikar, Kecamatan Batu Ampar yang ingin mengurus surat-menyurat di Mempawah. Mereka harus turun menggunakan motor air, kemudian naik bis kota dilanjutkan dengan bis menuju Mempawah,” ujar Mustafa MS, S.Ag, politisi Partai Golkar asal Padang Tikar.

Belum lagi jika urusannya tak selesai, baik karena pejabatnya tak ada di tempat atau ada administrasi yang kurang. Maka tentu saja yang berurusan harus nginap di Mempawah dan tentu saja tambahan biaya lagi untuk biaya akomodasi.

Banyak harapan digantungkan dengan terbentuknya Kubu Raya – kabupaten yang baru dimekarkan – salah satunya fasilitas infrastruktur. Baik jalan raya, puskesmas, sekolah, jembatan dan irigasi.

Selama ini mungkin karena wilayah yang terlalu luas, kue pembangunan tak tersebar merata. Dari satu kecamatan ke kecamatan lain tak semuanya bisa dihubungi lewat jalan darat. Begitu pun tak semua kecamatan memiliki gedung SMA atau SMP. Baru dua tahun terakhir semua kecamatan memilikinya.

”Dengan pemekaran dan wilayah semakin kecil diharapkan kue pembangunan itu bisa lebih merata. Banyak sekolah, jalan, irigasi, fasilitas kesehatan dan sebagainya yang dibangun,” kata Soeharso SIP, seorang pemuda asal Kecamatan Kubu.

Sementara Ali Syech Zein, asal Jeruju Besar Kecamatan Kakap mengutarakan pemekaran memang kebutuhan mendesak bagi 9 kecamatan di Kabupaten Kubu Raya. Namun jangan sampai pemekaran ini menjadi ajang untuk bagi-bagi kekuasaan, menimbulkan korupsi, kolusi dan nepotisme. ”Pemekaran jangan sampai euforia sesaat. Masyarakat jangan lupa untuk terus mengawalnya,” kata dia.

Kini setelah Kamaruzzaman ditetapkan sebagai Penjabat Bupati diharapkan roda pemerintahan segera berjalan. Terbentuk perangkat daerah yang kelak bisa menyiapkan pemilihan bupati dan wakil bupati serta banyak lagi. Tentu saja Kamaruzzaman mampu mengemban tugas berat tersebut, sebab selama ini saat ia menjabat sebagai Asisten III Sekda Pemprov Kalbar menunjukan kinerja baik. Selain dia ada dua nama yang juga diajukan ke Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur Usman Ja`far yakni Syafruddin HM (Kepala Dispenda Kabupaten Pontianak), dan Abdul Wahab (Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Pontianak). Namu Kamaruzzaman lah yang akhirnya terpilih.

Berdasarkan kajian Pemkab Pontianak, sumber daya keuangan Kabupaten Pontianak didominasi oleh sembilan kecamatan yang akan bergabung dengan Kubu Raya. Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tahun 2003, calon Kabupaten Kubu Raya memberi kontribusi 68,52 persen dengan nilai Rp3,528 triliun sedangkan kabupaten induk hanya 31,48 persen atau Rp1,621 triliun.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pontianak Rp22 miliar, sebanyak Rp10,9 miliar dari kecamatan yang tergabung dalam kabupaten induk sedangkan sisanya Kubu Raya.

Dengan adanya pemekaran, Kabupaten Pontianak terdiri dari sembilan kecamatan dengan jumlah penduduk 221.454 jiwa sementara Kubu Raya 488.479 jiwa.

Pemprov Kalbar pada APBD Perubahan 2007 menganggarkan dana sebesar Rp2,5 miliar dari total Rp15 miliar untuk Kubu Raya selama 3 tahun.

“Setelah Kabupaten Kubu Raya terbentuk, maka kepada calon pemerintahannya harus segera membuat rencana tata ruang wilayah. Perencanaan itu tidak boleh lepas dari niat awal pemekaran,” kata Asmaniar, anggota DPRD Kalbar Rabu.

Menurut salah satu legislator perempuan dari PAN ini, tata ruang itu mendesak karena dilatarbelakangi satu rencana pengembangan Sungai Raya, yang menjadi ibukota kabupaten baru tersebut. Terutama untuk wilayah Ahmad Yani II. Jalan tersebut menurutnya awalnya merupakan daerah terbuka yang menjadi resapan air. Namun, ketika terjadi pengembangan kota maka kawasan tersebut pasti akan dialihfungsikan. “Hal ini harus menjadi perhatian utama pada pemerintah Kabupaten Kubu Raya yang paling tidak dalam waktu 6 bulan ke depan, harus sudah terbentuk,” tukasnya.

Sementara itu Muda Mahendrawan, salah seorang tokoh yang berperan penting dalam pemekaran Kubu Raya, mengatakan, proses pengusulan pemekaran menjadi model secara nasional. sebab pemekaran itu diusulkan Forum Desa, bukan oleh para elit politik, birokasi maupun pengusaha.

Sementara itu Bupati Pontianak, Agus Salim sejak lama sudah mempersiapkan kabupaten induk yang akan ‘ditinggalkan’ kabupaten Kubu Raya. Salah satunya mengegolkan pelabuhan terpadu di Kuala Mempawah. Pelabuhan ini meliputi pelabuhan perikanan dan pelabuhan laut. Harapannya tentu saja, ada sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) baru yang setidaknya bisa menghidupi kabupaten induk. Ia juga menggalakkan sektor pertanian dan perkebunan di antaranya di Sungai Kunyit, Anjongan, Sungai Pinyuh, dan lainnya. Termasuk peternakan terpadu, untuk mengistilahkan pertanian yang dipadukan dengan peternakan.

Sedangkan di Kubu Raya, juga tak ditinggalkan begitu saja. Misalnya membangun Kota Terpadu Mandiri (KTM), sebuah pola transmigrasi baru di Kecamatan Terentang dan Rasau Jaya. Kemudian tentu saja membangun beberapa infrastruktur.

“Kita di DPRD tentu saja sangat mendukung program yang bertujuan menyejahterakan rakyat. Penganggaran di APBD kita arahkan untuk itu. Sebab bagi kami salah satu indikator keberhasilan suatu daerah adalah meningkatkan kesejahteraan,” kata Ketua DPRD, Rahmad Satria.

Kini setelah Kubu Raya dimekarkan, semoga kesejahteraan itu menghampiri masyarakat banyak. Baik di kabupaten induk maupun di daerah yang baru dimekarkan. Semoga...□

*Edisi Cetak Borneo Tribune 30 Desember 2007

[ read the rest of this entry » ]

Sunday, December 30, 2007 |