Judul Buku : In The Name of HONOR (A True Story):
Atas Nama Kehormatan
Pengarang: : Mukhtar Mai
Editor : Aisyah (edisi terjemahan bahasa Indonesia)
Penerjemah : M. Lukman Sadikin
Penerbit : Pustaka Alvabet, Jakarta, 204 halaman, 12,5 x 20 cm
Cetakan pertama : Maret 2007
Peresensi : Stefanus Akim
Buku ini merupakan sebuah kisah nyata dari seorang perempuan janda berusia 35 tahun. Dia tinggal di perkampungan kecil, Meerwala, selatan Punjab, Pakistan. Dia adalah salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh versi majalah Time tahun 2006.
Mukhtar Mai seorang yang buta aksara, namun berkat bantuan Marie-Therese Cuny, dari Prancis yang tertarik nasib tragisnya kisahnya berhasil ditulis dan dibukukan. Teks asli buku ini berbahasa Prancis; Deshonoree.
Perjuangan Mukthar Mai mendapat pujian dari sejumlah kalangan, salah satunya Nicholas Kristoff, dari The New York Times. ”Mukthar Mai adalah seorang pahlawan. Dia telah mengalami pemerkosaan dan kebrutalan pengadilan. Atas kejadian itu dia meyakinkan kita kan pentingnya pendidikan-dan harapan”.
Saat kejadian itu, ia adalah seorang perempuan miskin Pakistan berusia 32 tahun. Pada 22 Juni 2002, Muktar Mai dijatuhi hukuman oleh Dewan Adat di desanya dengan cara diperkosa. Dia dipegangi oleh empat orang laki-laki, ditelanjangi dan kemudian diperkosa beramai-ramai. Lalu, ia diperintahkan untuk berjalan pulang dalam kondisi setengah telanjang di hadapan 300-an penduduk desa. Dengan cara dipertontonkan dan dipermalukan di depan umum, Mai harus melakukan itu demi ’membayar’ suatu tindak kejahatan yang tanpa bukti, yang dituduhkan kepada adik laki-lakinya.
Adik laki-laki Mai, Abdul Syukur (12 tahun), dituduh memiliki affair dengan seorang gadis dari kasta yang lebih tinggi. Dewan adat akhirnya menjatuhkan hukuman kepada Muktamar Mai dengan cara diperkosa. Menjelang menit-menit pelaksanaan hukumannya, Mukatamr Mai meminta belas kasihan, memohon agar adiknya dibebankan dan membaca Al-Quran-satu-satunya bacaan yang dihafalnya.
Ia berasal dari kasta rendah Gujar dan harus berhadapan dengan klan lokal yang sangat berpengaruh dan agresif. Mereka adalah para petani dari kasta Mastroi yang kuat. ”Atas nama keluargaku aku harus memohon pengampunan dari mereka,” kata Muktar Mai yang ditulis dalam bentuk aku.
Meskipun ia seorang yang buta huruf, namun ia adalah seorang yang pemberani. Ia bahkan menjadi perempuan pertama di negaranya yang berhasil merebut kembali kehormatannya dengan cara menyerang balik tradisi barbar yang hampir saja membinasakannya.
Dalam buku ini, Mukhtar Mai dengan runut bercerita soal kejadian yang menimpanya. Sementara Marie-Therese Cuny dengan sabar mendengarkan dan mencatat apa yang diceritakan oleh Mukhtar Mai, ia dibantu pula oleh Naseem Akhtar, sepupu Mukhtar Mai sendiri. Ia tak menyangka kata-katanya telah dibukukan dan mengantarkan dirinya untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Prancis pada Januari 2006. Dia berkesempatan berbicara mengenai hak-hak perempuan di sebuah tempat yang didedikasikan untuk perjuangan hak-hak asasi seluruh umat manusia: Place des Droits de l’Homme, Prancis.
Selain perjuangan seorang perempuan yang gagah berani untuk menyerang tradisi barbar dari buku ini dapat pula dilihat sistem hukum yang lemah dan mudah dibeli. Di kantor polisi misalnya, ia, diminta membuat cap jempol blangko kosong oleh seorang pemeriksa yang juga ’kaki tangan’ klas Mastroi dengan alasan demi kebaikan sendiri. Blangko itu ternyata berisi pernyataan yang menyebutkan jika ia tidak diperkosa dan hanya mengarang cerita. Untungnya saat sudah disidangkan di pengadilan ada seorang hakim yang masih memiliki hati nurani. Hakim itu bahkan meminta akar Mukhtar Mai untuk tegar dan menceritakan semuanya tanpa takut. ”Cerita yang kau ceritakan kepadaku berbeda dengan yang kau ceritakan kepadaku,” ujar hakim kepada Mukhtar Mai
Secara umum buku ini cukup menarik dan isinya bisa memompa semangat kaum tertindas untuk melakukan perlawanan. Hanya saja kadang-kadang kalimatnya sulit dipahami. Mungkin karena buku ini dibuat berdasarkan penuturan Mukhtar Mai, bukan hasil tulisan langsung. □
*Dipublikasikan Borneo Tribune 15 Juli 2007
Kisah Perempuan Berani yang Menyerang Tradisi Barbar
Kisah Dahsyat Ketimbang Fiksi
Judul Buku: Frank Sinatra Kena Salesma:
Kisah Terhebat yang Pernah Diceritakan
Editor: Yusi Avianto Pareanom (edisi terjemahan bahasa Indonesia)
Penerbit: Banana Publisher, Depok, 130 halaman, 19 cm
Cetakan pertama: Oktober 2005
Peresensi: Stefanus Akim
Karya jurnalistik tidak selamanya kering, membosankan atau hanya disajikan dengan 5W+H atau paling banter feature. Dengan new journalism, karya jurnalistik dapat dibuat seperti novel namun sangat menyucikan fakta. Ada adegan, plot, karakter, konflik, akses penulis dengan sumber, emosi rasa cinta benci dan sebagainya, perjalanan waktu dan unsur kebaruan. Semua itu ada dalam buku kecil ini.
Buku ini terbagi dalam tiga bagian (judul) berbeda. Ada Frank Sinatra Kena Salesma pada bagian pertama yang merupakan karya Gay Talese, Demam Anggrek karya Susan Orlean, dan Ali Kini karya Cal Fussman.
Pada bagian pertama kita bisa melihat Frank dalam jangkauan yang dekat sekali. Kita seakan bisa melihat dengan mata, meraba dengan tangan, mengecap dengan lidah dan mencium dengan hidung siapa dia sebenarnya.
Frank punya segalanya: karir hebat, wanita-wanita cantik, serta keluarga dan kawan-kawan yang mencintainya. Ia adalah Il Padrone, sang bos besar. Tetapi berada di puncak juga berarti menjadi yang terdepan saat badai datang. Bagian pertama ini bercerita problem kekuasaan yang dialami salah satu bintang terkondang di dunia. Kisah ini medapat sambutan luar bisa ketika terbit pertama kali pada tahun 1966.
Kisah ini adalah salah satu pelopor jurnalisme baru-new journalism, narasi nonfiksi, setia menghadirkan fakta, tetapi hidup karena gaya bercerita yang pada waktu itu hanya dipakai dalam wilayah fiksi.
Anda juga siap-siap terharu membaca Ali Kini di bagian ketiga. Bagian ini akan membuka mata bahwa kisah nyata tak kalah kaya, memikat, ganjil, dan ajaib ketimbang fiksi. Malhan dalam beberapa kasus bisa lebih.
Ali Kini bercerita tentang mengisahkan kehidupan kehidupan mantan juara tinju dunia Muhammad Ali setelah terbekap penyakit Parkinson. ”Masihkan ia orang yang sama dengan orang yang sekain puluh tahun lalu berdiri di pojok jalan menumumkan keberadannya di depan kamera televisi setelah menerima ancaman pembunuhan”? Anda akan menemukannya setelah membaca tuntas.
Siap-siap pula untuk terkagum-kagum menyimak kegilaan pencinta sejadi Demam Anggrek yang menjadi inspiransi film Adaptation yang memenangi Oscar. Anda akan menemukan deskripsi yang sangat memikat pada bagian ini. ”Satu spesies terlihat seperti anjing gembala Jerman dengan lidah terjulur, spesiesnya lainnya tampak seperti bawang. Satu spesies terlihat seperti gurita, sementara yang lain tampak seperti hidung orang. Ada satu yang terlihat seperti sepatu gaya yang biasa dipakai raja-raja, satu lagi tampak seperti monyet”.
”Sebagai orang pertanian dan jurnalis saya malu jika tak dapat menulis buku-Demam Anggrek-seperti ini. Sangat sederhana sekali namun sangat memikat,” komentar Nur Iskandar.
Memang untuk melakukan jurnalisme sastrawi atau narattive memerlukan ambisi si wartawan, yang tak dibebani rutinitas redaksi. Ia harus membangun, dan memegang, kontak personal dengan pembacanya. Liputan yang dilaporkannya harus jadi pengalaman unik yang personal sifatnya. Ia tak hanya mengenali subyek liputan sebagai materi jurnalistik akan tapi mengenali mereka dengan keintiman orang yang memang dekat. Dari paragraf awal sampai akhir, ia menyajikan pengalaman tersebut kepada pembaca, dalam gaya yang laporan yang tetap terkontrol, matang, dan terkadang lucu. □
*Diterbitkan Borneo Tribune, 8 Juli 2007
Majalah Sidus-Nyarumkop
Saya masih ingat pernah ‘mengelola’ majalah Sidus. Majalah ini milik para siswa asrama Widya (seminari) St Paulus Nyarumkop, Singkawang. Saya juga pernah menjadi Ketua Asrama tahun 1994 (Kelas 2 SMA), Ketua Seksi Liturgi tahun 1993 (Kelas 1) dan Ketua Majelis Permusyarawatan Kelas (MPK) tahun 1994.
Saat itu konsultan Sidus bapak Drs. Hendrikus Clement. Beliau guru Bahasa Inggris alumni Sanata Dharma, Yogyakarta dan juga alumni Nyarumkop. Sempat menjadi Ketua DPRD Kota Singkawang dari Fraksi Partai Demokrasi Perjuangan (PDI-P) dan kemudian karena pemekaran, menjadi anggota DPRD Bengkayang. Terakhir saya dengar sebagai dosen di STIE Bumi Sebalo, Bengkayang.
Majalah itu ukuran buku tulis biasa dengan sampul kuning dan isi foto copy. Isinya macam-macam, mulai dari cerita humor, artikel, kartun dan lain-lain. Yang nulis selain siswa seminari menengah juga para guru dan biarawan.
Terakhir saya dengar sudah tidak terbit karena kekurangan dana dan mungkin juga kekurangam human recourses. Saya & beberapa alumni berpikir untuk menghidupkan kembali, sebagai sarana adik-adik menuangkan gagasan dan melatih diri. Bagi para alumni yang berkeinginan berkomitmen mungkin bisa kontak saya di stefanusakim [et] gmail [dot] com.
Mungkin perlu direview, kami pernah membuat paguyuban dengan nama Ikatan Alumni Persekolahan Katolik Nyarumkop (IMAPKN) antara tahun 1999-2001. Saya tak ingat persis, sebab sudah lama & tak tahu siapa pengurus sekarang. Saat itu beralamat di Komsos Keuskupan Agung Pontianak di jalan Imam Bonjol.
Tahun 2006 IMAPKN, pernah membuat kegiatan bernama Latihan Kepemimpinan Siswa (LKS)-mirip di Sanata Darma dengan basis latihan kontemplasi St Iqnatius De Loyola. Salah satu yang bekerja keras Yosafat Aus S.Ag dan kawan-kawan. Saya sempat hadir pada hari penutupan. Awal berdiri melakukan sosialisasi perguruan tinggi di Pontianak, meggelar tryout penerimaan mahasiswa baru dan kegiatan lain.
Ada rasa bersalah jika majalah ini mati suri. Soal dana mungkin kita bisa patungan dulu dan tidak membebani keuangan persekolahan atau yayasan.
Regards,
Stefanus Akim
Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Sungai Ambawang
Ada rasa ingin tahu yang cukup besar dari sejumlah mahasiswa Sungai Ambawang yang tergabung dalam Ikatan Persaudaran Mahasiswa Sungai Ambawang-disingkat IPMSA terhadap dunia jurnalistik.
Untuk itulah maka Tata-ketua saat ini, meminta kami bertiga-Tanto, Aleks dan Akim untuk memberikan materi singkat tentang jurnalistik kepada mereka. Dipilihlah, Gedung Serba Guna Korek yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Pontianak. Sebab selain sedang tak digunakan gedung ini cukup representatif dan lokasinya mudah ditempuh. Ada 13 mahasiswa yang hadir dari 16 yang direncanakan oleh pengurus IPMSA. Jumlah tersebut aku pikir masih minim namun cukup ideal untuk sebuah pelatihan dan diskusi. Aku ingat, saat masih menjadi pengurus tahun 2002 lalu, terdaftar 80 lebih mahasiswa Sungai Ambawang termasuk kecamatan Kuala Mandor yang merupakan hasil pemekaran.
Pelatihan berjalan santai dan akrab. Kami duduk di sebuah ruangan yang cukup besar dengan kursi kayu yang mirip kursi gereja. Peserta duduk menghadap white board dan pemateri menghadap ke arah peserta. Bangunan ini bersebelahan dengan Gereja Santa Anna, Paroki Sungai Ambawang dan SMA Talino.
Seperti umumnya mahasiswa, mereka cukup kritis dengan materi yang kami sampaikan. Tak hanya soal teknis seperti reportase, menulis berita dan membuat sudut pandang serta bahasa jurnalistik yang ditanyakan. Diantara mereka ada yang mempertayakan soal amplop dan wartawan bodrek. Mengutip pernyataan Goenawan Mohamad aku berujar kepada mereka bahwa menulis itu adalah laku moral dan harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan Tuhan.
Wah pikirku, cukup kritis juga mereka ini dan disini lah masa depan jurnalisme di tanah Borneo. Mengingat usia mereka yang masih cukup muda.
Kami bertiga umumnya memberikan materi yang sederhana, teknis dan umum serta menceritakan pengalaman masing-masing selama menjadi wartawan. Aku memotivasi mereka agar belajar dan terus belajar. Sebab penulis-wartawan yang baik adalah mereka yang mau terus belajar. Upaya itu dapat ditempuh dengan membaca dan membaca terus, reportase dan reportase terus, dikusi dan teruslah menulis.
Almarhum Romo Mangun, mengutarakan menulis ibarat orang mengisi botol. Botol itu diisi terus hingga penuh dan meluber, yang meluber itulah hasil tulisan. Untuk mengisi botol itu harus dengan membaca.
Kami memberikan materi umum mulai pukul 09.00 dan berakhir menjelang pukul 13.00. setelah itu kami bubar dan akan dilanjutkan hingga Sabtu dan Minggu.
Pada pelatihan itu teman-teman mahasiswa menyediakan white board berikut spidol dan penghapus. Saat jam istirahat kami disuguhkan makanan ringan berupa kue, teh dan kopi. Sedangkan istri Aleks yang rumah orang tuanya berhadapan dengan tempat pertamuan dipisahkan jalan Trans Kalimantan menyediakan kami bertiga makan siang. Satu tampah nangka yang ranum serta manggis disuguhkan kepada kami. Sebagai penutup ada tuak dari Sekadau....hem nikmat sekali.
Tuak sejenis minuman beralkohol, rasanya manis dan baunya harum. Ia dibuat dari hasil permentasi beras pulut dicampur ragi. Dalam jangka waktu tertentu permentasi tersebut dibuka dan airnya diperas. Biasanya disuguhkan saat ada pesta atau upacara adat.
Di Sungai Ambawang juga ada beberapa tempat penyulingan arak yang dikerjakan olah masyarakat. Kadar alkoholnya saya tidak tahu persis, namun jika disimpan dalam cawan atau gelas bakar sedikit dengan api maka akan menyala. Persis seperti spritus.
Sebelum pelatihan, saat Tata ke kantor aku minta ia menemani aku liputan soal arak. Bagaimana proses pembuatannya, peningatan ekonomi dan lapangan kerja, pemasan dan lain-lain. Namun dengan halus mahasiswa Universiras Tanjungpura ini menolak dengan alasan masih belum kondusif.
"Polisi masih razia (arak) bang, ame dolo. Ahe agik ade' kita nang atakng, payah. Ade' dah ina' ada ahe-ahe aku pane ngantat," kata dia dengan bahasa Dayak Kanayatn yang artinya: Polisi masih razia (arak) bang, jangan dulu. Apa lagi kalau abang yang datang, repot. Kalau sudah tak tak ada apa-apa aku akan antarkan.
Aku juga membagikan foto copy beberapa buah contoh tulisan sederhana dan naratif serta memberikan sedikit pengantar jurnalistik yang diharapkan dapat mereka baca jika ada waktu senggang. □
Materi Pelatihan Jurnalistik
Jurnalistik*
Stefanus Akim**
Dunia penulisan selalu menarik. Selalu menjadi dunia yang unik dari masa ke masa. Banyak penulis dan pengarang yang muncul dan kemudian menghilang. Banyak penulis sukses (wartawan juga penulis) dan ada pula yang tidak. Mengapa? Ada satu hambatan penyebabnya. Salah satunya kita agak enggan belajar, malas, tidak terus mengasah kemampuan dan lamber.
Untuk itu seorang penulis harus rajin membaca buku. Baik itu jurnal, terbitan berkala, kamus, novel, cerita pendek, kitab suci dan seteusnya. Asah dan asah terus. Menulis dan menulis terus. Belajar dan belajar terus. Jangan berhenti!
Apa itu Jurnalisme:
Jurnalisme memiliki ciri-ciri diantaranya:
- skeptis: Tom Friedman dari New York Time mengatakan skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima dan menangapi segala sesuatu kepastian agar tidak mudah ditipu. Seorang yang skeptis akan berkata, “Saya pikir itu tak benar. Saya akan mengeceknya,”
- bertindak cepat: seorang wartawan atau penulis tak akan menunggu sampai sebuah peristiwa terjadi. Ia akan memprediksi dan menulis lebih awal. Minimal melakukan reportase, riset atau pengamatan dari awal sebelum kejadian itu benar-benar terjadi.
- Mendorong perubahan ke arah yang lebih baik.
- Jurnalisme itu seni dan profesi
Ada 9 prinsip Jurnalisme:
- Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran
- Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada masyarakat
- Intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi
- Praktisi jurnalisme harus menjaga independensi terhadap sumber berita terhadap sumber berita.
- Jurnalisme harus menjadi pemantau kekuasaan
- Jurnalisme harus menyediakan forum kritik maupun dukungan masyarakat
- Jurnalisme harus berupaya keras untuk membuat hal yang penting menarik dan relevan
- Jurnalisme harus menyiarkan berita komprehensif dan proporsional
- Praktisi jurnalisme harus diperbolehkan mengikuti hati nurani
Sayarat seorang wartawan:
- tahu yang menarik
- ingin selalu tahu
- mampu observasi
- dan lain-lain
Berita dan Nilai
Ada 6 unsur berita:
apa, siapa kapan dimana, bagaimana dan mengapa (5W+H: what, who, when, where, why, how). Saat ini ada satu unsur lagi so what: lalu apa?
Nilai berita ada 5: (CHoPPT)
Consequnces; besar kecilnya dampak peristiwa pada masyarakat
Human interest; menarik atau tidak dalam segi ragam atau kehidupan manusia
Prominence; ketokohan dalam sebuah peristiwa
Proximity; jauh dekatnya lokasi peristiwa dari orang yang mengetahui berita
Timeliness; baru tidaknya atau penting tidaknya saat peristiwa itu terjadi.
Seorang wartawan harus mempunyai vitalitas:
1. menemukan peristiwa dan jalan cerita
2. cek, ricek dan tripel cek jalan cerita
3. memastikan sudut berita
4. menentukan lead atau intro
5. menulis berita
*Bahan Pelatihan Jurnalistik untuk Ikatan Persaudaraan Mahasiswa Sungai Ambawang, 6 Juli 2007
** Redaktur Borneo Tribune Pontianak
Sumber:
1. Vedemakum Wartawan, Reportase Dasar KPG 1997
2. Sembilan Elemen Jurnalisme: Bill Kovach & Tom Rosenstial
3. Seandainya Saya Wartawan Tempo: pengantar Goenawan Mohamad; ISAI dan Yayasan Alumni Tempo 1997
4. Jurnalisme Dasar: Luwi Ishwara; Penerbit Buku Kompas, Desember 2005
5. Penulis yang Sukses: Wilson Nadeak; Sinar Baru Bandung 1983
Lestarikan Budaya Lewat Pameran Batik
Oleh: Stefanus Akim
Selama seminggu, 28 Juni-5 Juli Wastraprema, Lembaga Pencinta Kain Adati Indonesia menggelar pameran batik dan wayang di Museum Textil, Jakarta. Puluhan lembar kain batik maupun wayang ditampilkan dalam pameran tersebut. Para ibu-ibu pencinta batik turut menampilkan batik yang dibuat tahun 1928.
Nian Djoemena, pemerhati batik mengatakan, pameran batik bermotif wayang ini cukup unik karena batik bermotif wayang memang tidak biasa. Sebagian besar batik yang dipamerkan memang didesain untuk koleksi dan pajangan. Ada beberapa berupa kain panjang. Batik pun tak harus berwarna kusam karena di pesisir muncul warna cerah dan pilihan motif beragam. “Di kawasan ini batik dipengaruhi Hindu Jawa tetapi tidak mendalam,” kata Nian Djoemena, penulis buku Kaligrafi on Batik yang akan mengadakan seminar batik di Jepang.
Menurut Nian, batik yang pertama ada di Sumatera adalah di Jambi, bukan Bengkulu seperti sangka banyak orang. Dari keluarga bangsawan di Jambi-lah batik muncul dalam bentuk kaligrafi halus. “Lebih halus daripada kaligrafi Jogjakarta.”
Batik Jambi yang memakai kaligrafi ini sempat tidak muncul karena Belanda memukul mundur bangsawan Jambi yang menguasai proses pembatikan. Sejak itu batik kaligrafi Jambi tak lagi banyak ditemui. Tetapi masih ada keluarga bangsawan yang mempertahankan. Inilah yang diangkat Nian Djoemena dalam bukunya.
Pada pameran batik tersebut puluhan batik dan wayang ditampilkan dan dipajang. Para pecinta batik betah berlama-lama untuk melihat tekstur, gambar maupun warna batik.
Diantaranya ditampilkan juga batik ukuran 9 x 2 meter yang memperoleh penghargaan Museum Rekor Indonesia sebagai batik terpanjang di dunia. Angka 9 diartikan sebagai sembilan wali sedangkan angka 2 diartikan sebagai dua kalimat syahadat.
Batuk yang terbuat dari katun ini bermotif cerita wayang alas amer. Cerita ini diambil dari wayang Babat Alas Wanamarta, dimana dicritakan tentang pendirian negara amerta mulai dari penebangan hutan Amer. Untuk membuatnya dibutuhkan waktu enam bulan oleh 17 orang pembatik Trusmi Cirebon. Saat ini batik ini menjadi koleksi Bapak Kastura, seniman asli Trusmi Cirebon yang teah banyak menciptakan dan mengkreasikan motif Cirebon.
Jika ditilik, kata batik berasal dari bahasa Jawa "amba" yang berarti menulis dan "titik". Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan "malam" (wax) yang diaplikasikan ke atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna (dye), atau dalam Bahasa Inggrisnya "wax-resist dyeing".
Situs Wikipedia Indonesia menyebutkan, batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya batik cap yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini.
Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak mega mendung, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh orang Cina, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing. □
Tajau Naga Singkawang Hiasi Museum Keramik
Oleh: Stefanus Akim
Tajau (tempayan) naga dari Singkawang sudah menjadi salah satu ciri khas daerah yang terletak sekitar 145 kilometer sebelah utara Pontianak. Minggu lalu selama seminggu digelar pameran dan workshop di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta, 21-28 Juni. Saya berkesempatan mengunjungi tempat tersebut dan melihat-lihat koleksi yang dipamerkan.
Puluhan tajau dengan motif naga menghiasi ruang pameran. Sayangnya pengunjung tidak diperbolehkan untuk mengabadikan dengan menggunakan kamera. Alasan pengelola museum, jika ini dilakukan maka karya tersebut dapat ditiru. Sementara kilatan blitz dapat merusak komposisi warna dan ketahanan tajau. Kegiatan ini dirangkai dengan seminar dan workshop.
Puluhan pengunjung tampak memadati ruangan dan melihat dari dekat tajau-tajau yang indah-indah tersebut. Bahkan sebuah tajau yang tak sempurna karena salah bakar justru menarik perhatian. Tajau tersebut mulutnya tidak rata dan justru miring, sementara bagian lehernya juga mengkerut. Meskipun demikian bagian tubuh tajau terlihat bagus, baik warna maupun komposisinya.
Kepala Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta, Indra Rimawan, mengatakan kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama antara mitra museum yaitu pihak sentra industri ’Borneo Lentera Prima’, ’Dinamis’, para kolektor serta museum Provinsi Kalimantan Barat.
Di tempat ‘kelahirannya’, tajau tersebut dilahirkan di tungku naga atau dragon klin yang telah dikenal sejak abad ke-10 Masehi di negara asalnya, Cina daratan. Mungkin itu pula yang menyebabkan barang-barang keramik tradisional yang diproduksi secara tidak disengaja, mempunyai kemiripan dengan keramik-keramik Cina yang dibuat pada masa Dinasti Tang, Song, Yuan dan Ming, meliputi abad ke tujuh sampai ke tujuhbelas Masehi.
Umumnya kemiripan terdapat pada cara pengolahan bahan, pembentukan, warna glasir, hiasan dan hasil pembakaran.
Tajau naga tersebut diproduksi di dusun Sa Liung yang terletak 6 kilometer di selatan Kota Singkawang. Saliung sendiri berarti padang pasir dan di Singkawang tempat tersebut sangat terkenal. Di Saliung para pengerajin hingga kini masih bekerja membuat tajau. Pabrik mereka menjadi unik, sebab diprakarsai para imigran keturunan Tionghoa yang konon datang dari Cina Selatan. Mereka pulalah yang membangun tungku-tungku raksasa untuk membakar keramik pada suhu yang tinggi.
Kurator Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta, Sonny Chr. Wibisono, mengungkapkan, tajau mas adalah sebuah nama yang dipilih Liaw Hai Leng menamai usaha kerajinan keramik peninggalan ayahnya Liaw A Tjiu. Saat dipegang bapaknya, pabrik ini bernama Yu Hua, artinya tempayan emas. Dikisahkan ayahnya saat itu berusia 18 tahun ketika tiba di Singkawang dari Kanton (Guangdong). Liaw A Tjiu mengikuti kawan-kawannya sesama imigran Cina di kampung Sa Liung pinggiran Kota Singkawang setelah tahu tempat itu banyak mengandung bahan baku melimpah dan cocok untuk membuat keramik. Semula Liaw A Tjiu masih awam soal perkeramikan, pada saat itu ia pun magang denga kawannya yang mendirikan pabrik keramik pertama di Singkawang.
Naniek H Wibisono dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, mengatakan, berbagai bentuk keramik tiruan yang betul-betul seindah aslinya ini dapat diperoleh di
Singkawang. Bahkan kalau mau tempayan antik yang sudah aus atau retak-retak, juga dapat mereka lakukan.
Tentu saja dengan harga yang jauh di bawah harga keramik kuno yang
sesungguhnya. Bahkan jika mau memperbaiki keramik antik yang
sudah aus, mereka sanggup menghipnotisnya menjadi indah
kembali.
Dituturkan, keramik tersebut didirikan oleh para imigran Cina yang datang di Indonesia pada tahun 1927-30an di Indonesia dari Cina Selatan (Canton) melalui Singapura dan bekerja
sebagai kuli pelabuhan. □
*Diterbitkan Borneo Tribune, 4 Juli 2007
Masa Depan Media Cetak di Narrative Reporting
Hari ini hampir tak ada warga yang mendapatkan breaking news dari suratkabar. Mereka mendapatkannya kebanyakan dari televisi, radio, SMS, telepon atau internet. Tantangan baru muncul: Bagaimana suratkabar bertahan bila mereka tak bisa lagi mengandalkan kebaruan? Tulis Andreas Harsono, ketua Yayasan Pantau, yang pernah belajar genre Narrative Reporting ini di Nieman Fellowship on Journalism di Universitas Harvard serta co-editor buku Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat.
Aku termasuk orang yang beruntung, sejak 18-29 Juni bersama 16 teman, dua diantaranya aktivis non government organization (NGO) dari Inggris dan Thailand serta sisanya wartawan baik dari Jakarta maupun dari luar mengikuti kursus narrative reporting atau di Indonesia populer dengan jurnalisme sastrawi. Meskipun namanya ada sastrawi, bukan berarti tulisan yang dihasilkan seperti 'nyiur melambai'. Kekuatan tulisan jenis ini pada detail, fakta sangat disucikan yang membedakan dari tulisan lain ia seperti film. Ada adegan, alur atau plot ada tokoh yang memiliki karakter.
Genre ini termasuk baru di Indonesia, yayasan Pantau yang diketua Andreas Harsono memperkenalkannya pertama kali di Indonesia tahun 2001. Termasuk membuat majalah Pantau yang juga menampilkan model tulisan jurnalisme sastrawi.
Genre yang muncul di Amerika ini pertama kali diperkenalkan oleh Tom Wolfe pada awal 1970an. "Wolfe mengenalkan sebuah genre baru: New Journalism. Ia mengawinkan disiplin keras dalam jurnalisme dengan daya pikat sastra. Ibarat novel tapi faktual. Genre ini mensyaratkan liputan dalam namun memikat. Wolfe bikin riset dengan materi-materi lama guna menawarkan jawaban ini," tulis Andreas dalam weblognya.
Ada dua tenaga pengajar kami, minggu pertama diampu oleh Janet Steele dari George Washington University. Ia menulis buku Wars Within. Janet masuk pada minggu pertama, 18-23 Juni, sisanya oleh Andreas Harsono.
Pola kursus yang diberikan oleh Pantau cukup unik. Hari pertama kami masuk kelas dan hari berikutnya 'kosong'. Kosong sebenarnya hanya istilah saja sebab kami dijejali dengan tugas baik membuat narasi maupun membaca buku, artikel, berita dan semacamnya.
Bermacam-macam buku dan bahan tulisan diberikan kepada kami selama dua minggu untuk dilahap. Diantaranya : "Kegusaran Tom Wolfe" oleh Septiawan Santana Kurnia; "The Girl of the Year" oleh Tom Wolfe; "Dua Jam Bersama Hasan Tiro" oleh Arif Zulkifli; "A Boy Who Was Like a Flower" oleh Anthony Shadid.
Kami juga diminta membaca "Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft" oleh Chik Rini; "In Cold Blood" karya Truman Capote dan kliping dari harian The New York Times pada 1959 "Wealthy Family, 3 of Family Slain." Selanjutnya "The Armies of the Night" karya Norman Mailer; "Tikungan Terakhir" (laporan kematian wartawan Rudi Singgih) oleh Agus Sopian; "It's an Honor" oleh Jimmy Breslin.
Literatur itu masih belum berakhir, sebab masih ada "The Elements of Journalism" karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel; "Media Bias in Covering the Tsunami in Aceh" karya Andreas Harsono. "The Ethnic Origins of Religious Conflict in North Maluku Province, 1999-2000" oleh Chris Wilson, "Indonesia's Unknown War and the Lineages of Violence in West Kalimantan" oleh Jamie S. Davidson dan Douglas Kammen, "Patterns of Collective Violence in Indonesia (1990-2003)" oleh Ashutosh Varhney, Rizal Panggabean, Mohammad Zulfan Tadjoeddin.
Ada juga karya narasi terbaik abad 20 versi Amerika: "Hiroshima" oleh John Hersey; Kemudian tentu saja "Menyusuri Jejak John 'Hiroshima' Hersey"oleh Bimo Nugroho.
"Orang-orang di Tiro" karya Linda Christanty; "Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan" karya Alfian Hamzah; "Republik Indonesia Kilometer Nol" karya Andreas Harsono; "Tujuh Kriteria Sumber Anonim" serta "Ten Tips for Better Interviews."
Janet masih menambah bahan bacaan kami "Violence Changer Fortunes of Storied Bagdad Street" karya Sudarman Raghavan; For New, Indonesian Fisherman are Forced to Abandon-Be Sea Official Must Move Quickly to Revive Industry" karya Advocates Say dan Ellen Nakashima dan "Soldiers Face Neglact Frustation at Army's Top Medical Facility" karya Dana Priest dan Anne Hill.
Model pelajaran di kelas diberikan dengan santai. Kami misalnya bisa sambil minum kopi atau air mineral sambil mendengarkan Janet atau Andreas memberikan bahan atau sesekali menyela. "Silahkan tak setuju dengan pendapat kami. Kalau ada keberatan, kritik atau masukan silahkan potong saja," kata Andreas saat pembukaan kelas.
Boleh dibilang yang ikut kali ini miniatur Indonesia-Andreas menyebutnya Indophit. Ada yang Flores, Batam, Jakarta, Jawa Timur bahkan dari luar negeri London dan Thailand serta media-media Jakarta baik cetak maupun TV. Suasana diskusi sangat akrab. Tak segan-segan diantara peserta memberikan tanggapan atau kritik kepada sesama peserta. Bahkan kepada pemateri, baik Andreas Harsono maupun Janet Stelle.
Selain belajar di kelas, kami juga diminta membaca dan mengerjakan tugas. Bahan bacaannya, alamak. Selain tebal-tebal juga ada yang bahasa Inggris. Kami adalah angkatan ke-12 peserta jurnalisme satrawi yang digelar yayasan Pantau.
Diantara peserta seperti yang ditulis Dayu Pratiwi adalah, Aditya Heru Wardhana, yang bekerja sebagai wartawan video di Trans TV. Ia juga aktif di Aliansi Jurnalis Independen cabang Jakarta. Kemudian ada Adriana Sri Adhiati, saat ini bekerja untuk Down to Earth sebagai researcher, campaigner and websiter co-administrator (part-time) di London. Peserta lainnya adalah Asep Mohammad BS yang sejak tahun 2000 bergabung dengan majalah Swa sebagai wartawan. Ia yang bulan lalu wawancara dengan sejumlah pengusaha Pontianak diantaranya Asia untuk masuk dalam profil di majalahnya.
Kemudian Edy Purnomo, wartawan cukup senior alumnus sastra Universitas Indonesia tahun 1991 pernah bekerja di harian Bisnis Indonesia, harian Indonesia Shangbao dan kini di Investor Daily.
Dari Sinar Harapan ada Emmy Kuswandari, bergabung di harian sore Sinar Harapan sejak 2001. dari Surabaya ada Endah Imawati, bekerja di media sejak tahun 1994 di tabloid anak-anak Hoplaa. Baru tahun 2000 menulis untuk harian Surya Surabaya (masih dalam satu grup).
Sementara dari ujung timur ada Frans Obon, sejak 1994 bekerja di mingguan Dian. Bergabung dengan harian Flores Pos sejak didirikan tahun 1999 oleh Yayasan Dian dan menjabat sebagai Manajer Liputan sampai 2003. Sekarang Pak Frans, teman-teman menyebutnya menjabat sebagai Manajer Produksi (Pracetak) yang juga mengajar di Universitas Flores di Ende.
Teman sekampung Frans Obon adalah Frans S. Imung yang berkarir di Jakarta. Ia kini editor di majalah Investor. Hillarius U Gani, dari Media Indonesia.
Lisa Suroso, adalah wartawan cum aktivis kemanusiaan. Ia bekerja sebagai redaktur majalah Suara Baru dan pengurus pusat Perhimpunan Indonesia Tionghoa bagian humas dan banyak terlibat dalam kegiatan sosial organisasinya dalam bencana alam di Aceh dan Flores.
Dari negeri jiran ada Rozzana Ahmad Rony, dia bekerja sebagai wartawan di Utusan Sarawak, sebelumnya tahun 2003-2006 bergabung di Sarawak Tribune. Ia juga anggota Kuching Journalists Association dan anggota Sarawak Women for Women Society.
Said Abdullah Dahlawi, dari Batam. Kini i awartawan di harian Sijori Mandiri. Kemudian ada Sunaryo Adhiatmoko, mulai menulis sejak di bangku SMA, belajar jurnalistik di Institut Ilmu Sosial Politik IISIP Jakarta. Ia aktif menulis untuk Lembar Ziswaf di Republika yang terbit setiap Jumat selain sebagai Public Relations Manajer Dompet Dhuafa Republika.
Dua nama terakhir adalah Yayan Ahdiat, yang kini redaktur pelaksana View Magazine. Dan, Yuyun Wahyuningrum, mahasiswa penerima beasiswa di Universitas Mahidol, Thailand mengambil jurusan Human Rights and Social Development.
Orang Pantau jelas tak diragukan memberikan pelayanan dan bantuan kepada kami. Misalnya mereka mengantar jika ingin berkunjung ke suatu tempat atau kesulitan melakukan tugas. Kesempatan ini jelas saja kami pergunakan sebaik mungkin, apalagi dari daerah dan ingin tahu banyak Jakarta. Aku dan Rozzana serta Frans Obon dan Endah Imawati kemudian melihat-lihat museum Fatahillah (museum Sejarah, museum Wayang dan museum Kesenian dan Keramik, museum Textil). Tentu saja didampingi Dayu yang hapal Jakarta. Jika tidak maka dipastikan kami akan nyasar. Kami juga menyempatkan diri mengunjungi Monumen Nasional, Taman Mini Indonesia Indah dan Ancol. Bahasa kadang menjadi persoalan, namun karena tekatnya mau belajar maka semua bisa diatasi.
"Maaf setelah dua jam bahasa Indonesia saya sudah habis. Jadi saya harus bahasa Inggris," kata Janet sambil mengangkat kedua tangannya saat di kelas dan teman-teman peserta kursus pun langsung cekikan.
"Saya kira bahase English, ternyata bahasa Indonesia. Dibilang ngerti ya ngerti, dibilang tak ngerti ya tak ngerti. Sebab saya harus terjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris kemudian ke Melayu," kata Nana kepada teman-teman saat kami perpisahan di samping kolam renang apartemen Andreas Harsono.
Bahan-bahan bacaan juga sudah disiapkan di kamar kost masing-masing, untuk yang di Jakarta bahkan diantar di alamat masing-masing. Model pelayanan seperti ini aku pikir harus ditiru oleh tempat kini aku bekerja, Harian Borneo Tribune. *
Dipublikasikan Borneo Tribune, 28 Juni 2007
Jakarta-Pontianak, Nasi Melda dan Kemponan
Dua minggu di Jakarta ikut Pelatihan Kursus Jurnalisme Sastrawi angkatan ke-12 membuat lidahku rindu juga dengan masakan Pontianak. Sejak pesawat landing dari bandara Soekarno-Hatta, pukul 18.05 sudah terbayang sejumlah masakan khas ‘kota hantu’.
Melintas satu persatu seperti adengan film. Nasi Melda di Jalan Tanjungpura, nasi goreng Fatimah, nasi goreng Iin, nasi Akwang, nasi Cap Cai, daging merah, kwee cap, mie tiaw Jalan Penjara. Jreng...mampir juga ikan pedas, sotong pangkong, mak Etek dan lain-lain.
”Wah ini bisa kemponan,” pikirku dalam hati dan menjilat telapak tanganku.
Di Pontianak ada tradisi kemponan (Melayu)-sumpanan Dayak Kanayatn. Artinya jika kita ditawari makan oleh orang lain, maka pamali jika ditolak. Jika tak makan maka cukup jamah saja, ambil sedikit masukkan dalam mulut atau minimal oleskan di leher. Jika lupa, jilat telapak tangan.
Kalau melanggar pamali tersebut, resikonya besar. Yang bersangkutan akan mendapat bala’ atau musibah. Bisa kecelakaan atau jika kerja yang menggunakan senjata tajam bisa terluka. Gawat to, apalagi jika menggunakan pesawat. Bisa dibayangkan jatuh dalam ketinggian sekian ribu kaki maka hancurlah raga berkeping-keping.
Soal kemponan aku pernah mengalaminya atau mungkin hanya kebetulan. Saat masih menjadi Kepala Biro Harian Equator di Mempawah, aku menawari Erik, teman yang biasa main di biro minum jus.
”Ndak pak Akim, saye udah. Masih kenyang,” tolaknya.
Tak lama kami memacu sepeda motor mau ke Sungai Pinyuh untuk liputan santai. Tiba-tiba di depan kantor Bupati, des...tahu-tahu kami sudah terjungkal dan terseret tak kurang 3 meter dan ditahan trotoar. Kami ditabrak ibu-ibu yang buru-buru mau nonton pertandingan futsal. ”Tadi saye memang tak cempalet. Mungkin kemponen,” kata Erik meringis.
Ah...aku membuang perasaan itu jauh-jauh. Yang aku pikirkan hanya makanan-makanan itu. Tiba sekitar pukul 19.20 aku segera cari taxi. Tawar-menawar sebentar dan sepakat Rp 50 ribu sampai rumah dengan dua penumpang satu arah. Sementara teman seperjalananku, Rozanna-Nana dari Utusan Serawak naik taxi bersama Arsiyadi Alexander. Sebab mereka mesti cari hotel dan sebagainya.
Karena kecapekan, tiba di rumah langsung tidur. Terjaga sekitar pukul 10 lewat. Itupun setelah ada orang gedor-gedor pintu depan. Setelah dibuka ternyata Otoh, adikku dari kampung yang hantarkan sepeda motor ke rumah.
Saat terbangun, tayangan-tayangan kuliner itu kembali muncul. ”Wah ini tak bisa dibiarkan. Lagi pula perut memang sudah keroncongan,”.
Cuci muka sebentar, beres-beres sedikit. Aku memacu sepeda motorku. Pilihan beragam dan semuanya enak dan gurih. Namun akhirnya di tengah perjalanan aku arahkan ke Jalan Tanjungpura di rumah makan Melda. Temanku, Nana, akan tertawa jika disebut rumah makan. Sebab di Malaysia tak lazim. Lazimnya restoran.
Lima menit, sepotong ayam goreng berikut nasi hangat, telor asin beres. Peluh keluar saking nikmat dan pedasnya cabe. Ayam goreng Melda memang khas. Ia digoreng garing dan kering. Sementara kuahnya, mak nyus...
Ah...tenang sudah. Aku pikir baik juga kalau pengalaman ini ditulis dalam weblog. Beberapa orang yang kukenal juga ternyata mengalami hal yang sama soal makanan. Misalnya Bang Andreas Harsono. Ia bercerita saat study di Nieman Fellowship on Journalism di Universitas Harvard ia merindukan es campur.
Sapariah Harsono-Mbak Arie, istrinya juga ternyata pernah mengalami hal yang sama. Ia merindukan bakwan Sungai Jawi. Weleh...weleh.
”Aduh kalau ke Pontianak sore bisa makan nasi goreng Siti Fatimah, kemudian malamnya makan nasi Melda,” kata Mbak Arie saat aku dan Nana ngobrol tentang Pontianak di apartemennya di lantai 18. ”Kalau lempok durian di kita lebih asli tak dicampur tepung ya Kim,” kata dia makin jadi dan matanya menerawang.
”Kata mas Andreas Pontianak itu kota makanan ya bang Akim. Banyak makanan disana. Kapan-kapan mau dech disana,”kata Dayu suatu waktu.
Ya...Pontianak memang kota makanan.
Malam ini pun, pukul 02.10 mulai melintas lagi jenis-jenis makanan itu. Kini yang lewat pengkang di Peniti, saos kepiting Peniti dan Batu Ampar, mie goreng Singkawang, kelapa bakar, saos dan goreng udang Jembatan Kuning Mempawah, sop tulang sapi depan keraton Amantubillah. Dan sebagainya....makin parah ini. *
Mengintip Batavia Tempo Doeloe di Museum Sejarah
Tempat-tempat ini menjadi saksi bisu Jakarta tempo doeloe. Bahkan dari zaman pra sejarah dan kerajaan-kerajaan tertua di Indonesia. Mulai dari kerajaan Tarumanegara di Bogor serta kerajaan Sunda-Padjajaran.
’Dipandu’ Dayu Pratiwi dari Pantau serta ditemani Rozanna Roni dari Utusan Sarawak aku berkesempatan mengunjungi museum-museum tersebut, kecuali Museum Nasional. Museum Sejarah sangat menarik. Sebab selain situs-situs dan alat yang digunakan zaman pra sejarah, artefak kerajaan-kerajaan tua di Indonesia, zaman Vereenigde Oostindische Compagnie (Perserikatan Perusahaan Hindia Timur) atau VOC yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602, persenjataan, lemari dan meja raksasa peninggalan Belanda hingga miniatur angkotnya ’Si Doel Anak Betawi’. Di bagian bawah ada lima buah penjara bawah tanah untuk tempat mengurung para penjahat dan pemberontak menurut versi VOC.
Bangunan ini dulunya adalah Stadhuis atau Balai Kota Batavia. Batu pertama diletakkan oleh noni Belanda usia 8 tahun pada 25 Januari 1707. Ia memang bukan orang sembarangan, Petronella Wilhelmina van Hoorn, putri Gubernur Hindia Belanda saat itu, van Hoorn.
Jika ditilik, maka bangunan ini sudah berusia 3 abad. Meskipun demikian lantainya yang terbuat dari kayu ukuran lebar 40 sentimeter masih terlihat bersih dan kokoh. Tak ada tanda-tanda rayap yang memakannya. Begitupun dengan dinding beton yang menopangnya juga masih kokoh. Sangat berbeda dengan kebanyakan bangunan made in ’anak negeri’ saat ini. Sebulan saja habis dikerjakan sudah banyak yang retas-retas.
Museum sejarah Jakarta terletak di Kawasan Kota Tua Jakarta. Tepatnya di depan Taman Fatahillah Jakarta Kota. Untuk masuk disini kita dipungut bea Rp2.000 per orang. Kita bisa menikmati mebel antik dengan ukuran-ukuran besar yang dibuat abad 17-19. Uniknya mebel itu perpaduan gaya Eropa, Cina dan Indonesia sekaligus. Yang cukup populer adalah meriam si Jagur, dimana buntutnya berupa kepalan tangan dengan menjepit ibu jari diantara telunjuk dan jari tengah. Bangunan bertingkat dan memiliki ruang lebar ini diperkirakan seluas lebih dari 1.300 meter persegi. Konon, bangunan balaikota itu serupa dengan Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.
Dilihat dari luar, bangunan ini menampakkan keangkuhannya. Gagah dan besar. Pintunya terbuat dari kayu jati dengan tinggi 3 meter dan tebal 10 sentimeter. Dicat merah, ia menjadi kokoh dan kuat. ”Ini tak tembus peluru,” komentar Nana.
Secara umum gedung ini terbagi tiga. Bagian dalam dan masuk dari depan terdapat berbagai koleksi pra sejarah, batu zaman neolitikum, peninggalan kerajaan Purnawarman, uang logam dan timbangan barang zaman portugis. Di bagian atas terdapat koleksi mebel-mebel tua. Ada lemari, cermin, lemari arsip, meja bahkan lukisan pengadilan Sulaiman atau Salomo.
Yang cukup membuat bulu kuduk merinding adalah bangunan penjara bawah tanah di bagian belakang gedung. Ada lima pintu dengan jeruji disana. Penjara tersebut berbentuk setengah lingkaran gelap dan pengap. Bahkan aroma kencing dan bau tubuh manusia yang tak mandi juga tercium. ”Bayangkan kalau dipenjara di sini. Ventilasinya hanya dari depan belum lagi kalau penghuninya banyak,” celoteh Dayu.
Membuat seram adalah bola-bola besi yang seukuran bola voli dan ada juga bagian yang kecil. Bola-bola yang tak kurang dari 100 kilogram tersebut dipinggirnya terdapat semacam cantolan-cantolan. Cantolan itu digunakan untuk mengaitkan rantai di kaki para tahanan Belanda. Jangankan diangkat, digeser saja bola besi itu tak bergeming. Siapa yang ditahan di ruang yang muat untuk 80 orang itu? Mereka adalah garong, perampok dan maling. Bahkan Gubernur Jenderal Belanda di Sri Langka, Petrus Vuyst sempat ditahan disitu karena ia gila.Lebih kejam lagi, tulis Tri Harijono di Harian Kompas terbitan 11 Juni 2001, tempat tersebut menjadi tempat tahanan 500 orang Cina. Mereka ditahan karena memberontak terhadap VOC pada tahun 1740. Setiap hari para tahanan yang kurus kering itu diberi makan bubur encer dan air tawar. Kemudian satu per satu dieksekusi dengan cara digantung di depan gedung. Sementara para pejabatnya menyaksikan dari balkon di lantai dua.
Menurut literatur yang pernah aku baca, di sebelah timur pintu utama museum Fatahillah, terdapat sebuah kafe yang bernama Kafe Museum. Kafe ini merupakan sarana pelengkap dari Museum Fatahillah dengan memanfaatkan gedung tua yang berarsitektur kolonial, sehingga penataan interiornya pun disesuaikan yang dilengkapi dengan pernak-pernik yang mengingatkan kita pada masa kolonial.
Menarik dari kafe ini adalah daftar menu makanan yang bernuansa Betawi tempo doeloe yang dipengaruhi beberapa budaya, seperti Cina, Arab dan Belanda. Mulai dari portuguese steak, ong tjai ing, kwee tiaw, tuna sandwich "van zeulen", "east indies" chef's, soup "Ali Martak", sampai ikan bawal "si pitung" dan pisang goreng " Nyai Dasima" tersedia di kafe ini. Namun menurut informasi harganya sangat mahal. Jangan khawatir masih banyak jajanan yang dijajakan pedagang kaki lima yang harganya terjangkau.
Dipublikasikan Borneo Tribune, 2 Juli 2007
